AE Kawilarang, Pendiri Pasukan Komando yang Nyaris Terlupakan

Dalam buku yang berisi daftar nama jenderal TNI AD yang disusun Harsja W Bachtiar (terbit 1988), tidak akan kita temukan nama Alex Evert Kawilarang (AE Kawilarang) meskipun AE Kawilarang sempat menjabat Panglima Siliwangi (1951-1956). Hal itu bisa terjadi, karena pangkat terakhir AE Kawilarang sampai purnawirawan, hanya kolonel. Panglima Siliwangi pada awal tahun 1950-an, memang pos untuk kolonel.

AE Kawilarang menyandang pangkat kolonel, sejak Desember 1949, saat menjadi Panglima (setingkat Kodam) di Medan. Mungkin Kawilarang sendiri tidak menduga, inilah pangkat tertinggi yang bisa diraihnya dalam karier militernya. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, setidaknya pangkat Kawilarang setara bintang dua, terlebih dia sempat menjadi Panglima di Siliwangi, satuan yang sangat legendaris. Terlebih Kawilarang sempat masuk nominasi calon KSAD, namun AH Nasution yang lebih beruntung, rekan sesama kadet pada KMA (Akademi Militer) Bandung. Artinya sebenarnya ada peluang bagi Kawilarang untuk memperoleh pangkat lebih tinggi, hanya nasib berbicara lain.

Bandingkan dengan Nasution, yang keberuntungannya terus berlanjut, yang bintangnya di pundak masih ditambah saat injury time, menjadi bintang lima (jenderal besar), sesuatu yang sebenarnya tidak umum dalam tradisi TNI.

Namun dari segi nama besar, AE Kawilarang tak tertandingi. Setidaknya setahun sekali nama Kawilarang akan selalu membahana, pada  setiap peringatan hari jadi Korps Baret Merah (Kopassus, 16 April). Tidak semua perwira bisa memperoleh kemuliaan seperti itu. Di sisi lain banyak nama jenderal di negeri kita, yang namanya hilang begitu saja setelah pensiun,  tinggal kerabat dekat dan tetangganya saja yang mungkin masih mengenalnya.

Merintis Pasukan Komando

Nama AE Kawilarang memang sudah identik dengan Korps Baret Merah. Bila Kolonel (Purn) Zulkifli Lubis biasa disebut sebagai “Bapak Intelijen Indonesia”, maka Kawilarang adalah “Bapak Pasukan Komando”. Kebetulan keduanya (Kawilarang dan Lubis) pernah sama-sama tinggal di Inrehab (instalasi rehabilitasi), semacam camp bagi para tapol, pada awal tahun 1960-an, karena mereka dianggap terlibat dalam gerakan PRRI/Permesta.

Apa yang kita kenal sebagai Kopassus sekarang, awalnya adalah satuan kecil (setingkat kompi), yang dirintis Kawilarang, saat dirinya menjadi Panglima Tentara dan Teritorium Siliwangi (kini Kodam Siliwangi). Dalam upaya mewujudkan satuan Komando, Kawilarang banyak dibantu oleh Mayor M Idjon Djanbi, seorang mantan anggota pasukan Belanda.

Latar belakang Djanbi dan bagaimana Djanbi bisa ditemukan oleh Kawilarang, ibarat kisah fiksi. Djanbi sudah hidup tenang sebagai petani bunga di Lembang, usai pensiun dini sebagai anggota pasukan khusus Belanda. Singkatnya, melalui pendekatan tersendiri, akhirnya Djanbi bersedia diaktifkan kembali sebagai militer, dengan posisi sebagai Komandan (sekaligus pelatih utama) embrio pasukan khusus tersebut.

Pertemuan Kawilarang dengan Letkol Ign Slamet Rijadi dalam operasi penumpasan RMS di Maluku, pada tahun 1950, juga merupakan momen penting. Keduanya sepakat untuk membentuk pasukan komando usai operasi penumpasan RMS kelak, namun sayang Slamet Rijadi keburu gugur dalam operasi ini. Namun ide pembentukan pasukan khusus tetap disimpan Kawilarang, hingga kesempatan itu datang, saat dirinya diangkat sebagai Panglima Siliwangi.

Sebelum operasi di Maluku, AE Kawilarang sempat mendirikan satuan yang disebut Kipasko (Kompi Pasukan Komando), saat dirinya menjadi Panglima (setingkat) Divisi di Medan. Satuan ini dilatih khusus layaknya pasukan komando. Ironisnya, pasukan ini di kemudian hari berhadap-hadapan dengan pasukan RPKAD karena sebagian eks anggota Kipasko (bentukan Kawilarang) itu, bergabung dalam gerakan PRRI/Permesta.

Menjadi Orang Biasa 

Sudah disebut sekilas di atas, bahwa Kawilarang sempat menjadi tahanan politik, karena keterlibatan Kawilarang dalam gerakan separatis PRRI/Permesta. Karena keterlibatan ini pula, Kawilarang harus rela meninggalkan karier militernya yang cemerlang.

Rasanya periode ini adalah masa-masa yang berat bagi Kawilarang. Begitulah perjalanan nasib anak manusia, yang tidak selamanya selalu berjalan sesuai kehendak kita. Kawilarang baru bebas pada tahun 1966, di hari-hari pertama era Orde Baru. Oleh rezim yang baru, mantan tapol PRRI/Permesta seperti Kawilarang, disalurkan pada badan usaha milik negara, agar mereka tetap memperoleh nafkah.

Setelah itu namanya seperti menghilang. Yang  muncul justru salah seorang anaknya, yaitu Edwin Kawilarang, pengusaha yang dekat dengan keluarga Cendana (Soeharto). Edwin dikenal dekat dengan Bambang Tri, karena sudah berteman sejak remaja, sehingga Edwin sempat menjadi pimpinan di Bimantara, kelompok bisnis yang didirikan Bambang Tri. Tampaknya Kawilarang sangat menikmati statusnya sebagai orang biasa, terlebih saat usia mulai merambat senja.

Kembali ke Cijantung

Nama Kawilarang sekonyong-konyong muncul kembali saat dirinya diundang  ke Markas Komando Kopassus, di Cijantung, Jakarta Timur, saat Kopassus dipimpin Mayjen TNI Syahrir MS (Akmil 1971). Pada peringatan hari jadi Kopassus ke 47 (16 April 1999), diselenggarakan  upacara khusus menetapkan Kawilarang sebagai warga kehormatan Korps Baret Merah. Setelah usianya hampir 80 tahun, akhirnya tiba juga pengakuan secara resmi dari kesatuan yang dulu digagas dan dilahirkannya.

Perlu diingatkan kembali, hari yang selama ini diperingati sebagai hari jadi Kopassus, yaitu 16 April 1952, adalah berdasarkan surat perintah yang ditandatangani oleh AE Kawilarang pada tanggal tersebut, selaku Pangdam Siliwangi. Sekitar setahun setelah memperoleh gelar sebagai warga kehormatan Baret Merah, Kawilarang meninggal dunia, tepatnya pada 6 Juni 2000. Untung saja Kopassus sudah sempat memberi gelar kehormatan itu, kalau tidak, bukan hanya Kopassus, bangsa ini mungkin akan menyesal selamanya, karena tidak sempat mengakui secara resmi peran Kawilarang, di saat Kawilarang masih hidup.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Saat ini menjadi editor buku

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR