Abai dalam Peliputan, AJI Surabaya Gelar Safety Journalist

Seringkali masih dijumpai jurnalis masih abai dalam menjalankan tugasnya. Tak pernah memperhatikan dirinya ketika meliput di daerah bencana. Ali-alih meliput di daerah bencana. Meliput demonstrasi yang rawan ricuh, masih juga banyak jurnalis yang kurang memperhatikan safety first sebagai sarana pelindung diri.

 

Hal tersebut merupakan satu rangkaian ungkapan Tim Rescuer Basarnas Kota Surabaya, Johan Saptahadi dalam acara “Safety Journalist Training”, kerjasama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya dan Marketing Operasional Region V Surabaya, PT Pertamina, Kamis dan Jumat 20-21 April 2017.  

 

Johan juga menghimbau, seorang jurnalis ketika menjalankan tugas peliputan bencana maupun demonstrasi. Selayaknya harus menggunakan helm, rompi, dan kartu identitas.

 

“Banyak kita jumpai jurnalis merasa berani dalam melakukan peliputan ini. Padahal daerah bencana maupun konflik, siapapun berpotensi menjadi korban, “ ujar Johan.

 

Menurut Johan, siapapun termasuk jurnalis sendiri,  punya potensi 50 persen menjadi korban dalam pelaksanan liputan. Maka seorang jurnalis sangat diperlukan untuk melengkapi alat pelindung diri yang biasa dikenal APD.  

 

“Terutama kesiapan fisik tak kalah penting dengan kesiapan alat. Jika jurnalis tidak siap fisik menempuh medan berat dalam lokasi bencana sebaiknya tidak usah ikut pencarian, “ tegas Johan.

 

Sebagai ilustrasi, lalu Johan menjelaskan, jika  jurnalis tidak terbiasa dengan latihan fisik seperti jogging atau berolahraga, maka liputan mengikuti pencarian bersama tim SAR jangan berharap mampu sampai pada titik pencarian. Justru yang terjadi akan merepotkan tim SAR sendiri.

 

“Kita ini tugasnya sedang berupaya mencari korban. Justru malah harus ngurusi wartawan yang ikut dalam tim yang sedang sakit atau tidak kuat dalam perjalanan pencarian. Alih-alih meliput pencarian korban malah jadi korban, “ ungkap Johan.

 

Selain APD, kata Johan, terpenting selama menjalankan peliputan di daerah bencana adalah surat tugas, baik dari media tempat jurnalis bekerja maupun dari organisasi bernaung. Surat tugas ini bisa ditunjukkan pada tim SAR sebagai data siapa saja personel yang ada di lokasi itu.

 

“Ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk jika terjadi bencana, tim SAR akan segera melakukan evakuasi dengan data tersebut, “ jelas Johan.

Sementara dengan digelarnya acara Safety Journalist Training, Ketua AJI Surabaya, Prato Wardoyo mengatakan, karena jurnalis mempunyai tugas penting untuk melaporkan kejadian atau peristiwa yang diliput. Maka dengan pembekalan safety first, jurnalis akan menyampaikan berita yang diliput sampai ke masyarakat.

 

“Jika jurnalis tidak selamat dalam peliputan, berita yang diliput otomatis tidak bisa sampai ke masyarakat. Distorsi ini yang coba diputus oleh Pertamina, “ ungkap Prasto.

 

Ia juga menambahkan, bagi AJI Surabaya APD adalah kebutuhan mendasar jurnalis. Untuk itu pemenuhannya harus dilakukan oleh perusahaan media. Karena dalam proses peliputan, tidak ada berita seharga nyawa.

 

Acara yang diikuti jurnalis baik dari jurnalis anggota AJI maupun non anggota tersebut, juga diisi materi penanganan medis awal (first aid training), praktik langsung dari tim dokter Pertamina dan simulasi cara penanganan bencana kebakaran.

 

Acara tersebut bisa menarik, karena hadirnya jurnalis asal Ambon, Insany Syabarwaty. Kedatangannya untuk berbagi pengalaman cara meliput di daerah rawan konflik dan rawan bencana. Sebab, sebagaimana diketahui, Ambon merupakan daerah yang rawan keduanya itu.

 

Menurut Insany, Ambon selain daerah rawan konflik agama, sara, adat, unjuk rasa, bahkan politik yang mudah disulut. Ambon juga daerah rawan bencana. Sering terjadi longsor maupun banjir. Maka, kata Insany, jurnalis diharapkan bisa memahami situasi lingkungan dan pokok masalah sehingga tidak menimbulkan konflik dan menjadi korban.

 

“Jurnalis harus mencari daerah yang aman dalam situasi konflik, dalam situasi netral dan jangan arogan. Sebab masyarakat bisa berubah situasi ketika dalam konflik,” kata Insany.

 

Insany juga mengatakan bahwa ketika jurnalis bertugas liputan di daerah konflik harus hati-hati dengan alat kerja, baik kamera maupun handycamp.

 

“Jika tidak hati-hati dengan alat kerja bisa menjadi ancaman bagi wartawan. Jangan arogan dengan nama wartawan dalam daerah konflik sebab bisa menjadi ancaman nyawa. Tidak ada berita seharga nyawa,” imbuh jurnalis televisi ini.

 

Ia juga meminta, dalam lingkungan bencana, jurnalis harus memikirkan kondisi keamanannya sendiri. Mulai dari perlengkapan keamanan dan lokasi liputan.

 

“Jangan sampai liputan kebakaran dan ingin mendapatkan gambar yang bagus harus mengambil gambar dari dekat. Ternyata alas kaki yang digunakan tidak aman. Akibatnya terjadi luka hingga menyebabkan sakit,” kata jurnalis yang juga di AJI Ambon ini.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR