Bulan Cinta Inggit Garnasih di Bandung

Photo : Perfomance Kelompok Anak Rakyat Bandung dalam Bulan Cinta Ibu Bangsa Inggit Garnasih (Supriyadi)

Bulan Februari bagi warga Kota Bandung merupakan bulan istimewa yang mereka tunggu. Karena di bulan ini terjadi peristiwa teramat mereka kenang.

Di tengah keriuhan Jalan Braga, Jumat, 1 Februari 2019. Dua pasangan muda pria dan perempuan sedang beraksi di sepanjang trotoar, di antara pejalan kaki dan riuhnya kota. Pria itu mengenakan kebaya, dengan stelan jas dan berkopiah. Ia memegangi pigura berisi photo seorang perempuan.

Perempuan yang menyertai pria itu berpakaian kebaya jangkep, sambil memegangi sebuah buku dan sesekali membaca isi buku. Karena riuhnya Kota Bandung di sore itu. Apa yang perempuan baca di buku itu tak terdengar.

Sepertinya ia mengelumitkan kalimat yang pernah diucapkan perempuan di photo dalam pigura. Entah bernada nasehat, ungkapan kekecewaan, atau luapan kemarahan. Karena saat membaca mimik dan wajah perempuan itu terlihat cepat berubah-ubah. Kadang senyum bahagia, sedih, dan sedikit emosi.

Menariknya, perempuan itu mampu mengontrol dan mengendalikan diri. Sehingga sosok yang diperankan itu menarik perhatian banyak orang. Tak sedikit pejalan kaki yang mengabadikan lewat gadget yang mereka pegang, termasuk saya.

Performance itu dilakoni oleh Kelompok Anak Rakyat (Lokra) Bandung. Aksi dalam rangka peringatan “Bulan Cinta Ibu Bangsa Inggit Garnasih”, yang sudah berlangsung lima tahun, sejak 1 Februari 2015.

Gatot Gunawan Art Director saat berpapasa dan saya tanya mengatakan, acara ini adalah sebuah gerakan independen yang dideklarasikan oleh delapan komunitas di Jawa Barat. Tujuannya semata-mata didasarkan atas kesadaran para pemuda di Jawa Barat untuk merawat ingatan tentang sosok Inggit Garnasih.

“Kita tahu sosok Ibu Inggit ini kepada masyarakat kecil hampir saja terlupakan peranannya dan tak tercatat dalam buku-buku sejarah, “ kata Gatot.

Diketahui Inggit Garnasih adalah istri kedua dari presiden pertama Ir Soekarno, yang biasa dengan keakraban Bung Karno. Dalam berbagai catatan, Inggit lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888.

Pernikahan Inggit dengan Bung Karno, pada saat itu boleh dibilang mengundang banyak kontroversi di berbagai kalangan. Pernikahan yang sama-sama keduanya masih menyandang status sah, suami-istri. Inggit Garnasih yang sudah berusia 31 tahun, masih istri Haji Sanusi, seorang aktivis Sarekat Islam. Bung Karno sendiri yang berusia 21, masih sebagai suami Siti Oetari, putri kesayangan HOS Tjokroamnoto, tak lain bapak kost dan guru ideologi-nya di Surabaya.

Bisa jadi benar apa yang dikatakan Gatot, peran Inggit tak pernah disebut-sebut dalam sejarah pergerakan awal berdirinya republik ini. Sebenarnya hal itu tak bisa terlupakan begitu saja oleh bangsa ini. Bagaimana pada saat itu, Inggit Garnasih menyertai Bung Karno di setiap jengkal dalam proses menuju pendewasaan dan berbagai dinamikanya di masa-masa kemerdekaan.

Ketika Bung Karno ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929, dan dijebloskan ke Penjara Banceuy di Bandung. Lalu dipindahkan ke Sukamiskin. Inggit sebagai istri tak pernah lelah memberi semangat kepada suaminya saat itu.

Saya tak begitu bertanya detil kepada Gatot, tentang peran pria dan perempuan itu. Karena berpapasan kami di Jalan Braga itu tak sengaja. Saya hanya melihat, bahwa itu adalah sebuah pertunjukan yang cukup menarik.

Bisa jadi pria itu berperan sebagai sosok Nata Atmaja, seorang patih di Kantor Residen Priangan. Karena diketahui Nata Amaja adalah suami pertama Inggit Garnasih. Atau bisa juga Haji Sanusi dan Bung Karno.

Tetapi yang jelas dalam sebuah rilis yang Gatot kirim menjelaskan, acara itu merupakan rangkaian pertunjukan berjudul “Dramaphotodance 8 Hour Non-Stop”. Pertunjukan itu terdiri dari Dramatic Reading, yang dilakoni Maudy Widitya. Dan bisa jadi ia berperan sebagai sosok Inggit Garnasih.

Dalam pertunjukan itu disertai kegiatan photography dengan photograper Khairizal Maris, serta seorang dancer Anggha Nugraha. Selama delapan jam non-stop, dimulai dari Makam Inggit Garnasih, Jalan Braga, Gedung Indonesia Menggugat, Pasar Astanaanyar, Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, dan berakhir di SR Iboe Inggit Garnasih di Jalan Liogenteng.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR