Bisnis Kerajinan Tenun Ikat Makin Menguntungkan, Pengrajinnya Makin Berjaya

Ibu Teti pelaku bisnis kerajinan Tenun Ikat, saat berada di tokonya (Bb Suryadi)

Bisnis kerajinan tenun ikat makin berjaya dan menuntungkan. Di sejumlah pusat pembelanjaan, gerai tenun ikat banyak dikunjungi pembeli, salah satunya di Pusat Belanja Thamrin City Jakarta.

Keuntungan berbisnis tenun ikat dirasakan oleh Ibu Tetty Sinuhadji pemilik Toko ‘Njonjah Poenja”. Ia sudah memulai usaha tenun ikatnya sejak 5 tahun lalu. Diakuinya saat ini berkat kerja kerasnya, dia sudah memiliki 8 toko dengan omset sekitar Rp 4 miliar per bulan.

“Awalnya saya hanya punya satu toko kecil. Dengan modal semangat saya keliling Indonesia mendatangi para pengrajin tenun daerah dan mendalami motif-motif tenun yang sangat kaya, hingga ke daerah NTT yang sangat terkenal dengan motif tenunnya. Usaha saya terus berkembang hingga akhirnya punya 8 toko mas,” ungkapnya Tetty di tokonya.

Saat ditemui di Toko ‘Njonjah Poenja”.yang dia miliki, ia bercerita tentang kegemarannya menjelajah ke berbagai daerah, sehingga membawanya mengelilingi NTT mulai dari Timor, Sumba hingga Flores. Tujuanya mencari tenun ikat dengan beragam motif. Memiliki beragam motif menjadi kunci keberhasilan usahanya.

“Luar biasa motif tenunnya sangat indah dan memiliki makna kebudayaan tenun yang sangat tinggi. Kain-kain tenunnya yang kaya dengan motif, bisa didapatkan di toko kami saat ini,” ujarnya.

Keuntungan berusaha Tenun Ikat juga dirasakan Abdul Somad, yang khusus menjual  tenun ikat produksi Alat Tenun Bukan Meain (ATBM) Troso, Jepara sejak 7 tahun lalu. “Boleh dibilang kami perintis berdagang kain tenun ikat di Thamrin City, ketika suasana masih sepi dan hanya ada beberapa pedagang yang buka toko disini,” ujar Abdul Somad.

Ia menjelaskan, jenis tenun seperti Baron, Endek, Kamen, Selendang dan syal sekarang mulai banyak digemari. Termasuk di toko miliknyapun menjual jenis-jenis tenun seperti itu.

Di toko Maghrifoh miliknya, di lantasi dasar, Somad menjual aneka motif tenun ikat dari Bali, Toraja, Lombok  dan Kalimantan dengan harga bervariasi.  “Seperti motif rangrang, sumba, Lamandau, harga bervariasi mulai dari Rp. 40 ribu hingga 800 ribu per lembar kain, dan mulai 35 ribu sampai 80 ribu per meternya, bahkan  lurik dan polos dijual mulai harga 25 ribu per meter,” ungkapnya.

Hingga kini usaha tenun ikat Abdul Somad yang berada di lantai 1 terus berkembang dan sudah memiliki 3 toko “Lumayan berkembang bagus usaha disini, saat ini omset bisa mencapai Rp 100 juta per bulan,” tandasnya.

Pak Somad dan Bu Tetty adalah contoh mereka yang sukses dalam bisnis tenun ikat. Masih banyak lagi yang berbisnis kerajinan tenun ikat, sebagai usaha turun temurun yang mendatangkan untung.

Hal senada diungkap oleh General Manager Operasional Thamrin City Adi Adnyana. Keberadaan para pengrajin tenun yang memasarkan produk kerajinan tenun ikat, terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Penambahan dari segi jumlah pengrajin yang berjualan maupun penambahan toko –toko yang memasarkan produk tenun ikat, terlihat dari berkembangnya luasan zona Pusat Tenun Nusantara Thamrin City.  Yang semula hanya ada di lantai 1, sekarang sudah merambah ke lantai 2 dan lantai 3” ujar Adi

Pihaknya akan terus mendukung kehadiran usaha kerajinan tenun ikat dari berbagai penjuru Nusantara, karena usaha tenun ikat tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi pengrajin, tetapi juga melestarikan kebudayaan tenun daerah yang sudah berlangsung turun temurun.

Adi lalu menambahkan, pihak pengelola Thamrin City, akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pengrajin tenun ikat dari daerah-daerah untuk memasarkan produknya di Thamrin City.

“Kami siap mendukung dan memberikan kemudahan untuk bisa memasarkan dan mempromosikan produk-produk tenun khas daerah- daerah dari seluruh Nusantara,” tandasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR