Dokter Penyebar Hoax Remaja Tewas Ditembak, Ditangkap Polisi

Keterangan foto : Dirkrimsus Polda Jawa Barat, Kombes Pol Samudi dalam jumpa Pers penangkapan seorang Dokter penyebar hoax tentang korban kerusuhan 21-22 Mei di Jakarta

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat menangkap seorang dokter penyebar hoax berinisial DS, pada Senin 27 Mei 2019 malam. Menurut Dirkrimsus Polda Jawa Barat, Kombes Pol Samudi, pria yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut ditangkap lantaran mengunggah berita bohong melalui media sosialnya.

“Pria yang juga doktor S3 dan mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung itu mengunggah berita berita bohong di media sosial Facebook miliknya terkait tewasnya seorang anak saat peristiwa 22 Mei 2019 di Jakarta,” ujar Samanhudi, Selasa (28/5/2019).

Adapun isi kabar bohong (hoax) yang di sebarkan DS sebagai berikut :

“Malam ini Allah memanggil hamba-hamba yang di kasihinya. Seorang remaja tanggung, menggenakan ikat pinggang berlogo osis, diantar ke posko mobile ARMII dalam kondisi bersimbah darah. Saat diletakkan distetcher ambulans, tidak ada respon, nadi pun tidak teraba. Tim medis segera melakukan resusitasi. Kondisi sudah sangat berat hingga anak ini syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Tim medis yang menolong tidak kuasa menahan air mata. Kematian anak selalu menyisakan trauma. Tak terbayang perasaan orang tuannya. Korban tembak polisi seorang remaja 14 tahun tewas.”

Facebook milik DS diketahui terbuka untuk umum sehingga postingan tersebut sontak mendapat perhatian nitizen (sebutan untuk pengguna media sosial). Tak sedikit yang langsung membagikan unggahan DS tersebut dan tak sedikit pula yang mengungkapkan kemarahanya kepada Polisi.

Status DS tersebut kemudian dilaporkan pada 26 Mei 2019. Unit Kriminal Siber Polda Jabar yang melihat unggahan tersebut langsung melacak dan mendeteksi keberadaan pelaku.

Sementara itu didepan awak media, DS mengaku bahwa informasi tersebut ia dapat dari orang lain. Kemudian dia unggah di akun Facebooknya dengan cara copas (cppy paste). DS menyatakan hanya bermaksud untuk bahan diskusi.

“Itu saya copas (copy paste). Tadinya hanya untuk bahan diskusi saja bagaimana cara kita netralisir,” ujarnya.

Samudi sangat menyayangkan apa yang dilakukan pria berpendidikan seperti DS. Padahal, seorang pengajar dan dokter, menurut Samudi, seharusnya memberikan pemahaman edukasi ke masyarakat pengguna media sosial.

“Harusnya kalau ada berita yang tidak benar ini saring dulu tapi jangan di-share. Jangan ini berita-berita yang tidak jelas, belum tentu kebenaran ini langsung di tambahi dibumbui kemudian di-share,” katanya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR