Danki Brimob Nunukan: Olah Raga Menembak Bukan Hanya Untuk Orang Kaya

Foto :Danki Kompi 3 Batalyon A Pelopor Sat Brimob Nunukan, Polda Kalimantan Utara, Budi Utomo.

Olah raga menembak makin hari makin banyak diminati. Sebagaimana juga yang terjadi di Nunukan, Kalimantan Utara, jumlah anggota organisasi penembak seperti Perbakin pun juga kian bertambah. Namun bagi sebagian besar masyarakat saat ini hanya berandai-andai kendati menaruh minat terhadap olah raga yang bersepti sangat tinggi ini.

Bagi masyarakat, olah raga menembak hanyalah bisa dilalukan oleh kalangan tertentu atau yang telah mapan dalam ekonomi. Mahalnya harga senapan dan vasilitas penunjang lainya dari olah raga ini semakin menciutkan minat masyarakat untuk sekedar ikut berlatih.

Menanggapi fenomena dan anggapan ditengah masyarakat seperti itu, Komandan Kompi (Danki) Brimob Pelopor A Batalyon 3 Nunukan Iptu Budi Utomo meluruskan hal tersebut dan mengatakan bahwa anggapan masyrakat adalah salah. Budi menegaskan bahwa olah raga menembak sejatinya adalah sama dengan cabang olah raga lainya.

“Olah raga menembak butuh vaslitas dan biaya, itu memang benar. Tapi menganggap bahwa hanya orang kaya yang layak berprestasi di cabor menenbak, itu pendapat yang salah,” ungkap Budi disela-sela Penutupan Lomba Menembak Reaksi dan Presisi di Lapangan Tembak Asrama Brimob Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (23/12/2018).

Lebih lanjut Budi mengungkapkan bahwa untuk menyikapi pandangan masyarakat tentang Cabor Menembak, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pembinaan kepada siapapun masyarakat di Nunukan yang menaruh minat dan ingin mengukir prestasi melalui olah raga ini.

“Ini perlu kita lakukan agar tak ada lagi mindset sebgaian masyarakat tentang adanya batas untuk meraih prestasi hanya karena terbentur biaya,” ujarnya.

Pria yang juga dikenal peramah kepada masyarakat Nunukan itu mencontohkan yang dialami I Gustin Arinda Putri sebelum menjadi atleet nasional seperti saat ini. Budi mengungkapkan bahwa sebelum mendapat predikat atleet nasional, Putri juga melewati masa-masa memprihatinkan seperti terancam gagal ikut event karena terbentur dana.

Tapi karena melihat keteguhan tekat dan juga karena mempertimbangkan prestasi baik saat latihan maupun di arena lomba sebelumnya, membuat semua anggota Perbakin dan para penembak lain melakukan patungan dana demi si Atleet.

“Dan sekarang bukan hanya masyarakat Nunukan tapi juga pengakuan terhadap prestasi Putri datang dari seluruh Indonesia. Inilah yang akan kita wujudkan sama-sama, yakni optimisme serta kegotong royongan,” tandas Budi.

Senada dengan Budi, Pelatih Menembak Nunukan Hardi menegaskan bahwa selalu ada jalan selama ada perjuangan untuk meraih prestasi. Menurutnya, tak mungkin para Penembak di Nunukan akan berpangku tangan melihat seorang atllet harus mengkandaskan cita-citanya.

“Jika kita melihat bahwa seorang atleet tersebut mempunyai nilai plus saat latihan, pasti kita akan dampingi sampai ke arena. Ibaratnya gini, ketika si atleet hanya pejalan kaki sementara lomba yang dilaui mengharuskan dia menaiki kendaraan, ya kita akan usahakan agar si atllet itu mendapat kendaraan,” ungkapnya.

Hardi juga menduga bahwa anggapan masyarakat terhadap Cabor Menembak hanya untuk kalangan tertentu karena kurangnya informasi mengenai fakta dari olah raga menembak yang sebenarnya. Hardi menghawatirkan bahwa anggapan tersebut tak dipangkas, maka akan mempengaruhi bibit-bibit berbakat yang bercita-cita menjadi seorang atleet Menembak.

“Tidak tertutup kemungkinan, banyak bibit -bibit berprestasi di Nunukan ini yang tak bisa muncul karena adanya anggapan yang salah ditengah masyarakat. Dan untuk meluruskan anggapan salah ini, adalah tugas kita bersama terutama media” pungkas Hardi.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR