Diskusi Bersama Pendiri Gerakan Pustaka Bergerak Nirwan Arsuka di Sanggar Maos Tradisi

Melalui desakan para aktivis literasi, Presiden Jokowi setuju menggratiskan pengiriman buku sehari dalam sebulan oleh PT Pos Indonesia. Sejarah membuktikan bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai buku dan ilmu pengetahuan. Jepang melesat maju menyamai bangsa Eropa setelah menerjemahkan banyak buku-buku Barat. Cina kini mengungguli Amerika Serikat karena sejak era Deng Xioping mengirim ribuan mahasiswa ke AS. Jauh ke belakang, peradaban Islam juga maju setelah menerjemahkan buku-buku karya besar Yunani, Persia dan India.

Itulah pengantar dari Nirwan Ahmad Arsuka, pegiat gerakan Pustaka Bergerak, tentang pentingnya buku bagi kemajuan bangsa, di Sanggar Maos Tradisi, Sleman, DIY (20/4). Melalui gerakan Pustaka Bergerak yang dirintis sejak 2014 kini telah menjangkau 1500 titik dan mempunyai 10.000 relawan di seluruh Indonesia. Pustaka Bergerak kini memiliki belasan lini di berbagai pelosok tanah air. Mulai Kuda Pustaka, Perahu Pustaka, Noken Pustaka, Bemo Pustaka, Motor Pustaka, Jamu Pustaka, Serabi Pustaka, Motor Tahu Pustaka, dan masih banyak lainnya.

Menurut penulis buku “Semesta Manusia”, yang baru saja diluncurkan, upaya swadaya masyarakat menyebar buku ke berbagai desa di daerah terpencil kemudian dibantu pemerintah. Melalui desakan para aktivis literasi akhirnya Presiden Jokowi setuju menggratiskan pengiriman buku sehari dalam sebulan oleh PT Pos Indonesia. Kini gairah pengiriman buku ke seantero tanah air meningkat.

Buku Semesta Manusia karangan Nirwan Ahmad Arsuka, yang juga pegiat gerakan Pustaka Bergerak
Buku Semesta Manusia karangan Nirwan Ahmad Arsuka, yang juga pegiat gerakan Pustaka Bergerak

Nirwan merasa beruntung karena bertemu dengan banyak orang yang memiliki kepedulian dan tujuan yang sama untuk menyebarkan virus literasi seperti dirinya. Selama beroperasinya Pustaka Bergerak, Nirwan tidak menjanjikan keuntungan materi apa pun kepada kawan-kawan yang mendukung. Kebanyakan mereka telah memiliki akar kepedulian masing-masing. Mereka peduli agar anak-anak tidak kekurangan bacaan. Pustaka Bergerak menurut Nirwan mampu merobohkan tembok psikologis yang biasanya ada di perpustakaan yang tidak bergerak.

Ia memberi contoh Perpustakaan Freedom Institute. Anak-anak yang tinggal di sekitar perpustakaan Freedom Institute jarang berkunjung ke perpustakaan yang cukup mewah itu. Umumnya anak merasa segan dengan kondisi perpustakaan yang bagus.

Moh. Thoriq mengusulkan agar upaya yang selama ini sifatnya individu mestinya ditingkatkan dengan manajemen yang baik. Mantan aktivis pers mahasiswa Balairung UGM (Nirwan Arsuka konon tak diterima di Balairung) ini memberi contoh Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar mampu menggalang dukungan banyak pihak sehingga banyak relawan dikirim ke daerah-daerah yang membutuhkan relawan atau guru.

Arie Sujito pendiri Sanggar Maos Tradisi, menanggapi ide agar sekian persen dana desa diperuntukkan pengembangan literasi misalnya pengadaan buku atau perpustakaan desa. Menurut Ketua Deparetemen Sosiologi UGM itu, memanfaatkan dana desa untuk buku adalah ide yang baik.

Nirwan Ahmad Arsuka, pegiat gerakan Pustaka Bergerak, dalam diskusi di Sanggar Maos Tradisi, Sleman Jogyakarta. (Foto Tri Agus)
Nirwan Ahmad Arsuka, pegiat gerakan Pustaka Bergerak, dalam diskusi di Sanggar Maos Tradisi, Sleman Jogyakarta. (Foto Tri Agus)

Namun tambahnya, sebaiknya jangan dijadikan kebijakan top down misalnya melalui Permen dari kementerian. Dikhawatikan ini akan jadi proyek. Arie justru menantang agar para aktivis literasi atau relawan Pustaka Bergerak ikut dalam musyawarah desa merumuskan RAPBDes. Di sanalah diusulkan pentingnya menganggarkan untuk buku atau perpustakaan desa.

John Tobing mengingatkan agar relawan Pustaka Bergerak dapat meninggalkan desa yang didampingi setelah bisa dipastikan tak ada masalah. Jangan sampai, kata pencipta lagu legendaris “Darah Juang” ini, ketika desa itu tak ada lagi relawaan buku, gairah membaca kembali kendor.

Nirwan Arsuka, alumnus Teknik Nuklir UGM, menambakan pentingnya Dewan Buku Nasional untuk memeringkatan buku-buku baik secara reguler misalnya tiap tahun.

“Hal ini agar jangan sampai ada buku tak bermutu, misalnya, tentang kampanye poligami dikirim ke desa-desa,” ujarnya.

Bagi Nirwan, sebenarnya kiriman buku itu hanya sebagai pemicu agar warga desa pada akhirnya mempunyai kebiasaan membaca dan mencari sendiri buku yang dibutuhkan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR