Dampak Ekonomi Virus Corona, Harga Jual Rumput Laut Terjun Bebas

Budidaya rumput laut di Nunukan secara ekonomi tertekan akibat serangan virus corona (ilustrasi)

Isu virus n-COV 2019 telab mengakibatkan perekonomian terdampak khususnya menyangkut perdagangan ekspor impor ke negeri Tiongkok. Dampak ekonomi virus corona itu kini dirasakan oleh masyarakat di Nunukan.

Bagi Kabupaten Nunukan Kalimantan utara yang mayoritas komoditi ekspornya dikirim ke negeri tirai bambu ini, menurunnya harga jual komoditi rumput laut cottoni ke Cina, berimbas langsung dengan sangat telak pada penurunan ekonomi masyarakat..Harga rumput laut Nunukan anjlok dari standar Rp.17.000 ke harga Rp.10.000.

Bahkan diprediksi trend penurunan harga rumput laut bakal terus berlanjut selama kondisi China masih belum stabil akibat musibah virus yang melanda. Pengusaha rumput laut Nunukan Kamaruddin yang merupakan ketua Koperasi Sejahtera Mamolo mengatakan, tren penurunan harga mau tak mau harus diterima oleh petani rumput laut.

“Petani tidak bisa menahan hasil panen untuk tidak dijual, mereka banyak kebutuhan, harus bayar bank, melunasi cicilan atau kredit dan semacamnya, jadi biar harga begitu turun drastis, mau tak mau mereka tetap menjual,”ujarnya, Sabtu (8/02/2020).

Memang tujuan pengiriman rumput laut Nunukan 70 persen dikirim ke Tiongkok, meskipun dalam prakteknya mereka mengirim ke Sulawesi atau Surabaya yang sebenarnya hanya transit.

Oleh sebab itulah, isu merebaknya virus corona memiliki dampak dalam lesunya rumput laut yang merupakan komoditi andalan Nunukan ini.

“Kalau kondisi China masih begini, harga rumput laut akan terus anjlok bahkan di bawah Rp.10.000, buyer juga akan berfikir untuk pembelian jumlah banyak, apalagi kualitas rumput laut Nunukan tak sebagus wilayah lain,”katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Nunukan Dian Kusumanto mengamini anjloknya harga rumput laut, bahkan bukan hanya rumput laut, komoditi ekspor lain yang juga mengalami kelesuan adalah sarang walet.

“Info yang saya dapat dari salah satu pemilik sarang walet, dia jual di harga Rp.9 juta perkilo padahal biasanya itu Rp.15 juta atau lebih,”katanya.

Belum ada data pasti yang dimiliki Dinas Perdagangan terkait berapa kuantitas sarang walet yang dieksport dari Nunukan atau nilai rupiah yang dihasilkan setiap bulannya, belum adanya regulasi atau Perda tentang sarang burung walet membuat kendala data tak terakomodir di Pemkab Nunukan.

Sedangkan untuk rumput laut, petani Nunukan menghasilkan rata rata 3.000 sampai 4.000 ton setiap bulan, berkurangnya jumlah penjualan dan minat buyer akibat merebaknya virus yang ditengarai berasal dari Wuhan China berimbas pada nominal rupiah yang entah sampai kapan akan berakhir.

Menurut Dian, salah satu solusi untuk persoalan anjloknya komoditi ekspor, rumput laut dan sarang burung walet, buyer dan eksportir seharusnya memperluas wilayah ekspor, dengan banyaknya negara tujuan, gangguan di satu titik bisa teratasi dengan titik lain.

“Kembali kepada eksportir, kalau mereka memiliki pilihan lain, seperti Korea, Jepang, Eropa dan Amerika, tentu permasalahan begini tidak lagi masalah,” punkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR