Atribut Penolakan Reklamasi Semakin Semarak di Desa Adat Legian

Maraknya atribut Penolakan Reklamasi di Desa Adat Legian (Foto Istimewa£

Pemasanga atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa terus berlanjut di Desa Adat Legian. Pemasangan kali ini dilakukan oleh ST. Wija Adnya, Banjar Pekandelan Legian Tengah pada hari Minggu, 4 Juni 2017.

Meraka memasang baliho dan mengibarkan bendera perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa diseputaran jalan utama Jl. Legian – Kuta, saat pemasangan atribut-atribut tersebut juga diiringi oleh gamelan tradisional bleganjur menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang sedang melintas.

Atribut penolakan reklamasi di Desa Adat LegianAtribut penolakan reklamasi di Desa Adat Legian

Pemasangan atribut-atribut ini diinisiasi oleh SOLID (Solidaritas Legian Peduli) beserta ST. Manggala Wijaya yang menaungi 3 STT se-Desa Adat Legian.

A.A. Putu Oka Hartawan, Koordinator SOLID menjelaskan bahwa aksi pemasangan tersebut merupakan kelanjutan dari komitmen para pemuda di Legian untuk terus menggelorakan semangat perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa, setelah seminggu sebelumnya diawali oleh ST. Jaya Dharma Banjar Legian Kelod.

“Beginilah cara kami, para pemuda di Legian menggelorakan semangat dalam perjuangan yang panjang ini”, ungkapnya di Badung, Bali (4/6).

Atribut dipasang oleh ST. Wija Adnya, Banjar Pekandelan Legian TengahAtribut dipasang oleh ST. Wija Adnya, Banjar Pekandelan Legian Tengah

Ketua ST. Wija Adnya, I Wayan Candra Adi Putra disela-sela pemasangan baliho menyampaikan bahwa para pemuda di Legian akan terus menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa dalam berbagai kesempatan apalagi Legian adalah salah satu daerah wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Ia juga berpesan pada para pemuda diwilayah lainnya untuk tetap semangat dan menjadi motor dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Para pemuda di Legian siap menjadi motor penggerak perjuangan dibawah komando pasubayan Desa Adat dan ForBALI”, pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR