Ini 9 Poin Deklarasi Damai Antara Kim Jong Un dengan Moon Jae-in

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un seusai menandatangani Deklarasi Perdamaian di Semenanjung Korea (27/4) di Zona Demiliterisasi, Pannmunjeom.(Reuters)

Ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea yang terjadi sejak 1950 sepertinya akan segera berahir. Hari ini Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, bersepakat meneken “Deklarasi Panmunjeom untuk Perdamaian, Kemakmuran dan Unifikasi Semenanjung Korea”. Deklarasi perdamaian di Semenanjung Korea tersebut, ditandatangani di Gedung Perdamaian, Zona Demiliterisasi, Panmunjeom, Korea Selatan, Jumat (27/4/2018).

Pertemuan kedua pemimpin tersebut bagi masyarakat Korea adalah asa yang sebelumnya tak pernah terjadi. Berbagai media internasional menggambarkan betapa rakyat kedua negara tersebut bergembira menatap kedua pemimpinya dalam acara yang dijadwalkan mulai pukul 09.30 waktu Korea Selatan, atau pukul 06.30 WIB tersebut.

Pertemuan bersejarah Kim dan Moon diawali dengan kehadiran keduanya di Garis Demarkasi Militer (MDL) di Zona Demiliterisasi yang dijaga ketat oleh militer dari masing-masing negara. Kim, untuk pertama kalinya sejak menjabat pada 2011, melangkahkan kaki melintasi MDL.

Kim mengaku sangat gembira dapat bertemu dengan Moon. “Saya tidak bisa membendung kegembiraan saya ketika kami bertemu di sini, di tempat bersejarah ini. Juga sangat mengharukan bahwa Anda, Bapak Presiden (Moon), telah datang ke Panmunjom, garis demarkasi, untuk menyambut saya,” ungkap Kim.

Moon memperlihatkan ekspresi bersemangat ketika bertemu Kim. Ia mengatakan, mereka menghadapi momen bersejarah bagi kedua negara. Setelah momen tersebut, keduanya pun segera menuju gedung tempat dilaksanakannya KTT Korut-Korsel yang dijuluki “Rumah Perdamaian”.

Pembicaraan resmi dimulai sekitar pukul 10:15 pagi waktu setempat. Dilansir dari Reuters, Kim dan Moon dalam deklarasinya bertekad agar Korea Selatan dan Utara berdamai dan tidak ada lagi melakukan permusuhan dan peperangan.

“Pada tahun ini yang menandai gencatan 65 tahun senjata, Selatan dan Utara bersepakat untuk menggelar pertemuan tiga pihak melibatkan kedua Korea dan Amerika Serikat atau pertemuan empat pihak, yang melibatkan dua Korea, AS dan Cina dengan pemahaman menyatakan perang berakhir dan menerapkan rezim perdamaian yang permanen dan solid,” begitu bunyi deklarasi yang ditandatangani kedua pemimpin Korea seperti dilansir Korea Times, Jumat (27/4/2018).

Dalam pidatonya, Moon mengatakan, ”Pembekuan program senjata nuklir untuk serangan penduluan menjadi awal yang berharga untuk denuklirisasi penuh Semenanjung Korea.”

Sementara Kim mengatakan,”Saya berusaha agar perjanjian yang kita buat hari ini tidak berakhir seperti dulu melainkan membuahkan hasil bagus.”

Ada sembilan poin Deklarasi yang ditandatangani oleh Kim dan Moon. Diantaranya tentang kedua negara Korea tersebut bersepakat menghentikan tindakan permusuhan di darat, laut dan udara hingga keikut sertaan Korsel dan Korut didalam Pesta Olah Raga Asian Games 2018 yang akan digelar di Indonesia.

Adapun Deklarasi kedua pemimpin tersebut sebagai berikut :
– Kedua Korea setuju menyatakan Perang Korea berakhir, yang telah tertunda sejak gencatan senjata 1953.

– Kedua Korea setuju untuk menyatakan denuklirisasi sebagai tujuan bersama dan bekerja sama menjadikan Semenanjung Korea bebas nuklir.

– Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, akan mengunjungi Pyongyang pada musim gugur nanti.

– Kedua Korea bersepakat menghentikan tindakan permusuhan di darat, laut dan udara.

– Mulai 1 Mei, kedua Korea berhenti menyiarkan propaganda lintas perbatasan.

– Kedua Korea bersepakat membentuk kantor penghubung di Gaeseong, Korea Utara.

– Pada 15 Agustus 2018, kedua Korea akan memulai reuni keluarga yang terpisah sejak perang Korea meletus.

– Kedua Korea setuju menghubungkan jalur kereta api lintas Korea di Pantai Timur.

– Kedua Korea berpartisipasi pada Asian Game 2018.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR