Akmil 1992 Masuk Posisi Pati

kiri-kanan: Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo KSAD Jenderal Mulyono, KSAL Laksamana Ade Supandi, dan KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto, saat raker dengan komisi I DPR (6/2/2017). FOTO: INDRA KUSUMA

Tanpa sempat diberitakan media mainstream, ternyata ada perkembangan menarik dalam mutasi TNI baru-baru ini, yaitu masuknya lulusan Akmil 1992 dalam posisi pati, atas nama Brigjen TNI Richard Tampubolon.

Benar Brigjen Richard Tampubolon baru saja diangkat sebagai Wakil Danjen Kopassus, tepatnya pada akhir Februari 2017. Dengan promosi ini Brigjen Richard adalah generasi termuda TNI  yang masuk jajaran pati.

Pada sekitar bulan Juni atau Juli tahun lalu, saya pernah menulis di media ini, bahwa “the rising stars” dari Akmil 1992 Kol Inf  Kunto Arief Wibowo, yang saat itu baru saja diangkat sebagai Danrem Palembang. Ramalan saya ternyata meleset, saya kira  Kol Inf Kunto Arief yang akan. menembus posisi Brigjen dari Akmil 1992, mengingat posisi dia sebagai anak dari  Jenderal TNI Purn Try Sutrisno. Saat saya menulis  itu, nama Richard sama sekali di luar perkiraan saya, karena masih menjabat sebagai Komandan Grup 3 Kopassus, sementara Kunto sudah Danrem, artinya dari segi jabatan Kunto lebih senior.

Selepas menjabat Komandan Grup 3, rupanya Richard memperoleh penugasan pada dua tempat, yang masing-masing hanya dalam hitungan bulan, yaitu Komandan Rindam VI Mulawarman dan Komandan Korem Sibolga (Sumut). Hanya berkisar empat bulan sebagai Danrem Sibolga, Richard langsung dipromosikan sebagai Wadanjen Kopassus. Sementara Kolonel Kunto di posisi  sekarang, sudah hampir setahun.

Memang terkesan surprised kalau Richard Tampubolon yang ternyata menembus posisi Brigjen. Artinya dia memang benar-benar berprestasi, bukan karena unsur nepotisme. Promosi bagi Richard juga mendahului seniornya dari Akmil 1991, yang sudah lebih lama menjabat Danrem, seperti Kol Inf Saleh Mustafa (Danrem Palu) dan Kol Inf Tandyo Budi (Danrem Pare-pare).

Richard bahkan juga mendahului Kol Inf Nyoman Cantiasa, lulusan terbaik Akmil 1990, yang juga berasal dari Baret Merah. Kolonel Nyoman baru saja melepas jabatan Danrem Bali, dan sedang bersiap sebagai Danrem Biak. Danrem Biak adalah pos untuk Brigjen, berarti kemungkinan baru bulan depan Kolonel Nyoman naik pangkat menjadi Brigjen.

Sebenarnya ini promosi yang sangat terlambat bagi Kolonel Nyoman. Dahulu saya perkirakan Nyoman akan menjadi Wakil Danjen Kopassus, ternyata kini malah diisi yuniornya dari Akmil 1992.

Lulusan Akmil 1992 lain yang kemungkinan segera mendapat promosi adalah Kol Inf Maruli Simanjuntak, kini Danrem Solo. Sebelumnya Maruli bertugas di Kopassus (Komandan Grup 2 di Solo) dan Paspampres (Komandan Grup A). Sekadar tambahan informasi Maruli adalah menantu dari Luhut B Panjaitan. Sejak masa Orde Baru sudah hal biasa promosi perwira dengan mempertimbangkan asal-usul keluarga, dan masih berlaku sampai sekarang.

Bagi segenap perwira lulusan Akmil, ada yang disebut “garis tangan”, maksudnya jabatan atau pangkat semuanya sudah menjadi suratan nasib. Jadi kalau ada yang berlatar belakang “orang kuat” ya itu bagian dari nasib baik. Mereka umumnya sudah mahfum adanya realitas seperti itu, jadi tidak perlu terlalu dipermasalahkan, yang penting kita kerja sebaik-baiknya, siapa tahu nasib baik akan berpihak pada kita.

Seperti perwira lulusan Akmil 1993 yang sangat menonjol lama yaitu Kol Inf Budiman Imam (kini Asops Kasdam V/Brawijaya), adalah putera dari Jenderal Edy Sudrajat. Jabatan yang pernah dipegang Imam sebelumnya adalah Komandan Yonif Linuf 328/Kujang II Kostrad dan Komandan Brigif 15/Kujang. Yang menggantikan Imam sebagai Komandan Brigif 15/Kujang adalah Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo,  putera dari mantan Pangdam III/Siliwangi Mayjend TNI (Purn) Tayo Tarmadi (Akmil 1966).

 

arisPenulis Aris Santoso, Pengamat militer (terutama Angkatan Darat), saat ini sebagai editor buku

BAGIKAN

4 KOMENTAR

  1. saya rasa masalah promosi pati tni tidaklah harus patternya yg lebih senior dulu bisa saja junior yg duluan, karna saya sebagai anak tni au sudah sering melihat kejadian seperti ini di angkatan udara maupun angkatan lain, contoh ayah saya yg akabri udara 84 disalip oleh yg angkatan 86 pada saat itu yaitu kasau sekarang marsekal tni yuyu sutisna, dan ga ada pattern baku mengenai senior yg sudah menjabat lebih lama dr juniornya akan promosi lebih cepet. bapak harus sadari itu

TINGGALKAN KOMENTAR