4 Solusi BNPP Hindari Dampak Banjir Sabah di Nunukan

Tergenangnya 4 Kecamatan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara akibat dampak Banjir Sabah (Malysia), menjadi perhatian serius dari Pemerintah Pusat. Hari ini , Senin (10/4/2017), Badan Nasional Pengelola Perbatasan melakukan Tinjauan Langsung di Desa Atap,Kecamatan Sembakung yang mengalami dampak terparah dari Banjir dari Sabah tersebut. Adapun ke 4 kecamatan yang terkena dampak banjir Sabah adalah: Kecamatan. Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Sembakung dan Kecamatan Sembakung Atulai.

Asisten Deputi Pengelolaan Potensi Kawasan Darat -BNPP, Tavipiyono yang memimpin rombongan tersebut menuturkan bahwa karena musibah yang dalami oleh masyarakat di 4 Kecamatan itu adalah Banjir Kiriman maka untuk menyelesaikanya adalah dengan menemukan alternatif yang komperhensif. Sehingga menurutnya, kedepan tak kan ada lagi masyarakat yang akan terkena dampak banjir sabah tersebut, jika terjadi lagi.

“Kita ini meninjau langsung kesini adalah untuk mengumpulkan data ,baik data yang kami lihat langsung maupun dari informasi,sehingga setelah pulang dari tempat ini kami akan langsung sigap dan melakukan rapat untuk menentukan seperti apa jenis insfratruktur yang akan dibangun di daerah ini dan akan kami usulkan untuk menjadi program prioritas, sehingga  kedepan musibah yang sudah dialami oleh masyarakat secara berturut-turut ini tidak terjadi lagi,” tutur Pria yang akrab dipanggil Avip itu.

Avip tidak dapat memastikan secara rinci tentang program pembangunan insfratruktur seperti apa yang akan direalisasikan Pemerintah dalam waktu dekat,namun secara garis besar Avip menyebutkan bahwa program yang sesuai dilokasi 4 Kecamatan tersebut seperti Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Relokasi, Pembuatan Jalan dan Pembuatan Siring di Tepi Sungai Sembakung.

“Dari yang kami lihat langsung dan aspirasi yang kami terima, memang kami telah temukan solusi alternatif seperti Pembangunan PLTA, Pembuatan Siring di tepi sungai Sembakung, Relokasi Warga dan Pembuatan Jalan. Karena titik-titik dari area lokasi yang akan ditempati untuk Relokasi juga harus dilewati oleh Jalan sebagai akses warga dalam berkativitas,” paparnya.

Terkait musibah yang dialami oleh masyarakat di 4 Kecamatan tersebut adalah berawal dari banjir yang dialirkan oleh sungai-sungai di wilayah Nabawan, Sabah dan bermuara di Sungai Sembakung (Indonesia), Avip menuturkan bahwa bencana ini bukan bencana biasa, maka untuk menyelesaikanya perlu juga perlu langkah-langkah bilateral yang tentu ada mekanisme yang telah diatur dalam undang-undang maupun peraturan pembicaraan antar negara.

Dalam kesempatan yang sama, Avip juga sangat mengapresiasi kinerja Pemerintah Kabupaten Nunukan yang menurutnya sudah sangat sigap dan sistematis didalam penanggulangan bencana.

“Saya lihat sendiri bahwa teman-teman dari Pemkab Nunukan sangat siap,sangat sigap dan sangat sistematis dalam sebuah penanggulangan bencana. Kita berharap kedepan teman-teman sudah tidak menanggulangi bencana lagi karena musibah sudah tidak terjadi,” ujarnya.

Ketika disinggung bahwa 4 Kecamatan yang tergenang banjir tersebut adalah 4 dari 6 Kecamatan yang menuntut Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabudaya Perbatasan,Avip menjelaskan bahwa Pembentukan DOB memang saat ini masih moratorium, namun dirinya berpesan agar semua elemen masyarakat di 6 Kecamatan tersebut bersiap-siap apabila moratorium DOB dibuka.

“Pembentukan DOB sampai saat ini masih tertutup oleh moratorium. Namun saya berpesan agar kawan-kawan disini selalu bersiap-siap,karena jangan sampai saat moratorium DOB nanti terbuka, kawan-kawan justru lalai dan lengah,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR