Banjir Kiriman Dari Malaysia Genangi Ratusan Rumah di 4 Kecamatan di Nunukan

Lagi-lagi penderitaan harus dialami oleh masyarakat perbatasan yang tinggal berdekatan dengan wilayah negara Sabah- Malaysia. Belum hilang dari ingatan atas keluhan mereka karena minimnya insfratruktur dan pelayanan publik lainya, hari ini Sabtu (1/4/2017), ratusan rumah warga yang bermukim di Desa Labang, Desa Ubol Alung, Desa Panas, Desa Binter dan Desa-Desa lain di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara harus mengungsi ketempat yang lebih aman lantaran rumah mereka terendam oleh banjir kiriman dari Malaysia.

Dari pantauan, hingga berita ini diterbitkan, ratusan orang terutama ibu-ibu masih tampak terus membawa anak-anak dan barang-barang berharganya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya ketempat yang tidak terjangkau air atau ke dataran yang lebih tinggi. Mereka berupaya untuk menghindari genangan air yang sudah mencapai 1-2 meter tersebut.

 

Banjir itu sendiri berasal dari luapan Sungai Sembakung yang berhulu di Kampung Sepulut yang masuk dalam wilayah Kota Nabawan, Sabah – Malaysia. Belum lagi banjir yang melanda Kota Keningau (Sabah-red) dan wilayah-wilyah lain di Malaysia, akan tertumpah ke Sungai Sembakung dan pasti akan berimbas menggenangi pemukiman masyarakat di Indonesia, seperti Kecamatan Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Sembakung Atulai dan Kecamatan Sembakung.

Muryono, Kepala Desa Ubol Alung menuturkan bahwa banjir kiriman dari Malaysia memang secara rutin datang tiap 6 bulan sekali. Namun menurutnya, banjir yang terjadi kali ini tergolong sangat besar, genangan air sangat tinggi dan tidak terprediksi. Menurutnya, apabila di Lumbis Ogong yang termasuk kawasan hulu sungai, tinggi genangan air mencapai 1-2 meter, Ia memastikan bahwa rumah-rumah penduduk yang bermukim dihilir sungai akan terendam total.

“Bisasanya banjir dari wilayah Sebelah (Malaysia-red) memang tumpah di Sungai Sembakung, tapi untuk kali ini saya lihat tergolong luar biasa tinggi airnya. Jika di Lumbis Ogong yang biasanya air tidak setinggi sekarang lantas sekarang seperti ini, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib saudara-saudara kita di bawah hulu sungai ini,” tuturnya.

Luapan air yang begitu tinggi ke pemukiman tak hanya melumpuhkan sarana komunikasi karena antena pemancar telekomunikasi ikut tergenang, namun dikhawatirkan juga akan menimbulkan gejala penyakit karena dampak dari ikut sertanya limbah-limbah dari Malaysia dalam arus air tersebut.

“Hutan di Malaysia sudah habis dan berubah menjadi pemukiman dan perkebunan Kelapa Sawit, Tidak tertutup kemungkinan, limbah dari pengolahan sawit dan limbah pabrik-pabrik disana yang rawan penyakit  akan terbawa dalam banjir, dan tentunya akan berakibat pada kami terutama anak-anak disini,” pungkas Muryono.

Terpisah, Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid kepada indeksberita.com mengungkapkan bahwa dirinya sudah siaga serta tanggap dan akan secepatnya bertindak atas musibah yang dialami masyarakatnya tersebut. Laura menuturkan bahwa pihaknya telah mengirimkan Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ke lokasi sehingga segera dapat diketahui langkah-langkah apa yang akan diambil.

“Kita sudah turunkan tim ke Lokasi, sehingga akan segera kita ketahui langkah apa yang harus kita ambil sesuai Juknis (petunjuk teknis) Pemda. Intinya, kita akan segera bergerak cepat terkait keadaan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” tuturnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR