Band Plisit Lepas Landas Dengan Single Lawas

Band Plisit boleh berbangga hati. Betapa tidak,  salah satu lagu dari band asal Palu ini, ‘Hanya Bisa Dirasa’, masuk dalam Album Kompilasi ‘Nosuara’, bersama 10 lagu lainnya, hasil seleksi 53 lagu yang dikirim oleh 53 musisi asal Jakarta,  Makassar,  Palu,  Toli-Toli dan Parigi Moutung.

Karya lawas Band Plisit,  yang dimotori oleh Umaryadi Tangkilisan (lead guitar),  Andri Lawido (drum) ,  Abdi (vox) dan Ryan (guitar) yang di re-make dan re-arrangements tersebut,  bahkan mendapat kehormatan dari Produser Rofand Milhard, untuk dirilis terlebih dahulu melalui digital store sebagai first hit single dari album yang “dikeroyok” oleh sejumlah label Jakarta dan Yogyakarta, yaitu: DSP Records, Kanaka Records,  Offbeat Musik Indonesia dan Euforia Records.

“Kadang terasa dekat

Walau Kita Tak pasti bersama

Semakin lama… Aku mencoba

Semakin Tak pasti cintamu“.

Petikan lirik lagu ‘Hanya Bisa Dirasa’, ciptaan Umaryadi tersebut, bagai mewakili perasaan cinta nan tulus pada segala zaman.

“Ini lagu lama kami,  dibuang sayang. Sebuah pencapaian waktu lajang dulu.  Alhamdulillah dari beberapa lagu yang kami kirim dalam proses seleksi,  ini yang dipilih produser, ” terang Adi, sapaan populer Umaryadi Tangkilisan, sang penggagas format musik Plisit.

Lebih jauh Adi menjelaskan bahwa terpilihnya lagu mereka dijadikan single pertama dari Album Kompilasi, ‘Nosuara’ (sebuah frase dalam bahasa Suku Kaili di Palu,  bermakna “bersuara”), karena secara teknis rekaman, karya mereka yang lebih dahulu siap saji.

Disamping itu tentu saja ada pertimbangan bisnis,  dimana produser melihat respon penonton saat Plisit tampil live dengan lagu ‘Hanya Bisa Dirasa’.

“Menurut saya, bahwa secara musikal,  tema,  lirik dan aransemen dalam lagu kami ini cukup mewakili selera masyarakat umum,” terang Abdi,  vokalis Plisit yang kini semakin memiliki kematangan pada teknik bernyanyi.

Mendengarkan berulang-ulang ‘Hanya Bisa Dirasa’ hasil remake tersebut,  rasanya tak ada perubahan yang siginifikan. Kecuali adanya penambahan suara keyboard dan drum loop pada part tertentu,  yang tidak merubah roh dalam karya yang sangat akamodatif terhadap karakter suara vokalisnya, Abdi.

Vokalis Abdi,  mengingatkan kita pada beberapa penyanyi ditanah air yang memiliki karakter kuat, sebut saja misalnya Armand Maulana ‘Gigi’. Meski tidak sepenuhnya sama,  namun karakter suara Abdi dalam dalam lagu ‘Hanya Bisa Dirasa’ ini,  memiliki nuansa yang mirip dengan Armand.

Sementara disektor drum,  Andri yang dikenal sebagai drummqer rock dengan pukulan mautnya yang keras dan rapat,  dalam karya ini,  nampak lebih menahan diri.  Ia cukup menjadi penjaga ritme yang indah namun konsisten bersama Rival Himran, pembetot bass Plisit, yang memiliki sejumlah proyek diluar Plisit.

Pada level guitar Adi ditemani Ryan, terasa berupaya menjaga nuansa Rock Ballads dalam pola rythme-nya. Adi sendiri,  memberikan sentuhan akustika sekaligus beraroma etnika,  dalam pilihan interlude-nya.  Simple, mengalun lembut namun notasinya berhasi mencuri perhatian dalam durasi lagu lebih kurang 4 menitan itu.

Dan jika ada signature Plisit dalam lagu ‘Hanya Bisa Dirasa’ ini, maka itu terasa pada karakter vokal Abdi pada nada tinggi yang setimpal dengan fill ini guitar Adi,  pada part yang proporsional dan setimpal dengan kedalaman lirik lagu.

Menoleh jauh kebelakang,  sekitar tahun 1998, disaat penikmat musik sedang menggandrungi band indie asap Yogyakarta Sheila on Seven,  Plisit lahir, sebagai sebuah band dengan prespektif yang cenderung berbeda – jika tak ingin disebut anti mainstream.

“Saat itu adalah momentum untuk memanggungkan karya sendiri, dan lepas dari bayang-bayang idola,” tukas Umaryadi Tangkilisan, yang populer dengan sapaan Adi Tangkilisan, Sang Arsitek Plisit.

Ketika itu, Band Plisit, lahir dari sebuah komunitas pengagum Iwan Fals,  bernama ‘Kantata’ diawal tahun 90-an.  Nama ini kemudian bermetamorfosis menjadi,  ‘Kantata Pleaseat’, ‘KNT’,  lalu melahirkan sebuah band idealis,  bernama Pleaseat. Kemudian ditulis,  Plisit, seperti saat ini.

Plisit,  memiliki formula yang berbeda dalam meramu konsep musikalnya. Bisa ditelusuri falam proses kreatifitas mereka,  rasanya seperti berpijak pada akar kultural dimana  Plisit lahir dan dibesarkan di Palu.  Namun imajinasi kreatifilnya,  jauh melanglang buana dalam atmosfer rock era 90-an.

Jika ‘Hanya Bisa Dirasa’,  mendapat tempat dihati penggemar Plisit,  boleh jadi karena karya ini bagai refleksi atas kehidupan cinta para personel PLISIT. Terasa emosionil, karenanya terdengar catchy dan menyentuh hati. Meski kita perlu meyakini,  karya ini tak pernah sengaja untuk dibuat menjadi easy listening.

Hari ini,  Nomor lawas itu pun dikemas kembali dalam ruang dan waktu yang berbeda, memasuki alur kekinian yang terasa lebih elektris ketimbang akustik.

Sebuah upaya PLISIT untuk lepas landas, pada sekala yang lebih luas, dalam pengertian, bukan sekadar menikmati romantisme masa lalu,  tapi menegaskan sebuah legasi kreatifitas yang tak pernah lekang oleh waktu.

“Semua ini untuk merawat proses panjang yang telah kami lewati.  Meski kita sadar, kini atmosfernya sudah berbeda,” simpul Papa Guma,  sapaan khas Anak Palu pada Umaryadi Tangkilisan, musisi yang tak hanya berkarya,  tapi juga menginspirasi musisi disekitarnya untuk terus berkarya bersama.

“Meski dengan cara,  gaya dan hasil yang beragam,  tidak seragam,” tukas Andri sang drummer ini, menimpali.

Lagu-lagu lainnya dalam Album Kompilasi Nosuara, kini dalam proses mixing mastering, juga akan menyusuo karya anak-anak Plisit, untuk dijual secara online melalui sejumlah store digital, seperti iTunes, Amazon Music, Langit Musik, Joox, Google Play, Deezer, Spotifi, Shazam, Xbox Music, Guvera dan digital store lainnya.

Akhirnya,  kita pun berharap,  pasca peluncuran seluruh karya dalam album tersebut,  sudah ada event organizer profesional yang siap memanggungkan mereka keliling tanah air.  Insya Allah

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR