Dewan Adat Dayak Nunukan Bertekad Untuk Membumikan Pancasila di Perbatasan

Ketua Dewan Adat Dayak Nunukan, Selutan Tadem (19/1/2018) mengajak semua komponen masyarakat diNunukan untuk berperan aktif menjaga keharmonisan di Perbatasan. Foto :Eddy Santry

Bertempat di Ballroom Laura Hotel,Jl. A Yani, Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (18/1/2018), kepengurusan Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Nunukan resmi dikukuhkan. Pengambilan Sumpah dan Janji dipandu oleh Ketua DAD Kalimantan Utara, Marthin Billa yang sekaligus sebagai pertanda dilantiknya kepengurusan tersebut.

Kepengurusan Lembaga yang terdiri dari Dayak Agabag, Lundayeh, Tagol, Okolod dan Kenyah tersebut mengamanahkan kepada Selutan Tadem sebagai Ketua dan Lumbis sebagai Skretaris. Seusai dikantik, Selutan Tadem mengungkapkan bahwa mustahil persatuan dan kesatuan terutama di perbatasan akan tercapai apabila masyarakat enggan terlibat merangkai kebersamaan. Untuk itu Selutan mengajak semua masyarakat Dayak dan semua komponen di Nunukan untuk berperan aktif dalam menjaga keharmonisan di Perbatasan.

“Kami (Dewan Adat Dayak akan terus menjaga silaturahim dengan etnis-etnis lain yang ada di Kabupeten Nunukan ini akan bersinergi dengan pihak TNI,Polri maupun Pemkab demi terwujudnya kehidupan yang harmonis di wilayah Perbatasan ini,” ucap pria yang juga merupakan salah seorang Tokoh Dayak Lundayeh tersebut.

Pelantikan Dewan Adat Dayak Kabupaten Nunukan di Ballroom Laura Hotel, Nunukan, Kalimantan Utara. Foto: IndeksBerita
Pelantikan Dewan Adat Dayak Kabupaten Nunukan di Ballroom Laura Hotel, Nunukan, Kalimantan Utara. Foto: IndeksBerita

Hal senada juga disampaikan Sekretaris DAD Kabupaten Nunukan, Lumbis. Aktivis Perbatasan yang juga Tokoh Muda Dayak Agabag tersebut menegaskan bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia dengan sumber daya alam yang melimpah dan kemajemukan masyarakatnya yang terdiri dari ribuan etnis.

Dengan potensi alam yang melimpah tersebut menurut Lumbis, adalah sebuah kemungkinan menimbulkan rangsangan bangsa lain untuk menguasai Indonesia. Dan salah satu cara bangsa lain mengusasi Indonesia adalah dengan membenturkan etnis satu dengan lainya. Dan wilayah Perbatasan adalah celah paling tepat dari agenda tersembunyi pihak-pihak yang ingin merobohkan NKRI.

“Disamping teras negara, Nunukan ini adalah miniatur serta wajah negara Indonesia. Dan sebagai penduduk asli di wilayah ini, maka sudah menjadi kewajiban kami menjadi Katalisator terwujudnya kedamaian di tapal batas ini,” ujar Lumbis,Jumat (19/1/2018).

Sekretaris Dewan Adat Dayak Kabupaten Nunukan, Lumbis. Foto: Eddy Santry
Sekretaris Dewan Adat Dayak Kabupaten Nunukan, Lumbis. Foto: Eddy Santry

Lumbis juga mengungkapkan bahwa bahwa potensi konflik di setiap wilayah itu ada karena itu merupakan bentuk ujian dari Yang Maha Kuasa. Tapi kedewasaan berfikir serta kesadaran dari semua komponen masyarakat dalam mengejawantahkan Bhineka Tunggal Ika sebagai jalan bangsa sehingga dapat meredam perpecahan.

“Bersyukurlah kita punya Pancasila. Karena Pancasila adalah saripati dari dari kearifan lokal yang ada diseluruh Indonesia tak terkecuali di Perbatasan ini. Maka tidak ada alasan buat kami Dewan Adat Dayak untuk tidak menjadikan Pancasila sebagai nafas sehari-hari masyarakat Dayak di wilayah perbatasan,” tegas Lumbis.

Lumbis juga mengakui bahwa hingga saat ini tidak sedikit masyarakat di perbatasan terutama yang tinggal di Lumbis Ogong dan Krayan yang masih merasakan kesenjangan pembangunan. Melalui Dewan Adat Dayak tersebut, Lumbis mengungkapkan dapat semakin terjalin kegotong royongan dalam memperjuangankan aspirasi masyarakat Perbatasan.

“Dewan Adat Dayak akan menjadi wadah kebersamaan. Sehingga kedepan tidak ada lagi kesenjangan pembangunan yang dialami warga perbatasan,” pungkas pria yang juga merupakan Penasehat Almisbat Kalimantan Utara tersebut.

BAGIKAN

4 KOMENTAR

  1. Terharu rasanya baca berita ini. Mereka yg sering kita pinggirkan ternyata mampu menerapkan Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari2.

TINGGALKAN KOMENTAR