Catatan Musikal – Tanda Mata Glenn Fredly untuk Ruth Sahanaya

Suasana hati Ruth Sahanaya nampak campur aduk. Istri Jefry Waworuntu ini, kadang ikut bernyanyi persis di barisan tengah VIP Class – ‘Memori’. Sesekali ia bertepuk tangan, tertegun kagum, pun teriak histeris sembari tersenyum bangga hingga tertawa bahagia melihat aksi Glenn Fredly, penyanyi lainnya, dan sejumlah musisi pendukung dalam Konser ‘Tanda Mata Gleen Fredly Untuk Ruth Sahanaya’, yang berlangsung di Balai Sarbini,  Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat, 30 September 2016.

“Satu Kata, Glenn itu Jenius,” ungkap Ruth Sahanaya dihadapan penonton dan wartawan, sesaat setelah pertunjukan yang berlangsung 3,5 jam itu usai.  Menurutnya, bahwa apa yang dilakukan oleh Glenn pada dirinya dalam konser tersebut, adalah pintu masuk untuk memberi apresiasi terhadap penyanyi atau musisi Indonesia lainnya yang telah berjasa pada industri musik Indonesia.

“Kegelisahan saya yang utama saat ini adalah, memberikan apresiasi yang setingginya pada penyanyi dan musisi yang rekam jejaknya penuh dedikasi dan prestasi, justru di saat mereka masih hidup. Karena mereka bisa merasakan langsung kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Ini adalah bagian dari ekosistem dalam industri musik yang harus terus dihidupkan,” tukas Glenn Fredly.

Pria kelahiran 30 September ini, pun menceritakan penyesalannya, saat membuat konser ‘Tribute to Chrisye’, justru di saat Chirsye sudah berpulang, dan Glenn tak pernah bertemu almarhum sebelumnya, sekadar untuk ngobrol soal industri musik di Indonesia. Kini ia bersyukur bisa memberi penghargaan pada Ruth Sahanaya di saat masih hidup, bahkan di hari ulang tahunnya. Inilah kado istimewa buat Glenn.

Kembali pada konser monumental ini. Dari atas panggung, Glenn Fredly muncul dengan persona “episentrum kesaksian”, atas perjalanan karir Ruth Sahanaya yang telah dimulai sejak 1987, saat Glenn masih berusia remaja. Penonton yang telah membeli habis tiket 9 hari sebelum hari H, seharga 400 ribu, 600 ribu hingga 1 juta rupiah, menjadi saksi bagaimana apresiasi Glenn yang begitu melambung tinggi terhadap salah satu idolanya, Ruth Sahanya. Di tahun 1988, saat Ruth menggelar Konser Tungga di Taman Ismail Marzuki, Glenn ingin sekali menonton idolanya. Tapi apa daya, kala itu ia tak punya uang untuk beli tiket tanda masuk.

“Terus terang malam ini saya grogi banget. Ini pertama kali saya nyanyi dihadapan idola saya, Mama Ruth. Semua lagu yang melambungkan namanya dikenal oleh masyarakat. Dan sebagai penyanyi Mama Ruth memiliki segudang prestasi. Dan malam ini saya harus menyanyi dihadapannya,” aku Glenn, yang sebelumnya memang nampak melakukan kesalahan saat mengawali penampilanya dalam lagu ‘Pesta’. Selain nada yang out of pitch, ia juga lupa beberapa lirik lagu. Penonton sejenak tertawa, kemudian mengambil alih, dan sing a long bersama Glenn.

Tanda Mata untuk Industri Musik Indonesia

Tak puas dengan penampilan pertamanya. Glenn berupaya mengibur penontonnya dengan cara menyalahkan dirinya sendiri berulang-kali. Penonton pun terpingkal. Selanjutnya, ia mengajak band pengiringnya untuk mengulangi dari awal, sembari berkata; “Konser malam ini bukan seperti konser yang biasa kalian saksikan. Ini adalah rock n roll show untuk kita,” tandas Glenn, lalu mengulangi dari awal lagi lagu ‘Pesta’, kemudian di-medley dengan lagu ‘Goyang Suka-Suka’.

Hasilnya, awesome! Glenn berhasil menaklukan kesalahannya. Saya yang duduk dua bangku di belakang Ruth Sahanaya, menyaksikan dengan seksama semua kejadian, tak yakin jika itu benar-benar kesalahan yang tidak disengaja. Saya merasa ini bagian dari drama pertunjukan. Dan drama ini nyata adanya. Tapi faktanya itu kesalahan alamiah yang dialami seorang profesional setara Glenn Fredly. Dia tak hanya jenius tapi juga genuine alias otentik. Dia bukan hanya penyanyi penuh talenta, dedikasi dan prestasi. Malam itu, Glenn adalah “motivator” dan “inspirator” bagi dunia musik di tanah air.

Dalam durasi pertunjukan yang dimulai sejak pkul 20.30 WIB hingga 23.30 WIB, selama 2 jam durasi untuk menyanyi, sisanya sekitar 1,5 jam untuk video narasi, chit-chat Glenn Fredly, video testimonial dari sejumlah nama besar musisi yang pernah mendukung album Ruth Sahanaya seperti Aminoto Kosim(musisi pertama yang mengorbitkan Ruth), Erwin Gutawa, Conrad Lamuri dan lainnya,  serta open mic yang menampilkan Pandji serta duet Lukman Sardi dan Chico Jericho.

Konser ‘Tanda Mata’, memang jauh dari konser tunggal mainstream, yang pernah kita saksikan. Glenn, dengan sengaja membuat konsernya berbeda, dalam rangka mewariskan semangat apresiasi terhadap mereka yang berdedikasi dan berpretasi dikala masa masih hidup dan berkarya. Semangat ini harus sampai kepada para pekerja musik itu sendiri dan tentu saja para pelaku binsis yang diharapkannya akanmembesarkan industri musik di tanah air.

Ada sebuah kebiasaan yang nyaris tak pernah dilakukan dalam konser tunggal. Dalam menjembatani setiap lagu, backdrop screen menampilkan setiap cover album Ruth yang disusul dengan narasi yang menyebutkan semua nama-nama musisi dan orang dibelakang layar album Ruth. Glenn, melakukannya dengan terencana, jeli, cermat  dan rinci. Nyaris sempurna, sebagai sebuah suguhan “Konser Dokumenter” (ini istilah dari saya, untuk menggambarkan simpul dari keseluruhan konser).

Dan ini yang menarik, dari sekitar 2 jam durasi untuk menyanyi, Glenn hanya kebagian sekitar 30% durasi saja. Padahal dalam benak penonton ini adalah konser tunggal dia. Sisanya, 70% durasi, untuk sejumlah penyanyi yang dikurasioleh Glenn dibantu team work. Sebut saja Bob Tutupoly yang telah menyanyi sejak era Presiden Bung Karno hingga Presiden Jokowi. Lalu ada penyanyi jazz wanita legendaris, Margie Siegers. Disusul musisi senior lainnya: gitaris Oele Patiselano, pianis Profesor Devian, Andi Riyanto, Yongki Suwarno dan Mus Mujiono.

Di deretan penyanyi muda penuh talenta, ada Yura, pianis sekaligus penyanyi pendatang baru yang mendapat kehormatan melantunkan ‘Ingin Kumuliki’. Trio Maruli Tampubolon, Stanley Sagala, Rayen Pono menyajikan ‘Merenda Kasih’ bersama Yovie Widianto. Glenn sendiri melantunkan lagu-lagu; ‘Apalagi’, ‘Selamanya’ bersama Martin Siahaan, ‘Tanda Mata’, ‘Bawa Daku Pergi’, ‘Kuingin’ dan bersama seluruh penyanyi dalam lagu ‘Tak Kuduga’ dan ‘Kaulah Segalanya’.

Tanda Mata dari Ahok Mengejutkan

Jika mengikuti seluruh kemasan rangkaian konser malam itu terlihat jelas, bagaimana Glenn bekerja keras selaku host sekaligus presenter menjembatani satu demi satu elemen konser dengan dinamis. Dalam tayangan video testimoni dari sejumlah musisi, Glenn terjun langsung sebagai interviewer. Ia mewawancari satu demi satu setiap nara sumber sebagi penyaksi atas kekuatan Ruth Sahanaya. Termasuk saat meminta komentar dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, juga ada Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan. Kemunculan tiga nama tersebut, membuat riuh seluruh penonton, lalu diakhiri dengan tepuk tangan yang membahana.

Glenn dalam struktur organisasi Konser Tanda Mata ini, sesungguhnya berperan sebagai Executive Producer. Namun, apa yang dilakukannya adalah lebih dari sekadar itu. Masuk dalam tim kurator yang menata dan membuat keselarasan konser agar mencapai target yang dinginkan sesuai visi dan misinya. Ia pula ikut memberi andil dalam setiap aransemen. Dan ini yang paling penting, ia membuka ruang lebih pada musisi muda penuh talenta untuk turut berkontribusi. Maka tak salah jika kita menyebut konser ini, sebagai “Tanda Mata Glenn untuk Industri Musik Indonesia”.

Ada target obyektif dan ukuran yang dipikirkan dengan matang dalam konser ini. Mulai dari drama, kejutan, realitas, identias, faktual, aktualitas serta visi dan misi, semua terjaga dengan baik. Glenn meramu elemen-elemen penting itu menjadi sebuah pertunjukan yang utuh. Tak heran jika kemudian, Ruth Sahanaya merasa sangat tersanjung dengan amat tingginya. Nyaris belum pernah ada penyanyi lain yang memperlakukan penyanyi idolanya dengan begitu hebatnya.

Tak lupa, diujung pertunjukannya, sebelum melantukan ‘Kaulah Segalanya’, Glenn dengan ringan menyentil produser musik dari Ibu Acin Musica Studio dan juga produser dari Aquarius Musikindo, perusahaan rekaman yang pertama kali merekam album Ruth. Glenn secara langsung menyampaikan agar kedua produser itu turut mengembangkan tradisi memberikan “Tanda Mata’ pada para pekerja seni yang memiliki dedikasi dan berprestasi, justru di saat mereka masih hidup dan masih berkarya.

Glenn seperti tak ingin berhenti. Ia tak peduli lagi dengan durasi obrolan yang panjang. Dia hanya ingin menyampaikan harapannya pada semua pihak. Kepada Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif serta pada pada Pimpinan Bank BJB yang menjadi sponsor tunggal konsernya, lagi-lagi Ia berharap agar memberikan dukungan pada musisi yang datang membawa proposal untuk pertunjukan mereka.

Dia terus berusaha merangkai momentum Ruth Sahanaya tersebut bukan hanya menjadi milik Dia dan Ruth berdua saja, tapi jadi milik serta bermanfaat bagi musisi lainnya di Indonesia. Glenn di titik ini memunculkan sisi lain dari dirinya,  sebagai “lokomotif dialektika” dunia pop culture di Indonesia.

“Saya ingin, setelah Ruth Sahanaya, pada tahun depan, mungkin di bulan yang berbeda, akan menggelar kembali Konser Tanda Mata. Kita akan memilih penyanyi dengan dedikasi dan prestasi yang mumpuni,” simpul Glenn Fredly yang terlihat sangat puas dan bahagia dengan berakhirnya konser yang mengharuskannya mengganti kostum sebanyak 3 kali, yang juga disaksikan kedua orang tuanya.

Konser Tanda Mata memang telah usai, saat ‘Kaulah Segalanya’ mengalun indah. Namun di luar sana masih banyak pekerja seni yang membutuhkan “Tanda Mata” dari pekerja seni lainnya, agar ekosistem industri musik Indonesia terus tumbuh dan berkembang dan berlangsung dengan gemilang. Hingga akhirnya kita memberi Tanda Mata untuk Glenn Fredly sendiri, kelak nanti.

Repertoar Konser Tanda Mata Glenn Fredly untuk Ruth Sahanaya

1. Medley : Pesta, Goyang suka-suka – Glenn Fredly
2. Peluklah, Selangkah Cinta – Glenn Fredly
3. Ingin kumiliki – Yura, Rega dauna
4. Satu Cinta – Dinda, Amelia, David Manuhutu
5. Apalagi – Glenn Fredly
6. Ada Dalam Dirimu – Andi Riyanto, Glenn Fredly, Monita, Mus Mudjiono
7. Selamanya – Glenn Fredly, Martin Siahaan
8. Keliru – Bob Tutupoly, Margie siegers, Deviana on piano, Oele Pattiselano Guitar
9. September Pagi – Bakhes, Tiara, Matthew Sayers, Barry on Bass, Yongki on Keyboard, Richard Hutapea on Sax
10. Merenda Kasih – Yovie Widianto, Glenn Fredly, Maruli Tampubolon, Stanley sagala, Rayen Pono
11. Memori – Kamila
12. Tanda Mata – Glenn Fredly
13. Terlalu Indah – (Tribute to Mike) Widi Viera, Teddy Aditya, Pasto, Matthew sayers, Dennis junio on Sax, Shadu Rasidi on Bass, Rafi on Drum
14.Astaga – Kunokini, Haviz della mc, Albert Fakdawer, Teddy Aditya, Ivan on Vocoder, Glorify Choir on Backing
15. Medley : Bawa Daku Pergi ; Kuingin – Glenn Fredly
16. Tak kuduga – Glenn Fredly
17. Kaulah Segalanya – Glenn Fredly & All Artist

BAGIKAN

2 KOMENTAR

  1. WOw… I am glad to know it…
    Sayang banget yaa gak sempat nonton
    Padahal artikel ini baru menyampaikan 50% dari suasana konser malam itu.
    Sisanya?
    Pecah, Gila, berantakan… Kereeennn

  2. dengan membaca artikel ini ajah saya sudah dapat membayangkan sebuah konser dengan musikalitas yang tinggi, ok, keren, gilakkkkk abiesss…..wow…..apa daya tiket yang sudah saya beli tidak digunakan karena ada acara yang tidak dapat dihindari hiks hiks hiks hiks….

    so proud to both of you Glenn Fredly and Ruth Sahanaya….. this is the real singer….they are sing with the hearts….

TINGGALKAN KOMENTAR