Akmil 1994 Menembus Posisi Brigjen

Sekitar dua tahun lalu, saya pernah menulis soal munculnya lulusan Akmil 1992 yang masuk jabatan pati bintang satu (brigjen). Dalam mutasi baru-baru ini, fenomena yang sama kembali terjadi, ketika lulusan Akmil 1994 menembus pos bintang satu, atas nama Kol Inf Tri Budi Utomo.

Sedikit highlight tulisan terdahulu, ketika itu saya menyebut nama Brigjen Richard Tampubolon (kini mayjen, Kas Kogabwilhan) sebagai lulusan Akmil 1992 yang menembus posisi bintang satu, saat ditempatkan sebagai Wakil Danjen Kopassus. Namun ada seorang pembaca yang mengoreksi, bahwa ternyata ada perwira lulusan Akmil 1994 lain, yang sebenarnya sudah lebih dulu dipromosikan yaitu Kol Inf Wachid Apriliyanto, yang saat itu menjabat Danrem Malang, kemudian diangkat sebagai Direktur A BIA.

Namun dalam perkembangannya memang sedikit berbeda, Richard Tampubolon kini sudah bintang dua, sementara Wachid Apriliyanto masih bintang satu. Memang begitulah perjalanan karir seorang perwira, selain prestasi dan kinerja, ada unsur nasib baik juga. Dalam mutasi baru-baru ini, nama Wachid Apriliyanto juga muncul, yaitu pergeseran jabatan dalam pangkat yang sama, dari Staf Khusus KSAD menjadi Irdam XVIII/Kasuari.

Sekadar tambahan informasi, jabatan Irdam sendiri secara tradisional merupakan pos untuk kolonel, namun dengan adanya validasi organisasi, menjadi jabatan brigjen. Dengan demikian, dalam markas kodam kini ada posisi empat jenderal, sementara sebelumnya hanya dua (pangdam dan kasdam). Dua jabatan pati lain, selain pangdam dan kasdam adalah, irdam dan kepala kelompok staf ahli (kapoksahli) pangdam. Dua jabatan terakhir diberikan untuk pati berpangkat brigjen.

Kembali ke soal promosi bagi Akmil 1994. Kol Inf Tri Budi Utomo sendiri tetap pada posisinya yang lama, yakni selaku Danrem 052/Wijayakrama (Jakarta Barat) Kodam Jaya, jadi tidak bergeser kemana-mana. Namun yang penting dicatat, Korem 052 memperoleh tindakan validasi organisasi, menjadi Korem tipe A, dimana perwira yang memimpinnya adalah seorang brigjen.

Seperti penjelasan sekilas di atas, bahwa dalam karier seorang perwira, selain ditentukan prestasi dan kinerja, nasib baik juga ikut berperan. Begitulah yang terjadi pada Kolonel Tri Budi Utomo,z soal prestasi dan kinerja tidak perlu diragukan lagi. Kolonel Tri Budi adalah seorang perwira Baret Merah (Kopassus), dengan jabatan terakhir di Kopassus sebagai Komandan Satgultor-81. Di jajaran Kopassus, perwira yang dipercaya sebagai Dangultor, adalah perwira terpilih. Setelah itu dipindahkan ke Paspampres, sebagai Komandan Grup A, yang bertanggungjawab atas pengamanan pribadi presiden beserta keluarga.

Keberuntungan dimaksud adalah, ketika satuan yang dipimpinnya ditetapkan sebagai Korem tipe A. Sehingga secara otomatis, pangkat Kolonel Tri sebentar lagi akan dinaikkan menjadi brigjen, tanpa harus repot-repot pindah ke kantor lain. Dengan promosinya ini, Kolonel Tri telah memberi jalan bagi masuknya lulusan Akmil 1994 yang lain pada posisi brigjen. Dengan demikian proses alih generasi terus berjalan.

Bersamaan dengan promosi Kolonel Tri Budi, ikut dipromosikan pula dua Komandan Satgultor-81 terdahulu, masing-masing adalah Kol Inf Sidharta Wisnu Graha (Akmil 1991) dan Kol Inf Thevi Angandowa Zebua (Akmil 1993). Kol Inf Sidharta ditetapkan sebagai Komandan Korem 051/Wijayakarta (Jakarta Timur), sementara Kol Inf Thevi ditetapkan sebagai Komandan Pusdiklatpassus Kopassus, di Batujajar.

Secara kebetulan, dua satuan terakhir tersebut (Korem 051 dan Komandan Pusdik), adalah juga satuan yang memperoleh validasi organisasi, dari satuan yang sebelumnya dipimpin kolonel, menjadi satuan yang dipimpin pati (brigjen). Validasi organisasi pada (khususnya) Komandan Pusdiklatpassus menjadi catatan penting, dengan begitu ada tiga pos pati di eselon pimpinan Korps Baret Merah, yaitu Danjen Kopassus, Wadanjen Kopassus dan komandan pendidikan.

Kemudian soal validasi dua korem di atas, yakni Korem 051 dan Korem 052, memberi petunjuk pada kita soal adanya tipologi korem, yakni korem tipe A dan korem tipe B. Sebagaimana sudah dijelaskan, korem tipe A dipimpin seorang brigjen, sementara tipe B tetap dipimpin kolonel, sebagaimana yang kita kenal selama ini. Kini semua korem di luar Jawa, masuk kategori tipe A, kecuali di Aceh. Begitulah kebijakan kiwari pimpinan TNI terkait status korem, dan sebagian satuan yang lain.

 

Penulis Aris Santoso, dikenal sebagai pengamat TNI da saat ini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR