“Bohong, Kalau Band Indonesia Tak Bisa Mendunia!”

Setelah 12 hari, ‘Konser 1000 Band’ spektakuler yang dihelat oleh Deteksi Production sebagai rangkaian dari pameran kebudayaan dan industri, ‘Pekan Raya Indonesia’, diselingi dengan sebuah diskusi musikal bertajuk ‘Potensi dan Masa Depan Musisi Indonesia’. Diskusi berlangsung santai dengan menghadirkan Ferdy (vokalis Element), Astrid, dan sejumlah musisi lainnya sebagai narasumber di Media Room, ICE BSD, pada Sabtu sore (29/10).

“Secara kuantitas, jumlah seniman musik di Indonesia sangat banyak. Kalau 10 band saja di setiap kabupaten setiap hari bikin kegiatan musik, maka kita punya 5.500 kegiatan setiap hari atau sebanyak 1,7 juta kegiatan musik setiap hari di seluruh Indonesia,” papar Harry ‘Koko’ Santoso, arsitek Konser 1000 band saat mengawali diskusi musik tersebut penuh optimisme.

Mas Koko, sapaan hangat Harry Santoso, kreator gelaran Konser 1000 Band di tahun 2010 silam di Bumi Perkemahan Cibubur menambahkan, jika saat ini Pekan Raya Indonesia berani menggelar Konser 1000 band di Jakarta, maka kalau mau, besok pun di 34 provinsi bisa digelar Konser 1000 Band karena potensi itu ada.

“Kalau prestasi biar Tuhan yang menentukan, kalau usaha biar kita yang menentukan. Nggak susah kok bikin konser 1000 band di 34 provinsi. Yang susah itu keingiannya, kepeduliannya. Kalau setiap tahun bikin konser 1000 band di setiap provinsi, bohong bange tkalau kelak tidak ada band dari Indonesia yang menjadi warga musik dunia,” tandas Koko, yang sontak disambut hangat oleh peserta diskusi yang sebagian besar wartawan musik dari FORWAN (Forum Wartawan Hiburan Indonesia) dan sejumlah musisi lainnya.

Diskusi 2

 

Bagaimana peran pemerintah? Menurut Koko, pemerintah tak perlu turun tangan, tapi pemerintah perlu peduli. Karena industri musik itu berbeda. Industri musik, menurutnya, tak perlu biaya infrastruktur yang mahal seperti industri lainnya. Karena, potensi utama dari karya music adalah kreatifitas dan prestasi musisinya. Maka yang diperlukan dari pemerintah adalah kebijakan yang mumpuni bagi iklim berkesenian di Indonesia.

Diskusi yang berlangsung sekitar 4 jam, sejak pukul 3 sore sampai jam 7 malam dengan break sholat magrib tersebut, serasa tak cukup untuk membahas semua hal yang berkaitan dengan industri musik Indonesia, termasuk soal peran pemerintah terhadap industri musik di tanah air, sebagai salah satu sektor utama dari 16 sub sektor ekonomi kreatif yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia melalui BERKAF (Badan Ekonomi Kreatif).

Meski tak ingin merepotkan pemerintah yang sudah sibuk dengan berbagai macam persoalan, baik Harry Santoso, Ferdy, Astrid, maupun Hyang I. Mihardja (GM Indonesia Internasional Graha, penyelenggara Pekan Raya Indonesia), mengakui bahwa dukungan finansial dari berbagai pihak merupakan faktor penting bagi menggeliatnya industri musik Indonesia.

“Terus terang, Pekan Raya Indonesia yang baru pertama kali dilaksanakan ini sangat bersyukur karena bisa menampilkan Konser 1000 Band sebagai konten utamanya, disamping pameran kuliner dan industri kreatif lainnya. Tentu saja biaya produksi untuk menyelenggarakan semua ini lebih besar dari konser biasanya. Apalagi kami menyelenggarakan ini tanpa satu pun sponsorship dari pihak swasta, apalagi pemerintah,” ungkap Hyang.

diskusi 4

Ia pun membayangkan, andai saja 30% dari biaya produksi Konser 1000 Band bisa ditalangi oleh pemerintah melalui BEKRAF, maka geliat acara semacam ini akan terselenggara dengan leluasa, lebih besardanjangkauannya meluas ke seluruh pelosok negeri. Ini bermakna bahwa, segenap elemen dalam masyarakat termasuk pemerintah seharusnya memangurun-rembug untuk menduniakan industri kreatif bernama musik ini.

Koko mengungkapkan, bahwa Konser 1000 Band yang fenomenal ini, sebagian besar hanya diikuti oleh musisi dari wilayah Jawa. Karena panitia hanya menyiapkan honor, biaya konsumsi dan akmodasi angkutan darat saja. Maka jika ada musisi dari luar Jawa, maka transportasi udara harus mereka siapkan sendiri.

Tanpa dukungan finansial dari sponsor, mustahil kendala tersebut bisa diantisipasi. Dan jika BEKRAF memiliki anggaran untuk kegiatan konser musik, menurut Koko ada baiknya memang diberikan kepada pihak swasta untuk mengelolanya agar kelak industri musik Indonesia meraksasa di kancah musik dunia.

Namun Ia pun meyakini, tanpa dana dari pemerintah, seharusnya pihak swasta berani menginvestasikan dananya ke sektor musik, khususnya dalam penyelenggaraan konser music. Karena, menurutnya, inilah bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan berlipat-ganda dari modal, jika dikerjakan dengan serius dan profesional secara rutin di seluruh penjuru tanah air.

Diskusi 1

Sementara itu, mewakili teman-temannya dari Element, Ferdy lebih melihat pentingannya hubungan yang simultan antar generasi musisi terdahulu dan generasi kekinian. “Mereka harus di-support dan spiritnya harus terus dijaga. Konser 1000 Band memberi semangat baru lagi pada musisi agar jangan lelah untuk terus berkarya,” tukas Ferdy yang diamini oleh rekan-rekannya.

Senada dengan Ferdy, Asyraf, vokalis dari Moliano, band rock legendaris asal Singapore, mengungkapkan kebanggaanya bisa tampil di Konser 1000 Band. “Seumur hidup saya bermain musik, baru kali ini saya mendengar ada 1000 band performance dalam sebuah acara. Saya pernah membuat di Singapore tapi tak lebih dari 100 band sahaja. Jadi saya benar-benar bangga bisa diterima disini dan sangat respek dan hormat pada panitia,” akunya jujur.

Sementara itu, Astrid yang muncul belakangan menyebutkan bahwa yang penting saat ini seniman musik harus bekerja ekstra keras, baik mereka yang telah berkiprah sejak era 80-an hingga para pendatang baru.

“Zaman sudah sangat berubah, era digital memang Nampak lebih mudah, tapi kemudahan itu menambah jumlah persaingan semakin besar. Jika berdiam diri tanpa kreasi baru dan inovasi, tanpa gimmick yang menarik perhatian karya kita tak dilirik sama sekali. Maka saya sangat bersyukur dengan adanya Konser 1000 Band. Inilah ruang musik sesungguhnya yang harus kita pertahankan keberadaannya,” simpul penyanyi Pop dengan attitude ‘gothic’ yang amat kental itu.[]BAC

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR