Annisa Hasibuan: New York Fashion Week Menggunakan Dana Sponsorship, Bukan Dana Umrah First Travel

Annisa Hasibuan desainer dan istri dari Andhika Surachman pengusaha First Travel, memberikan keterangan pers di (9/8/2017) di Jakarta (foto Budi ACE)

Ramai soal First Travel, menyeret nama Annisa Hasibuan, desainer busana muslim, yang sukses menampilkan sejumlah rancangannya dalam New York Fashion Week 2017. Betapa tidak, ia dituduh menggunakan dana jamaah umrah First Travel, miliknya dan suaminya, Andhika Surachman, yang juga disebu-sebut menggelapkan dana 25 ribuan jamaah umrah, untuk ikut dalam New York Fashion Week.

“Saya tegaskan, saya tidak menggunakan dana jamaah umroh untuk kepentingan pribadi. Saya mengikuti New York Fashion Week menggunakan dana sponsorship, bukan dana jamaah umrah kami,” tandas Annisa dengan suara bergetar dihadapan puluhan wartawan, bersama suaminya, didampingi Lawyer Dr. H. Eggi Sudjana, usia menemui Sekjend  Kementerian Agama dikantornya, pada Rabu lalu (9/8).

Annisa, mengemukakan bahwa tertundanya keberangkatan jamaah umrah oleh First Travel milik suaminya itu, bukan karena dana yang disetorkan digunakan untuk kepentingan bisnis lain, tapi semata-mata karena alasan teknis, antara lain soal visa para jamaah, yang belum dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Saudi Arabia.

“Kami punya itikad baik untuk tetap memberangkatkan para jamaah umrah, Insya Allah setelah musim haji selesai, atau sekitar bulan November tahun ini,” terang Annisa.

Sementara itu, melalui surat resmi firma hukum Eggi Sudjana & Partners, dengan nomor: 003/ESO-FT/AS/VIII/2017, yang ditujukan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, up. Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh, perihal: Sanggahan terhadap keputusan Menteri Agama Republik Indonesia  nomor 589 tahun 2017, tentang penjatuhan sanksi administratif pencabutan izin penyelenggaraan PT First Anugerah Karya Wisata, sebagai penyelenggara perjalanan ibadah umrah.

Lebih jauh seperti yang termaktub dalam Surat Sanggahannya tersebut, Eggi menegaskan bahwa, kliennya, First Travel, pada April 2017, kembali mengalami kendala pengurusan visa.  Menurutnya, dengan langkah cepat mengganti maskapai penerbangan dengan harapan agar pengurusan visa dipermudah, namun terlebih dahulu diberitahukan kepada jamaah umrah, akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 2.500.00,- (Dua juta lima ratus ribu rupiah).

Ditambahkannya, bahwa First Travel pada awal Mei 2017, telah menjadwalkan ulang untuk memberangkatkan jamaah umrah setiap hari. Namun oada tanggal 6 – 10 Mei tersebut, terjadi kendala error pada sistem ‘mofa’, sehingga jamaah mengalami reschedule atau penjadwalan ulang.

Namun, sejumlah jamaah memaksakan diri menuju bandara untuk tetap diberangkatkan, padahal sudah diumumkan kepada jamaah adanya penundaan. Akibatnya mereka menumpui dibandara.

“Berdasarkan berbagai fakta hukum yang ada, seharusnya pemerintah memberikan kesematan kepada klien kami, untuk memberangkatkan jamaah umrah yang tertunda, bukan malah membekukan izin operasionalnya,” tukas Eggi.

Eggy berharap pemerintah akan berpihak pada First Travel yang tahun 2017 telah memberangkatkan 50.000 jamaah umroh darinkalangan menengah bawah, dengan harga Rp 14.300.000,- per orang.

Selama 8 tahun membangun First Travel, baik Andhika Surachman maupun istrinya Annisa, mengaku bahwa mereka sungguh-sungguh berpihak pada kalangan menengah bawah. Sehingga, merekalah satu-satunya travel yang tahun 2017 ini paling murah kngkosh umrah-nya.

“Apa saya salah jika aedikit mendapatkan keuntungan. Apakah saya salah sebagian keuntungan itupun juga untuk menggaji karyawan, untuk biaya kehidupan? Kalau dikatakan makan uang jamaah, yaa itu keuntungan sedikit  dari bisnis, karena tidak mungkin kami  kerja rodi,” ungkap Annisa dengan nada haru.

Sebagai seorang desainer yang diakui dikalangan Internasional, Annisa mengaku sangat terganggu dengan tudingan yang dilontarkan tanpa sebelumnya mengecek kebenarannya. “Untung saja, saya mendapat banyak dukungan dari teman-teman di luar negeri untuk tidak berhenti berkarya. Bahkan bukan Nopember ini saya diundang untuk menggelar karya saya di Abu Dhabi. Tapi saya belum memutuskan ikut atau tidak. Karena saya harus dampingi suami saya menuntaskan masalah ini,” tambahnya.

Selain dari luar negeri, dukungan dari dalam negeri juga diperoleh Annisa Hasibuan. Misalnya dari lembaga lembaga yang sudah mengajaknya kerja sama sejak jauh hari. “Tidak ada pembatalan kerja sama. Tapi kalau terjadi penurunan omset di beberapa butik, saya anggap wajar. Namanya juga usaha kadang naik dan kadang turun. Apalagi ekonomi kita sedang lesu,” ujar Annisa

Tentang banyaknya karyawan First Travel yang mengundurkan diri Annia juga menganggapnya sebagai hal yang biasa. “Saya tidak merasa kaget perusahaan ditinggalkan hampir 90 persen karyawannya. Jadi kalau ditinggal sampai 90 persen ‘No Problem’ bahkan dari sana saya jadi tau mana yang tulus dan mana yang tidak. Lagi pula saat saya memulai usaha First Travel, saya hanya berdua dengan suami saya. Jadi tidak kaget kalau harus memulai dari bawah lagi”, katanya percaya diri.

First Travel yang dijalankan oleh Annisa bersama  suaminya sejak tahun 2009 lalu adalah biro perjalanan umrah pertama di Indonesia yang memperkenalkan Umrah biaya Murah atau Rendah. First Travel sudah memberangkatkan ratusa ribu jemaah umroh. Untuk tahun 2016 lalu memberangkatkan 50.000 jemaah. Dan rencananya sesuai musim Haji akan memberangkatkan 25 jemaah lagi.

Namun dengan adanya pembekuan dari Kemenag, sementara mereka belum beroperasi. Pihak Kemenag, sebagai disampaikan oleh Eggi Sudjana, memita waktu selama satu minggu untuk meninjau kembali kasus ini.

“Semoga setelah satu minggu akan ada titik terang dari pihak kemenag. Jika tidak maka kami akan tempuh jalur hukum untuk memperoleh keadilan,” katanya penuh semangat.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR