Buaya Berkalungkan Ban Muncul di Perairan Sungai Kota Palu

Photo : Buaya berkalungkan ban sedang berjemur di perairan Sungai Palu (Rahman Odi)

Buaya berkalungkan ban di perairan sungai Kota Palu Sulawesi Tengah, kembali muncul. Posisinya sama, dengan kemunculan pertama kali pada 20 September 2016. Ban yang diperkirakan berjenis roda motor matik tersebut mengalung di leher buaya liar tersebut.

Seorang warga di lokasi mengatakan, setelah kemunculannya yang pertama, buaya itu pergi. Namun pernah juga beberapa kali muncul dengan ban tetap masih mengalung di leher.

“Biasanya muncul sekitar jam 9 pagi dan sore. Ada yang bercerita buaya itu yang terlepas milik orang Korea saat banjir. Biasanya yang terlihat di sini hanya dua ekor. Tapi kalau di muara pantai sana banyak, ” kata warga Bantaran Sungai Kota Palu Ferdiko, Senin (6/11/2017).

Sejak kemunculannya yang pertama, sejumlah aktivis lingkungan, BKSDA Sulteng, pernah berupaya melepas ban tersebut. Namun upaya  tidak berhasil. “Dulu pernah ada pertolongan, tetapi tidak berhasil, “ lanjut Ferdiko.

Perairan tersebut adalah Sungai Palu yang mempertemukan dengan Teluk Palu. Warga Kota Palu mengenalnya Jembatan Empat. Buaya berkalungkan ban ini juga sempat menjadi perhatian jurnalis dan aktivis lingkungan luar negeri.

Sementara itu warga lain, Aris menambahkan buaya yang diperkirakan mempunyai panjang sekitar 4 meter tersebut. Muncul yang kedua dengan menampakkan diri jelas ini, sejak 30 Oktober lalu.

“Seperti kemunculannya yang pertama, buaya itu berjemur di pinggir sungai. Meski ada ora mamancing di sebelahnya, buaya itu tidak menyerang, “kata Aris.

Aris juga mengungkapkan hal sama, bahwa buaya tersbut sempat ada petugas BKSDA dan SAR menolong buaya tersebut dengan cara menembak bius.

“Untuk melepas ban di leher buaya sempat dibius, namun tak mempan. Akhirnya buaya menghilang,” ucap Aris.

Sebagaimana diketahui, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2015, pernah mengeluarkan rilis. Hampir 68 persen atau mayoritas mutu air sungai di 33 provinsi di Indonesia dalam status tercemar berat. Sumber utama pencemar, disebukan dalam rilis tersebut, air sungai di Indonesia sebagian besar berasal dari limbah domestik atau rumah tangga.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR