Aspek Pendidikan dalam Karir Perwira TNI

Mulai akhir Agustus hingga minggu pertama September ini, seluruh Kodam di Tanah Air sedang sibuk menyelenggarakan seleksi bagi calon pasis (perwira siswa) Seskoad (Sekolah Staf dan Komando TNI AD), tahun ajaran 2017. Seleksi ini diikuti sejumlah perwira menengah, yang umumnya berpangkat mayor. Sejak awal didirikan TNI sudah peduli pada aspek pendidikan perwira, selain untuk meningkatkan kompetensi, pendidikan juga berperan bagi pengembangan karir perwira di kemudian hari.

Setelah berkurangnya palagan (tempur), seperti Aceh dan Timor Leste, maka perlu dicari “palagan” lain untuk mematangkan perwira. Salah satu pilihannya adalah melalui jalur pendidikan. Untuk generasi yang lulus setelah tahun 2000, faktor pengalaman tempur dalam promosi mereka, menjadi kurang relevan lagi, karena palagan untuk itu memang sudah tidak ada. Palagan yang masih ada sifatnya sangat lunak, seperti operasi pamtas (pengamanan perbatasan) dan pasukan perdamaian di bawah PBB.

Meningkatkan Kompetensi

Dalam lingkungan internal TNI AD, ada narasi satire untuk menggambarkan betapa pentingnya jenjang pendidikan Seskoad. Kira-kira bunyinya: bila seorang perwira tidak kunjung lulus mengikuti tes Seskoad, bisa jadi dia tidak berbakat sebagai tentra, untuk itu disarankan mencari karir di bidang lain. Salah satu perwira yang sebenarnya memiliki prospek karir bagus, namun akhirnya hanya sampai pangkat kolonel, karena semasa aktif tidak sempat mengikuti Seskoad, adalah Hadi Utomo (Akmil 1970). Hadi Utomo terakhir dikenal sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, dan adik ipar dari mantan Presiden SBY.

Di masa Orde Baru, dengan hanya “berbekal” ijazah Seskoad, sudah cukup untuk menghantarkan perwira masuk jajaran pati (jenderal). Namun dengan berkembang pesatnya pengetahuan dan lingkungan yang berubah di masa sekarang, rasanya modalitas Seskoad kurang memadai. Di masa lalu, bagi perwira yang tidak sempat mengikuti Seskoad, bisa dikaryakan pada birokrasi sipil, seperti Hadi Utomo tersebut, yang sempat menjadi Kepala Satpol PP Pemprov DKI pada tahun 1990-an, selepas menjabat Dandim Jakarta Utara. Namun kini sudah tidak bisa lagi, mengingat fungsi kekaryaan sudah ditinggalkan TNI.

Bila nasib baik, modalitas Seskoad memang sudah bisa menghantarkan perwira menjadi pati, seperti dua mutasi TNI di bulan Agustus ini, ada beberapa perwira yang belum mengikuti Sesko TNI (kelanjutan dari Sesko angkatan), namun sudah masuk posisi jenderal. Namun faktor nasib baik tidak bisa dijadikan pegangan, karena pada promosi berikutnya dia mungkin akan dilewati perwira lain yang sudah mengikuti Sesko TNI dan Kursus Reguler Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional).

Bila kita perhatikan, perwira yang dipromosikan sebagai Danrem, umumnya sudah lulus Sesko TNI, atau magister dari perguruan tinggi umum. Ini baru pos Danrem bagi yang berpangkat kolonel. Untuk promosi pos Danrem dengan pangkat brigjen, seperti Danrem Yogya, Danrem Samarinda, Danrem Manado, Danrem Riau, dan seterusnya, latar belakang pendidikan lebih dipersyaratkan lagi.

Tidak heran dalam mempersiapkan mengikuti tes masuk Seskoad, para pamen mempersiapkan diri secara seksama. Saya sendiri memiliki pengalaman pribadi, seorang rekan di TNI AD, setelah tes masuk yang kesekian, baru lolos mengikuti pendidikan Seskoad. Ya benar, selepas berakhirnya era operasi tempur, faktor pendidikan (khususnya Seskoad) menjadi pendukung utama peningkatan karir.

Lembaga pendidikan semacam Seskoad atau Sesko TNI, memiliki peran strategis. Bahwa lembaga semacam itu, bukan sekedar meningkatkan pengetahuan perwira, namun yang lebih penting lagi adalah membentuk karakter para siswanya. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, itu sebabnya senantiasa dibutuhkan figur yang betul-betul kuat, untuk memandu TNI mengarungi pusaran waktu.

Tantangan zaman sekarang terbilang kompleks, antara lain masalah rendahnya kesejahteraan prajurit yang seolah tidak ada solusinya, kronisnya soal alutsista, provokasi negara tetangga, ancaman terorisme global, melanjutkan reformasi internal dan seterusnya. Lembaga pendidikan memiliki andil untuk mencetak figur perwira yang berkarakter dan berintegritas tinggi, untuk mengatasi masalah yang kompleks tersebut, agar jangan terlalu tergantung pada kebaikan pihak eksekutif (otoritas sipil).

Penyelematan Generasi

Kini yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana agar generasi baru TNI, selepas dari Seskoad, tidak terantuk pada masalah yang sama, yaitu politik (kekuasan) tentara di masa lalu, yang nyaris tanpa batas. Kita masih bisa berharap pada generasi ini, bahwa mereka akan memberi sumbangan pada perbaikan budaya dan politik di negeri ini.

Apakah harapan di atas terlalu muluk? Bisa jadi iya. Karena hampir di semua sektor, kita sudah carut-marut. Rasa kebanggaan kita sebagai bangsa berada pada titik nadir. Seolah-olah kita tidak ada acuan dan panduan dalam menjalankan hidup sehari-hari, waktu berjalan begitu saja, nyaris tanpa makna.

Salah satu bentuk sumbangan, yang mungkin bisa mereka berikan adalah, tunjukkan bahwa mereka tidak korup, dan sanggup melawan budaya korusi di negeri ini yang sudah sangat parah. Kiranya mereka bisa mengambil jarak dengan para politisi sipil, yang hanya memburu kekuasaan sesaat dan menumpuk materi. Mereja jangan sampai meniru perilaku perwira (tinggi) di masa Orba dulu, yang terlalu akrab dengan konglomerat, seperti Om Liem (almarhum).

aris

Aris Santoso
Pengamat militer, Lulusan jurusan sejarah FIB UI (d/h FSUI)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR