Deddy Sitorus: Pembangunan Insfratruktur di Perbatasan Adalah Cara Memangkas Isolasi

Perbatasan antar negara adalah wilayah yang seharusnya dapat bersaing dengan negara tetangganya, lantaran wilayah perbatasan merupakan ‘wajah’ dari sebuah negara. Untuk itu pembangunan infrastruktur di perbatasan maupun pemberdayaan SDM nya perlu dilakukan.

Namun faktanya, beberapa wilayah perbatasan justru tak ubahnya seperti pedalaman yang baik akses komunikasi maupun akses transportasinya sangat minim sebagaimana yang terjadi di wilayah Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara.

“Ini sungguh sangat miris dan ironis karena wilayah yang kaya SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam) nya yang seharusnya menjadi wajah negara justru cenderung terisolasi,” ujar Politisi PDI Perjuangan , Deddy Sitorus kepada Pewarta, Jumat (14/3/2019).

Ucapan pria yang juga menjabat Wakil Direktur Relawan TKN Jokowi-Maruf tersebut sangat bersalasan. Karena sesuai fakta, diwilayah yang terdiri dari 5 Kecamatan dengan luas 1.837,54 km² tersebut hanya mengandalkan udara dalam akses transportasi. Hal itu lantaran sejak Republik Indonesia berdiri, hingga kini belum ada satupun akses jalan menuju wilayah yang berpenduduk lebih dari 5.000 jiwa itu.

Menurut Deddy kondisi bahwa akses trasportasi darat justru hanya ada dari dan menuju wilayah itu. Sehingga ungkap Deddy, hal itulah salah satu alasan warga di Perbatasan sedikit banyaknya mengalami ketergantungan dengan negara tetangga (Malaysia).

“Saya sudah lihat dengan mata kepala sendiri, satu-satunya jalan darat hanya ada dari Malaysia. Ya kalau gini caranya, jangan salahkan masyarakat di wilayah (Krayan) itu apabila mempunyai ketergantungan terhadap Malaysia,” imbuhnya.

Hal yang sama menurut Deddy juga dialami masyarakat yang tinggal di Lumbis Ogong, Nunukan. Perbedaanya menurut Deddy, apabila di Krayan masyarakatnya hanya dapat menggunakan Pesawat, sedangkan di Lumbis Ogong, masyarakat terpaksa menggunakan Perahu dalam sarana transportasinya.

“Masalahnya adalah sama, yakni tidak adanya jalan darat. Dan ini yg perlu segera ditangani. Karena sungguh sangat miris, di daerah agraris namun akses transportasinya malah udara dan maritim,” kata pria yang juga sebagai Wakil Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf tersebut.

Seperti halnya saudara-saudaranya di Krayan, masyarakat yang tingggal di Lumbis Ogong terpaksa menggunakan Perahu sebagai sarana transportasinya. Selain menempuh medan sungai yang arusnya sangat deras, jarak yang jauh, waktu yang lama, masyarakat Lumbis Ogong harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit.

Diketahui, untuk mencapai Mansalong (Ibu Kota Kecamatan Lumbis) masyarakat harus memempuhnya dengan waktu lebih dari 4 jam. Sedangkan apabila tak punya perahu sendiri, mereka terpaksa mencarternya dengan sewa sekitar 5-7 juta rupiah. Sedangkan untuk mencapai kota-kota di Sabah – Malaysia seperti Nabawan dan Keningau, mereka hanya perlu waktu kurang dari 3 jam dan ongkos tak lebih dari Rp 500 ribu.

Namun hal tersebut menurut Deddy bukan sebuah hal yang tak bisa diatasi. Ia menyatakan akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk dengan Joko Widodo termasuk dibukanya akses jalan dari Malinau menuju Krayan maupun jalan dari Kecamatan Lumbis menuju Lumbis Ogong.

“Saya keliling di wilayah perbatasan sesungguhya bukan sekedar sosialisasi diri saya sebagai Caleg semata. Tapi juga untuk melihat permasalahan di Perbatasan. Dan semakin terpanggil jiwa saya untuk bersama-sama membangun perbatasan ini setelah saya melihat langsung dibeberapa titik dan kondisi,” pungkas Deddy.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR