Dialog Imajiner: “Kalau Pak Hasyim Bertemu Gus Dur di Surga”

Gus Dur sedang leyeh-leyeh sembari menikmati alunan musik klasik karya Beethoven di peristirahatan abadinya. Tiba-tiba Gus Dur kedatangan tamu. Sang tamu tentu bukan asing bagi Gus Dur, dialah Pak Hasyim. Mereka kemudian berbincang ngalor-ngidul melepas kerinduan antara dua sahabat. Keduanya pernah memimpin PB NU.

Gus Dur: “Piye kabare Tanah Air?
Pak Hasyim: “Baik gus. Secara umum ya begitu, perjalanan bangsa sudah di jalur yang benar. Tapi gus, di beberapa bidang masih ada masalah. Misalnya DPR, kini menempati urutan pertama dalam hal korupsi. Korupsi sangat sulit diberantas. Sekarang sedang ramai korupsi E-KTP. KPK sedang mengusut tuntas korupsi ramai-ramai itu.”

Gus Dur: “Lha dari dulu sudah saya sudah bilang DPR itu seperti TK. Apa gak nai-naik kelas? Indonesia itu negara paling kaya di dunia tapi menjadi melarat karena para koruptor tidak ditindak dengan tegas”
Pak Hasyim: “Iya gus sampean bener. Sesungguhnya tidak ada pejabat yang suka KPK di negara mana pun. Gak mungkinlah pejabat korupsi suka diawasi, apalagi di Indonesia jumlahnya masya Allah luar biasa. Politik itu kalkulasi. Jadi orang politik kemana-mana membawanya kalkulator, bukan tasbih.”

Gus Dur: “Sampean bisa aja he he he. Yang lagi ramai apalagi Pak Hasyim?”
Pak Hasyim: “Itu gus, perusahaan tambang di Papua yang sudah puluhan tahun menikmati ribuan ton emas sepertinya makin susah diatur. Mereka seolah menantang pemerintah yang menerapkan Undang Undang Minerba yang baru.”

Gus Dur: “He he he gitu aja kok Freeport! NU piye sekarang?”
Pak Hasyim: “PB NU ya gus? He he he kita harus bisa membedakan mana pengurus dan mana yang menjadi urusan. Tapi para kyai kini sibuk mempromosikan Islam Nusantara. Agar dunia tahu bahwa Islam tidak hanya terpusat di Arab atau Afrika tapi juga di Asia Tenggara. Tentu disertai dengan sifat toleran, akomodatif terhadap budaya lokal dan anti radikalisme atau terorisme. Anak-anak muda NU juga giat promosi Islam Nusantara ke Eropa, Amerika dan Australia gus.”

Gus Dur: “Wah saya senang mendengarnya Pak Hasyim. Memang Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita menjadi budaya Arab. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya. Tapi bukan budaya Arabnya.”
Pak Hasyim: “Betul gus. Walisongo mengislamkan orang. Wali celana cingkrang mengkafirkan orang Islam. Itu jelas bukan karakter Islam. Karakter Islam terletak pada kelembutannya.”

Gus Dur: “Ya, mereka lupa bahwa Indonesia bukan negara agama, tapi negara beragama. Ada enam agama yang diakui di Indonesia, jadi ya hargai dong lima agama yang lain.”
Pak Hasyim: “Mereka bahkan tak meneladani Rasulullah. Di sini bedanya, Nabi Muhammad dengan Muhammad yang belakangan ini. Kenapa Rasulullah membuat Piagam Madinah bukan Piagam Negara Islam? Karena saat itu di Madinah ada agama Yahudi, agama Kristen dan agama masyarakat setempat. Semua diberi ruang untuk mengembangkan kehidupannya tanpa membedakan latar belakang agama yang berbeda. Tidak harus merasa besar sendiri, merasa menang sendiri.”

Gus Dur: “Ya Pak Hasyim. Kemajemukan harus diterima tanpa adanya perbedaan. Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”
Pak Hasyim: “Betul gus. Tapi laporan penelitian The Wahid Institute yang dipimpin mbak Yenny menunjukkan radikalisme di Indonesia masih mengkhawatirkan walaupun prosentasenya kecil. Radikalisme sekarang memapar anak-anak usia SMA. Mereka menjadi radikal antara lain karena membela Tuhan.”

Gus Dur: “Hehehe Tuhan kok dibela. Tuhan yang mahabesar, mahaagung dan mahakuasa tidak perlu dibela. Yang memerlukan pembelaan adalah manusia yang tertindas dan dianiaya.”
Pak Hasyim: “Setuju gus. Anak-anak muda yang sok radikal itu mungkin mereka salah paham, pahamnya yang salah atau gak paham-paham tentang Islam yang lembut.”

Gus Dur: “Apa lagi yang sedang ramai di Tanah Air Pak Kyai?”
Pak Hasyim: “Itu gus, Pilkada 2017 di Jakarta sepertinya mirip Pilpres 2014. Pilkada rasa pilpres Masyarakat seolah terbelah menjadi dua. Mereka berbeda baik itu politisi, ulama maupun masyarakat biasa. Tapi jangan-jangan ini bukan soal beda pendapat tapi beda pendapatan.”

Gus Dur: “Biarlah rakyat yang menentukan. Keberhasilan seorang pemimpin itu diukur dari kemampuan mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin. Dan tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”
Pak Hasyim: “Betul gus. Gus Dur telah memberi teladan. Tapi gus, saya kadang-kadang berpikir, ini negara non muslim, barang yang hilang, kok ketemu semua. Sementara di negara yang mayoritas Islam, barang yang ada, hilang semua.”
Gus Dur: “He he he Pak Hasyim bisa aja….”

(Mari kita berdoa untuk dua guru bangsa Gus Dur dan Pak Hasyim)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR