BI Harus Lebih Antisipatif Menghadapi Penguatan USD

Kejutan- Kejutan atas Tekanan Kurs Sepanjang 2015

Bank Indonesia

Persoalan ekonomi sepanjang 2015 yang paling menonjol adalah betapa rentannya rupiah kita dalam menghadapi tekanan eksternal. BI sebagai bank sentral yang memiliki otoritas dalam menstabilkan kurs terasa kalah cepat dalam antisipasinya. Bahkan beberapa pengamat menyatakan bahwa BI terlalu konservatif disaat devisa kita mencukupi untuk bertindak lebih agresif.

Stabilitas kurs sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara langsung maupun secara tak langsung. Secara langsung jelas, nilai tukar yang rendah membuat beban ekonomi semakin besar, harga barang modal menjadi tinggi. Secara tidak langsung, kurs yang tertekan akan bisa membuat kepanikan, yang dijadikan komoditas politik untuk menekan pemerintah.

Nilai tukar per bulan
Nilai tukar per bulan

Dari tabel diatas tampak bahwa nilai tukar kita sangat fluktuatif perbedaan kurs tertinggi dan terendah mencapai 1969 poin, atau 15% dengan kurs tengah sepanjang tahun. Dan dari tabel grafik perubahan kurs di bawah ini akan tampak bahwa tindakan drastis BI dilakukan pada bulan Apri dan Oktober 2015, sehingga Rp. terapresiasi cukup besar, dan pasti devisa yang dikeluarkan cukup besar, sehingga di bulan oktober devisa kita berkurang Rp. 1.3 triliun.

Grafik perubahan kurs

Grafik perubahan kurs

Stabilitas kurs itu penting dijaga. Tapi stabilitas kurs bukan satu-satunya syarat, bahkan bisa menjadi akibat. Akibat dari kinerja perekonomian kita, yang tergambar dalam neraca perdagangan kita. Sehingga semua potensi ekonomi kita harus dikelola dengan efektif dan efisien, maka stabilitas kurs menjadi stabil pula.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR