ALMISBAT Nunukan Usulkan Nama Kedua Prajurit Yang Gugur di Sebatik Diabadikan Sebagai Nama Jalan

Tugu Perbatasan ikon Kota Sebatik (ilustrasi)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para Pahlawanya. Dan untuk menjadi Kusuma Bangsa, seseorang tak harus gugur ketika berperang menghadi penjajah. Mereka yang meninggal dalam tugas negara mengisi kemerdekaan demi kuatnya kedaulatan juga sangat layak disebut Pahlawan.

Demikian diungkapkan Sekretaris  Cabang  Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (ALMISBAT) Nunukan, Taufik Johan terkait meninggalnya 2 orang Prajurit Sat-Gas Pamtas RI-Malaysia akibat kecelakaan tunggal yang mereka alami setelah membagikan air bersih bagi Kafilah (peserta) Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Mobil tangki air TNI yang dikemudikan oleh Prada Akbar Hosen dan Pratu Harun pada hari Selasa 26 Februari 2020, oleng dan keluar jalan saat menanjak di jalan depan tugu garuda perbatasan, Aji Kuning, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).

“Mereka berada di Pulau Sebatik itu karena penugasan sebagai anggota satuan tugas pengaman perbatasan yang tujuanya adalah demi kokohnya kedaulatan. Maka sangat layak apabila mereka diberi gelar Pahlawan,” tuturnya, Rabu (27/2/2020).

Terlebih kecelakaan yang mereka alami terjadi ketika hendak mensuplay air bersih ke pondok – pondok Kafilah dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), menurut Taufik mereka tak hanya sekedar kusuma bangsa namun juga Syuhada. Untuk itu Taufik berharap agar pengorbanan kedua Prajurit tersebut tak hanya sekedar menjadi obyek kabar duka semata.

Lebih jauh Taufik mengajak masyarakat terutama generasi muda Nunukan agar dapat meneladani semangat Prada Akbar Hosen dan Pratu Harun tersebut dalam mengaktualisasikan nasionalisme Perbatasan.

“Dan jangan sampai nama mereka hanya sekedar menjadi buah bibir saat ini saja apalagi lenyap ditelan masa,” imbuhnya.

Demi mengenang jasa dan sebagai penghormatan atas gugurnya mereka, Taufik mengusulkan agar kedua nama Prajurit asal Padang dan Bojonegoro tersebut diabadikan sebagai nama jalan di Pulau Sebatik. Hal tersebut, ungkap Taufik, selain edukasi dalam mencintai tanah air dibenak masyarakat perbatasan, juga untuk menumbuhkan keterikatan emosional keluarga yang ditinggalkan dengan masyarakat Sebatik.

“Pengabadian nama mereka sebagai nama jalan menurut saya bukan sekedar dapat menghapus kesedihan pihak keluarga yang ditinggalkan namun akan ada kebanggaan mereka bahwasanya Prada Budi dan Pratu Hosen tersebut gugur sebagai Pahlawian. Selain itu, akan tercipta sambung rasa antara pihak keluarga dengan masyarakat Numukan terutama warga Sebatik, ” tandasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR