Banteng Sepuh Bogor Siap Kembali Unjuk Gigi

BOGOR – Puluhan kader gaek PDI Perjuangan Kota Bogor berkumpul di kediaman Rudi Harsa Tanaya. Meski usia tidak lagi muda, dan rata-rata berumur diatas 60 tahun, semangat banteng tua ini masih meletup-letup membahas persoalan politik dan isu terkini.

Bertempat di Perumahan Ciomas, Kabupaten Bogor, Sabtu (23/4/2016), dalam acara Temu Kangen yang digagas Suryana, tampak hadir para politisi PDI Perjuangan seperti mantan Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Rudi Harsa Tanaya, mantan Wakil Walikota Bogor M Sahid, mantan Anggota DPRD Kota Bogor periode 1999-2004 Tb Raflimukti, serta Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor Dadang Iskandar Danubrata dan Anggota DPR RI Komisi II, Diah Pitaloka.

Dalam sambutannya, Rudi Harsa Tanaya mengungkapkan rasa sukacitanya masih bisa berkumpul dengan sejawatnya semasa era PNI hingga saat terbidaninya PDI Perjuangan.

“Saya merasa senang masih bisa berkumpul dengan kawan-kawan lama, mulai dari rekan-rekan kader PNI hingga terkini menjadi PDI Perjuangan. Saya berharap, pertemuan ini bisa berkelanjutan dengan membuat forum komunitas PDI Perjuangan usia tua di tiap kecamatan. Setridaknya, meski usia sudah pada sepuh, kita masih bisa menyumbangkan pemikiran untuk kemajuan PDI Perjuangan,” tutur politisi yang pernah menjadi Ketua PDP PDI Perjuangan Jabar.

Sementara, Mantan Wakil Walikota Bogor, M Sahid masih terlihat berapi-api meski kini ia tengah sakit dan duduk di kursi roda.

“Biar usia tidak lagi muda, tapi semangat saya pantang tua. Saya masih bisa memberikan darma bakti sumbangsih pemikiran, baik untuk PDI Perjuangan juga kemajuan Kota Bogor,” tandas Sahid.

Pria yang pernah menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor ini kembali bercerita saat dirinya pernah menjadi korban produk hukum tebang pilih pada tahun 2005.

“Saya pernah ditahan 4 tahun karena tuduhan korupsi. Begitu rekan-rekan dewan Kota Bogor pada periode 1999-2004. Sementara, saat itu ada anggota dewan yang tidak pernah ditahan dan menjalani hukuman seperti saya. Bahkan di daerah lain. Karena, tuduhannya terkait kesalahan administrasi yang tidak sesuai peraturan pemerintah. Secara jujur saya merasa dizholimi. Tapi, itulah politik. Sampai saat ini saya tidak pernah merasa korupsi,” urainya.

Kendati diperlakukan tidak adil, sambung Sahid, semangatnya untuk bicara politik tidak redup.

“Semasa hayat masih di kandung badan, perjuangan harus terus berlanjut. Kalau pun fisik saya sudah tidak mumpuni. Tapi, pikiran dan gagasan saya masih menyala bak api yang terus berkobar-kobar,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, para kader gaek PDI Perjuangan ini juga berbagi pengalaman saat masa sulit di era Orde Baru. Kendati di zaman itu demokrasi terkebiri, para banteng sepuh ini mengatakan seragam, tetap melakukan perlawanan dan mengedepankan perjuangan pro rakyat kecil.

“Kita matang karena derita perjuangan. Kita matang karena tekanan di era Orde Baru. Kita juga tidak mundur walau terus mengalami ancaman di masa sebelum reformasi. Karena itu, kami minta kader muda PDI Perjuangan melanjutkan perjuangan kami, dan wajib bicara keberpihakan rakyat. Bukan berjuang atasnama pribadi,” tutup Johan Setiawan, salah satu tokoh PNI Kota Bogor. (eko)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR