Catatan Seputar Pergantian Wadanjen Kopassus

Suasana Sestijab Wadanjen Kopassus. (Foto:Kopassus)

Kolonel Infantri Mohamad Hasan (Akmil 1993) baru saja dilantik sebagai Wakil Danjen Kopassus pada Selasa kemarin (22/1), di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur. Dalam posisi barunya ini, M Hasan bakal masuk strata pati, yakni sebagai jenderal bintang satu.

Sejak lama pergantian pimpinan Kopassus, khususnya pada posisi Danjen, Wadanjen, dan Komandan Grup, menarik untuk diamati. Mengingat pergantian jabatan di Kopassus, biasanya akan diikuti dengan alih generasi di gerbong elite TNI.

Pergantian jabatan di Kopassus, selalu jadi parameter bagi munculnya generasi baru, karena promosi di Kopassus relatif lebih cepat dibanding satuan lainnya. Sebut saja untuk posisi danyon misalnya, bagi perwira yang potensial, bisa diangkat sebagai danyon setelah 12-13 tahun berdinas, dihitung sejak lulus dari Akmil. Sementara bagi satuan lain, seperti Kostrad atau Kodam, seorang perwira bisa menjadi Danyon setelah 15 tahun berdinas.

Di Kopassus, adalah hal biasa, bila para danyon umumnya belum pernah mengikuti pendidikan lanjutan setingkat Seskoad, cukup berdasarkan Suslapa (Kursus Lanjutan Perwira). Itu sebabnya para pasis (perwira siswa) Seskoad, umumnya adalah mereka yang sebelumnya menjabat Wakil Danyon, sementara pasis dari Kopassus, umumnya sedang dalam posisi sebagai danyon.

Dukungan politis

Masuknya Kolonel Hasan pada posisi Wakil Danjen Kopassus, bersamaan waktunya dengan promosi bagi perwira generasi baru lainnya, seperti Kol Inf Widi Prasetiyono (Akmil 1993, Danrem Samarinda) dan Kol Inf Kunto Arief Wibowo (Akmil 1992, Danrem Padang). Secara bersamaan kelak mereka akan menjadi brigjen.

Tentu saja promosi bagi mereka tak lepas dari dukungan politis, dalam hal ini dari kekuasaan. M Hasan dan Widi misalnya, sebelumnya sempat menjadi ajudan (ADC) Presiden Jokowi, sementara Kunto adalah anak dari Jenderal (Purn) Try Sutrisno.
Promosi bagi Kolonel Kunto sengaja sedikit ditunda, untuk menghindari kesan nepotisme, terkait posisinya sebagai anak Jenderal Try Sutrisno.

Selepas Danrem Palembang (2016), Kolonel Kunto sempat “transit” sebagai Komandan Puslatpur (Pusat Latihan Tempur) di Baturaja (Sumsel). Peta jalan karier Kolonel Kunto, mirip dengan salah seorang kerabatnya, yakni Ryamizard (Akmil 1974, kini Menhan), yang pada pertengahan dekade 1990-an juga sempat menjadi Danrem Palembang. Selepas Danrem Palembang, Ryamizard bisa langsung masuk pos brigjen, sebagai Kepala Staf Divisi Infanteri Kostrad. Namun bagi Kolonel Kunto, promosinya terkesan lebih hati-hati.

Dalam meniti karir sebagai perwira TNI, memang dibutuhkan dukungan politis, namun itu sebatas pada posisi bintang tiga atau empat, dan sebagian bintang dua. Bagi perwira generasi baru, jangan terlalu berharap banyak pada dukungan politik. Sebab bila terlalu bertumpu pada dukungan politik, akan berpengaruh pada kualitas perwira tersebut. Dengan demikian pengembangan diri perwira tetap yang utama, semisal melalui operasi tempur, atau penugasan lapangan lainnya

Setelah berkurangnya palagan (tempur), seperti Aceh dan Timor Leste, maka perlu dicari “palagan” lain untuk mematangkan perwira. Salah satu pilihannya adalah melalui jalur pendidikan. Untuk generasi yang lulus setelah tahun 2000, faktor pengalaman tempur dalam promosi mereka, menjadi kurang relevan lagi, karena palagan untuk itu memang sudah tidak ada. Palagan yang masih ada sifatnya sangat lunak, seperti operasi pamtas (pengamanan perbatasan) dan pasukan perdamaian di bawah PBB. Selepas berakhirnya era operasi tempur, faktor pendidikan (khususnya Seskoad) menjadi pendukung utama peningkatan karir.

Keseimbangan Baret Merah dan Baret Hijau

Pada mutasi TNI (khususnya AD) setahun terakhir ini, ada upaya menjaga keseimbangan distribusi jabatan strategis antara perwira yang berasal dari Baret Merah dan Baret Hijau. Secara singkat bisa dijelaskan disini, Baret Merah adalah perwira yang berasal dari Kopassus, sementara Baret Hijau adalah yang berasal dari Kostrad atau satuan teritorial (Kodam).

Perlu juga diterangkan, bahwa perwira asal Baret Merah bisa saja pada suatu waktu ditugaskan di lingkungan Baret Hijau, karena kualifikasinya memungkinkan. Dengan kata lain, seorang perwira Kopassus pada perjalanan karirnya bisa mengenakan dua warna baret. Namun perwira asal Baret Hijau tidak bisa ditugaskan di jajaran Kopassus, karena alasan kualifikasi juga. Ulasan berikut kita bisa melihat distribusi jabatannya berdasarkan baret utamanya.

Untuk posisi KSAD, kini diisi oleh perwira Baret Merah (Andika Perkasa, Akmil 1987), sementara wakilnya dari Baret Hijau (Tatang Sulaiman, Akmil 1986). Pos bintang tiga lainnya, juga diisi perwira Baret Merah, yakni Letjen M Herindra (lulusan terbaik Akmil 1987).

Merujuk mutasi baru-baru ini, perwira Baret Merah yang masuk posisi strategis di level bintang dua adalah Mayjen TNI Maruli Simanjuntak (Akmil 1992) sebagai Komandan Paspampres. Sementara dari Baret Hijau adalah Brigjen Tri Yuniarto (lulusan terbaik Akmil 1989, kini Direktur Doktrin Kodiklatad), yang diangkat sebagai Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad. Meski sebenarnya Try Yuniarto bukan Baret Hijau sepenuhnya, karena sampai pangkat mayor sempat bertugas di Kopassus, sebelum kemudian pindah tugas ke Kostrad, sebagai Wakil Danyon Linud 305/Tengkorak dan Komandan Yonif 303/Raider.

Tiga perwira yang kita bahas di awal tulisan ini bisa juga menggambarkan upaya menjaga keseimbangan distribusi jabatan dimaksud. Bila M Hasan dan Widi Prasetiyono berasal dari Baret Merah, sementara Kunto Arief berasal dari Baret Hijau. Di masa lalu, Kunto pernah bertugas pada pasukan di bawah Kostrad dan Kodam V/Brawijaya, antara lain Komandan Kompi di Yonif 412/Kostrad (Purworejo), Komandan Yonif 500/Raiders (Surabaya), dan Komandan Brigif 13/Galuh Kostrad (Tasikmalaya).

Aris Santoso, Pengamat Militer

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR