Adian Napitupulu Ajak Kader PDIP Bendung Isu SARA  

Tak seorang pun kuasa memilih takdirnya. Saat lahir, tak ada yang bisa memilih etnik atau agama. Karena itu, jangan pernah persoalkan Suku Agama dan Ras (SARA). Demikian dikatakan anggota DPR RI, Adian Napitupulu saat menggelar roadshow  bersama jajaran pengurus PDI Perjuangan Kabupaten Bogor di Tenjolaya.

“Saat ini, begitu banyak fenomena kemunduran wawasan kebangsaan seperti isu SARA (Suku Agama Ras) yang berpotensi memecah belah kebangsaan,” ujarnya didepan pengurus desa dan kecamatan partai berlambang banteng moncong putih di Balaidesa, Cinangneng, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, sebagaimana dikutip indeksberita.com baru-baru ini.

Hal ini menjadi alasan anggota DPR RI mengimbau para kader dan pemilihnya membendung isu SARA.

“Empat pilar kebangsaan yang harus dijiwai yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Pilar itu adalah perlambang sebuat “tiang penyangga” yang kokoh. Jadi keempat pilar itulah yang menjadi tonggak kuat yang menopang Kebangsaan Indonesia dengan penuh keteguhan,” tuturnya.

Adian Napitupulu juga menyampaikan, meningkatnya isu SARA tidak lepas dengan Pilkada DKI Jakarta.  “Memenangkan Pilkada DKI Jakarta bukan hanya memenangkan Ahok semata. Tapi, juga memenangkan demokrasi. Jika Ahok kalah, maka Isu SARA lah yang menang dan demokrasi kalah,” tandas anggota Fraksi DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Masih kata Adian, isu SARA disebutnya merupakan penodaan demokrasi. Sementara demokrasi sendiri dibangun dari kesetaraan dan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan justru menjadi kelemahan.

“Isu SARA tidak pernah bisa membangun demokrasi. Demokrasi itu dibangun oleh kesetaraan. Demokrasi melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai lawan,” ucapnya.

Adian menegaskan ideologi Pancasila adalah ideologi negara paling tepat. “Bawa pergi kemanapun ideologi Pancasila. Jiwa Pancasila mengajak seluruh masyarakat untuk mengawasi gerakan-gerakan yang ingin memecah belah bangsa, mengganti ideologi bangsa dan merongrong pemerintahan sah hasil demokrasi. Jadi, tidak bedanya patut dikategorikan sebagai gerakan makar bagi mereka yang anti Pancasila,” pungkas Adian.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR