Dewan Adat Dayak Agabag Berikan Penghargaan Warga Kehormatan

Penerima Penghargaan dari Mubes VIII Dewan Adat Dayak Agabag: Bupati Nunukan Asmin Laura (paling kiri), Teddy Wibisana-Ketua Almisbat (tengah), DR Johanes Djaban: Antropolog dan Peneliti (kedua dari kanan)

Dalam acara Ilau (pesta besar) masyarakat Dayak Agabag di tahun ini, Dewan Adat Dayak Agabag memberikan penghargaan pada tiga orang yang dianggap berjasa bagi masyarakat dayak Agabag. Penghargaan diberikan kepada : Bupati Nunukan: Asmin Laura, Doktor Antropologi dan Peneliti, Johanes Djaban, dan Ketua relawan Jokowi Almisbat (Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat): Teddy Wibisana. Dewan Masyarakat Adat Dayak Agabag menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas penghargaan yang diberikannya.

Hermanus, salah satu pemuka masyarakat Dayak Agabag, yang juga anggota DPRD Propinsi Kaltara menjelaskan, keputusan kepada siapa dan apa alasan pemberian penghargaan sebagai warga kehormatan Dayak Agabag diberikan, dibahas dengan seksama dan menyeluruh di tingkat Dewan Adat oleh para pengurus dan tetua adat.

“Penghargaan itu tidak diberikan dengan serampangan, apalagi hanya berdasarkan pertimbangan politik. Masyarakat Agabag berperan di berbagai partai politik. Jadi pendekatannya tentu bukan kepentingan politik, tetapi kepentingan masyarakat,” ujar Hermanus.

Lumbis Ketua Dean Adat Agabag

Sementara Lumbis, Ketua Masyarakat Adat Dayak Agabag tungkat Propinsi menjelaskan, bukan hanya mereka yang diberikan penghargaan yang diseleksi dengan ketat, sebaliknya Dewan Adat Dayak akan bertanggungjawab terhadap mereka yang telah menerima penghargaan.

“Kami memberikan penghargaan kepada mereka sebagai warga kehormatan, menjadi saudara kami. Maka kami bertanggungjawab untuk membantunya, selayaknya saudara,” urai Lumbis.

Penghargaan Adat

Teddy Wibisana salah seorang penerima penghargaan, kepada wartawan mengutarakan penghargaannya kepada masyarakat Dayak Agabag yang telah memberikan penghargaan kepada dirinya. Menurutnya, ia merasa berkesan dan bangga, dan ini menjadikan amanah baginya untuk mencontoh sikap positif yang dikembangkan masyarakat Dayak Agabag.

“Saya merasa bangga mendapat penghargaan dan dan diakui sebagai bagian dari masyarakat yang berhati besar dan terbuka. Kita bisa lihat betapa mereka terbuka dengan masyarakat di luar mereka. Beragam pendatang memenuhi bumi mereka. Mereka tidak tinggi hati sebagai masyarakat asli atau mayoritas, mereka juga tidak takut dengan adanya pendatang mereka akan menjadi minoritas. Dan yang menarik, mereka berada diperbatasan, yang berbatasan daratan langsung dengan Malaysia. Dengan segala perbedaan sosial ekonomi dengan masyarakat tetangga, tapi mereka tetap cinta tanah air,” urainya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR