Bus Kota dan Diskusi Berhenti Dadakan: in memoriam Arief Budiman

Arief Budiman (foti wikipedia)

Sebenarnya saya hanya sekadar murid “informal” Arief Budiman, karena saya bukan mahasiswa UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), tempat beliau mengajar. Namun rasa hormat saya terhadap beliau seolah tiada batas. Ketika mendengar Pak Arief (begitu biasa saya memanggil) meninggal dunia pada Kamis siang (23 April) di Ungaran, saya diliputi rasa sedih yang mendalam. Mungkin itu jalan yang terbaik buat beliau, mengingat kondisi kesehatan yang terus menurun sejak pensiun sekitar sepuluh tahun lalu, selaku guru besar pada sebuah universitas di Australia.

Saya kembali mengenang bagaimana proses perkenalan saya dengan beliau. Seingat saya ada dua kali pertemuan yang semuanya terjadi pada tahun 1984. Pertemuan pertama adalah ketika Pak Arief menjadi narasumber pada sebuah diskusi internal di kantor LSP (Lembaga Studi Pendidikan), di daerah Kebon Jeruk (Jakarta Barat). LSP adalah sebuah LSM di bidang penelitian dan penerbitan yang dipimpin Adi Sasono (tokoh gerakan civil society, almarhum), kira-kira mirip dengan LP3ES, yang menerbitkan jurnal Prisma.

Pak Arief saat itu sudah sangat terkenal di kalangan mahasiswa, khususnya bagi yang mengambil program studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Tulisan beliau di media cetak, selalu saya nantikan, dan bila muncul, akan saya baca dengan antusias, untuk kemudian dikliping. Karena rasa kagum itulah, saya jadi ingin berkenalan, setidaknya bertemu secara langsung. Hingga akhirnya saya mendengar kabar, Pak Arief akan menjadi narasum di kantor LSP.

Lokasi diskusi di Kebon Jeruk, sebenarnya cukup jauh dari kampus saya di Rawamangun (Jakarta Timur), saat itu saya tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI (kini FIB UI), yang ketika itu masih berkampus di Rawamangun. Namun saya tetap bersikeras berangkat, karena ingin bertemu langsung dengan tokoh idola. Saya naik bus kota arah Grogol, dan harus transit di bundaran Palmerah, untuk berganti mikrolet. Kantor LSP terselip di tengah permukiman peduduk.

Saat itu saya sudah sangat senang bisa bertemu langsung. Saya benar-benar takjub, Pak Arief yang lulusan universitas paling ternama di dunia (Harvard), ternyata begitu bersahaja, baik tutur kata dan penampilannya. Seingat saya, saat itu beliau hanya memakai selop, bukan sepatu, bahkan sepatu casual sekalipun (sneaker istilah sekarang). Pertanyaan polos para mahasiswa yang hadir saat, dijawab dengan cukup serius, tidak ada kesan meremehkan anak muda.

Masih di tahun yang sama, Senat Mahasiswa FIS UI (kini FISIP UI) mengadakan sebuah seminar di kampus Rawamangun, dan salah satu narasumber yang diundang adalah Pak Arief. Dan kita semua sudah menduga, beliaulah yang menjadi “bintang” pada acara tersebut. Sebagai salah satu “penggemar”, pandangan saya selalu fokus pada beliau, bahkan ketika beliau sedang tidak berbicara.

Ketika acara selesai, saya termasuk yang mengiringi beliau ketika keluar dari arena, meskipun saya bukan panitia….hehehe… karena saya mahasiwa FSUI, bukan FIS UI. Pak Arief sempat tersenyum ketika beliau tahu saya mahasiswa sejarah, mengingat adiknya (Soe Hok Gie) dulunya juga mahasiswa sejarah. Saat berjalan beriringan dengan beliau inilah, terjadi dialog yang membuat saya terkejut, sekaligus kagum.

Kita hanya ngobrol ringan, seperti bertanya, Pak Arief menginap dimana bila pas di Jakarta. Pak Arief benar-benar orang yang sederhana, ruoanya setiap ada kegiatan di Jakarta, beliau selalu menginap di rumah kakaknya di daerah Cempaka Putih (Jakarta Pusat), bukan di hotel. Kemudian ketika saya tanyakan, Pak Arief naik apa ke Cempaka Putih. Dia menjawab dengan datar, naik bus kota.

Jawaban yang benar-benar membuat saya melongo. Sungguh tak terbayangkan, seorang lulusan Harvard naik bus kota! Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, luar biasa Pak Arief ini. Bandingkan dengan sarjana lulusan AS lainnya, yang tidak membutuhkan waktu lama, untuk mencapai kesejahteraan.

Pertemuan dan perbincangan yang lebih panjang terjadi pada Januari 1987, ketika ada pertemuan teman-teman aktivis lintas kota, yang diadakan di Salatiga. Saya masih ingat dengan baik, nama jalan tempat pertemuan, yakni pada sebuah rumah di Jalan Kalinongko, salah satu cabang dari Jalan Osa Maliki. Karena pertemuan di Jalan Kalinongko inilah, saya berteman sangat akrab dengan teman-teman aktivis Salatiga, hingga hari ini.

Beberapa teman yang masih saya ingat, adalah rombongan Bandung (Harwib, Suryadi A Rajab, Reno Alamsyah), semuanya mahasiswa ITB. Kemudian dari Jogja (Coki Bonar Tigor Naipospos), Solo (Mas Halim HD dan Mba Lies), dan seterusnya. Saya sendiri masuk dalam rombongan Jakarta, bersama Bonie Setiawan (mahasiswa FIS UI), Arya Wisesa (sempat redaktur Prisma), Soewarsono (kabarnya kemudian bekerja di LIPI), dan Daniel Indrakususmah (pendamping buruh sekarang).

Pertemuan dimulai dengan cara yang unik, para peserta harus “korve” untuk membersihkan rumah dulu. Rupanya itu rumah kosong, yang sepertinya sudah lama tak ditinggali, sehingga kondisinya seperti itu. Namun melalui acara kerja bakti itulah, saya langsung akrab dengan teman-teman Salatiga, seperti Stanley (terakhir Ketua Dewan Pers), Witjak, Endi Aras, dan seterusnya.

Pertemuan itu sendiri lebih tepat disebut nge-camp, karena berlangsung tiga hari (dua malam), dan semua peserta menginap di rumah itu pula, kecuali Joss Wibisono (saat itu mahasiswa FE UKSW, kemudian jurnalis Radio Nederland), yang pulang ke rumah kostnya bila malam tiba. Diskusi dan obrolan informal berlangsung intensif, mulai yang serius sampai isu yang ringan.

Soal bagian diskusi yang serius, saya sendiri sudah banyak yang lupa, kira-kira intinya kita membahas situasi politik mutakhir, termasuk review atas gerakan mahasiswa, dalam perspektif “kiri”. Saya lebih ingat beberapa obrolan informal, yang biasa kami lakukan saat ngopi pagi di teras rumah, menjelang diskusi formal yang diadakan di dalam rumah. Salah satu yang saya ingat betul adalah cerita Mas Halim HD (seniman Solo) soal Kopassus, khususnya Grup 1 Serang, dengan Komandan Grup-nya (saat itu) Kolonel Wismoyo Arismunandar.

Saya yang saat itu baru belajar-belajar soal militer, dibuat terkagum-kagum dengan cerita Mas Halim. Cerita Mas Halim adalah sebuah kesaksian, karena Mas Halim memang berasal dari Serang, yang sejak lama menjadi markas Grup 1 Kopassus.

Dalam camp Kalinongko itu pula, saya bisa berbincang lebih lama dengan Pak Arief, termasuk Mas Ariel Heryanto, yang namanya juga sedang naik daun, sebagai dosen UKSW yang melontarkan gagasan sastra kontekstual. Biasanya saya hanya memandang Pak Arief dari kejauhan, ketika jadi narasumber pada beberapa kali seminar atau diskusi di Jakarta, kini bisa ngobrol sepuasnya. Tentu saja Pak Arief tidak tidur bersama kami saat malam mulai larut, Pak Arief pulang kerumahnya (saat itu) di perumahan Satya Wacana (Perumsat) di Kemiri, di belakang kampus UKSW. Kasihan juga kalau beliau tidur di camp, karena hanya beralaskan tikar, dengan tas rangsel kami sebagai bantal. Namun para mahasiswa yang hadir saat itu masih muda, dan masih semangat, jadi dengan kondisi seperti itu, ya senang-senang saja.

Setelah diskusi berhari-hari dalam ruang yang terbatas, saya mulai jenuh, dan mulai tidak fokus. Sebab setelah acara selesai, saya berencana pulang kampung untuk menengok ibu di Blitar (Jatim). Saya mulai tidak sabar, yang ada di bayangan saya hanyalah ngobrol ringan dengan ibu tercinta, sembari makan nasi pecel, kuliner sederhana khas Blitar, yang menjadi kesukaan saya sejak kecil. Saya kira peserta yang lain juga dihinggapi kejenuhan yang sama.

Akhirnya saat yang ditunggu tiba juga. Ketika malam mulai larut, dan sudah beranjak ke dini hari, sebagian teman masih (setengah) semangat membahas prospek dan strategi gerakan mahasiswa, termasuk prospek kelompok studi. Ketika diskusi tengah berlangsung, tiba-tiba Reno Alamsyah (mahasiswa teknik nuklir ITB), mengeluarkan pernyataan yang membuat kami semua terdiam, sekaligus lega (setidaknya untuk saya sendiri).

Saya masih ingat apa yang dikatakan Reno dini hari itu, kira-kira begini: “saya tidak setuju bila gerakan mahasiswa berlandaskan pada marxisme.” Reno menyampaikan itu dengan nada tenang. Kami yang ada di ruangan langsung terdiam dan hanya bisa saling memandang, diskusi dengan sendirinya selesai. Dalam hati saya bersyukur, untung ada pernyataan Reno, bila tidak, entah kapan diskusi akan berakhir.

Pagi harinya, sesudah sarapan, kita semua pulang ke kota masing-masing. Saya masih ingat, karena saya akan ke Blitar, saya bareng Mas Halim sampai Solo, dengan menumpang bus umum. Sampai di terminal Tirtonadi, Mas Halim masih menyempatkan diri menemani saya untuk mencari bus lanjutan arah Surabaya, karena saat itu belum ada bus yang langsung ke Blitar (dari Solo). Diskusi di Salatiga memang selesai, tetapi persahabatan saya dengan Pak Arief (kini almarhum), Mas Halim, dan teman-teman Salatiga lainnqqya, berlanjut terus sampai hari ini.

 

Penulis Aris Santoso, aktivis yang saat ini menjadi pengamat militer dan editor buku

BAGIKAN

1 KOMENTAR

  1. Dari cerita sepenggal tentang Arief Budiman ini, sepertinya ada cerita lain yang perlu dilanjutkan. Yaitu benang merah antara Arief Budiman dengan Gerakan mahasiswa 80′ yang punya ciri khas tertentu, yaitu berjejaring antar kota.
    Ada juga kursus singkat tentang analisis sosial di Muntilan tempat Romo Mangunwijaya menjadi pastor di situ, yang juga diajari oleh Pak Arief Budiman, Ariel Haryanto, Abdul Hakim Garuda Nusantara dan Romo Mangun sendiri.
    Yang hadir juga aktifitas antar kampus khususnya dari seputaran Jawa Tengah saja.

TINGGALKAN KOMENTAR