Bidang Peternakan DIY Melumrahkan Faskiola Pada Hewan Kurban

Yogyakarta – Maraknya Isu akan beredarnya banyak cacing hati atau faskiola pada hewan korban yang disembelih pada perayaan Idhul Adha, dilumrahkan oleh Dinas Pertanian DIY. Dianalisis Anung Endah Suwasti,  sekertaris Dinas Pertanian Bidang Peternakan, meskipun banyak, daging korban  mengidap faskiola tetaplah aman untuk dikonsumsi.
Tidak hanya di DIY,  di provinsi lain juga banyak. Begitu dikatakan Anung. Ia menjelaskan  hewan korban yang mengidap faskiola adalah ulah peternak yang jarang memberi obat cacing. Diakuinya, peternak cenderung malas memberikan obat cacing karena peternak lebih terbiasa mengobati daripada mencegah.
Anung menjelaskan, prosedur pemberian obat cacing maksimal 40 hari sebelum hewan korban disembelih tidak melulu efektif. Hal itu karena obat cacing tersebut hanya membunuh cacing dewasa, bukan telurnya. Ia menambahkan. seharusnya satu bulan setelah pemberian obat cacing pertama perlu dilakukan demi mencegah telur cacing yang menetas untuk dapat beranak pinak atau bertelur lagi.
“Bentuk pengawasan kita pada peternak kan pembinaan. Jika kita menemui ternak yang mengidap penyakit ya kita lakukan pembinaan, di samping itu kita juga sosialisasi. Tidak semerta-merta ketika kita mendeteksi hewan ternak yang mengidap penyakit lalu kita berikan punishment (baca- pelajaran) itu tidak”, jelas Anung saat ditemui Indeks Berita dikantornya Jalan Gondosuli No.6, Umbulharjo (13/9).
Ia menambahkan bahwa akan atau tidaknya dalam menjalankan anjuran dari Sidak dan Pengawasan Dinas Pertanian itu dikembalikan pada peternak. Di samping itu, banyaknya peternak yang datang dan pergi dari regional DIY, dapat menyebabkan persebaran penyakit dari DIY yang sudah diproyeksi. Maka, Anung lebih menganjurkan agar masyarakat membeli hewan korban yang memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan atau membeli hewan kurban di lembaga ternak yang sudah terakreditasi.
Meski terdapat banyak hewan korban yang mengidap faskiola, Anung menambahkan bahwa hingga sampai dengan Idhul Adha (12/9), tidak terdeteksi hewan korban yang mengidap rabies dan antraks.
“Peternak kan mobilitasnya tinggi. Kita susah melihat mana hewan ternak yang punya faskiola dan mana yang tidak. Pembeli juga terkadang cenderung membeli ternak atas dasar kepercayaan. Tapi dari data terakhir garda depan kita (Puskeswan), kita (baca- DIY) bersih dari rabies dan antraks”, pungkasnya.
BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR