DAYA SAING INDONESIA MASIH RENDAH

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

JAKARTA – Pro kontra terhadap MEA terus bergulir. Pada 2013 lalu, sejumlah ekonom dalam Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), bahkan menilai bahwa Indonesia belum siap menghadapi MEA. Pelaku ekonomi, Teddy Wibisana, memiliki pandangan serupa.

“Bagi Indonesia, ini bukan soal siap atau tidak siap. Tapi soal sejauh mana kita telah mempersiapkan diri untuk memasuki mekanisme ekonomi itu”, ungkapnya.

Salah satu faktor yang menurutnya cukup mempengaruhi kesiapan Indonesia adalah masih belum terlalu kuatnya daya saing Indonesia, terutama di sektor sumber daya manusia. Pergerakan dan arus sektor ini justru jadi salah satu isu utama MEA.

Menurut The Global Competitiveness Report 2015-2016 yang dikeluarkan  Forum Ekonomi Dunia (WEF), seperti dilansir Bloomberg, Rabu (30/9/2015), daya saing Indonesia pada tahun 2015 masih berada di posisi 37 dunia dengan nilai 4,52 atau turun 3 peringkat dibandingkan tahun 2014 lalu. Bandingkan dengan daya saing Negara ASEAN lainnya.

daya-saing-Indonesia-pada-tahun-2015

SDM Indonesia memang unggul secara kuantitas. Menurut data Bank Dunia 2013, jumlah angkatan kerja produktif Indonesia usia 15-55 tahun adalah 118 juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding negara ASEAN lainnya seperti Vietnam (53 juta) Malaysia (13 juta), serta Singapura (3 juta).

Namun sebaliknya, kualitas SDM Indonesia masih jauh di bawah negara-negara tersebut. Laporan Human Development Index (HDI) UNDP 2014 menempatkan Indonesia di urutan 108 dan termasuk pada kategori negara-negara Medium Human Development.

Peringkat HDI Indonesia Diantara Negara-negara ASEAN 2014

Sumber: UNDP, 2014
Sumber: UNDP, 2014

Pengembangan sektor SDM sebetulnya telah menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya adalah lewat Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

Masterplan ini memuat rencana strategis percepatan pembangunan suatu wilayah dengan membangun konektivitas antara infrastruktur, pengembangan kebijakan, dan SDM-IPTEK. Program nasional ini disesuaikan dengan Rencana Jangka Panjang Nasional (RPJPN), dengan menargetkan pendapatan per kapita sebesar 13 juta-15 juta rupiah pada tahun 2025. (na).

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR