Borobudur Cartoonists Forum, Pameran dan Temu Kartunis Nasional di Borobudur

Foto Promo Borobudur Cartoonists Forum (Istimewa)

SEBUAH perhelatan unik dan menarik bertajuk Borobudur Cartoonists Forum atau Temu Kartunis Nasional di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, akan segera dilangsungkan pada Sabtu-Minggu, 26-27 Agustus 2017. Pusat kegiatan pameran kartun dan diskusi di Hotel Pondok Tingal, Borobudur

Sedangkan kegiatan lain berupa kunjungan budaya ke Balkondes, Desa Wisata, Candirejo. Acara puncaknya adalah aksi budaya: semua kartunis merespon relief atau obyek yang ada di sekitar Candi Borobudur dalam bentuk sketsa atau gambar dengan sentuhan kartunal.

Kegiatan ini diprakarsai Secac dan Kokkang (Semarang Cartoons Club dan Kelompok Kartunis Kaliwungu). Keduanya sering bekerjasama menyelenggarakan berbagai event (kartun) internasional di antaranya: Candalaga Mancanegara International Cartoon Festival (1987/88) dan Astra Motor International Cartoon Contest (2017).

Menjadi semakin meriah, karena acara tersebut juga didukung oleh Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia), Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), Pakarso (Paguyuban Kartunis Solo), Perkara (Persatuan Kartunis Rawamangun), Kartans (Kartunis Tandang Semarang), Terkatung (Terminal Kartunis Ungaran) dan Republik Aeng-aeng.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya dari Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta, Bali, Medan, Makassar, dll. Tokoh-tokoh kartunis Indonesia seperti Pramono R Pramoedjo, GM Sudarta, Dwi Koendoro, FX Subroto, Herry Wibowo, Jitet Koestana, dan lain-lain, dijadwalkan hadir dan menjadi narasumber.

Mengapa perlu diadakan Borobudur Cartoonist Forum? Menurut panitia,  ada beberapa alasan. Salah satunya adalah melanjutkan tradisi yang sudah lama tidak diselenggarakan, selain menjaga kompetensi yang dimiliki oleh para kartunis tersebut.

“Pertama, melanjutkan tradisi Temu Kartunis Nasional I, yang diadakan pada 1985 di Semarang. Kedua, kartunis di Indonesia berjumlah ratusan orang dan mereka memiliki kompetensi unik. Secara umum kartunis mampu mengeliminasi sebuah fakta yang ruwet dan kacau-balau menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dipahami, terutama lewat coretan gambarnya yang sangat ringkas dan efisien; hanya satu kotak, namun dapat mengungkap suatu cerita secara jenaka, lengkap, dan paripurna. Potensi ini tidak boleh disia-siakan di situasi seperti saat in dan di masa depan,” ujar Yehana SR, panitia penyelenggara.

Sementra panitia lainnya, Darminto M Sudarmo, menjelaskan alasan lainnya, yaitu  mempertimbangkan kemungkinan bergulirnya event tersebut menjadi event tahunan, sehingga bukan tak mungkin di masa depan, akan lahir event-event internasional. “Di masa depan mungkin bisa diselenggarakan Borobudur International Cartoonists Forum, dan Borobudur International Cartoon Contest and Exhibition,” ujar Darminto.

Darminto juga melihat bahwa Pameran dan Temu Kartunis Nasional di Borobudur menantang kompetensi para kartunis seluruh Indonesia untuk mengkritisi dan mencandai, sekaligus memberikan sumbang saran kepada para pemangku kepentingan bidang kepariwisataan dan budaya secara umum.

Manfaat lain dari acara ini, akan menciptakan sarana unjuk kemampuan budaya, yang dapat menggugah minat dan keterlibatan masyarakat untuk sejenak menikmati hiburan yang segar namun bervisi strategis.

Yehana SR, lalu menjelaskan, mengapa Borobudur dijadikan tempat dan nama kegiatan, yaitu untuk memperkuat pesan.

“Karena Borobudur sudah menjadi ikon dunia, maka Borobudur dipilih menjadi nama dan lokasi tempat acara diselenggarakan. Tujuannya, agar pesan-pesan yang disampaikan para kartunis, dapat menjangkau ke publik yang luas, publik internasional,” pungkasnya

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR