Dua Mata Tombak Solusi BUMN: Model Bisnis dan Leadership Center

Gambar ilustrasi tak terkait langsung dengan isi berita

BUMN sedang mengalami krisis kepemimpinan di tingkat pimpinan kelompok unit usahanya. Kinerja kurang baik, seperti yang diungkap Erick Thohir bahwa dari 142 perusahaan hanya 15 yang bisa berkontribusi kepada negara.

Indikator unjuk kerja seorang CEO (chief executive officer) pada dasarnya adalah kinerja yang baik di hasil akhir maupun proses (processes and results indicators). Supaya kerja CEO bisa efektif dan efisien, perlu ditetapkan indikator-indikator kunci yang bisa mencerminkan hasil yang memuaskan. Biasa dikenal dengan istilah KPI (key performance indicators). KPI adalah hasil pilihan dari berbagai macam PI (performance indicators) di hasil (akibat) maupun di proses (sebab) yang dianggap prioritas (menggunakan prinsip Paretto, the paretto-principle).

Lantaran proses manajemen adalah termasuk dalam kancah proses-proses sosial dimana banyak faktor berkelindan di dalamnya, agak terburu-buru jika identifikasi kinerja ini adalah dianggap sebagai hasil suatu proses sebab-akibat. Maka dalam ilmu manajemen indikator-indikator ini biasanya disebut sebagai lead-indicators (sebagai yang mengawali) dan lag-indicators (sebagai yang mengikutinya). Bisa sebagai hubungan sebab-akibat namun bisa juga hubungannya hanya bersifat korelatif.

Tentu sebagai pimpinan puncak CEO paling bertanggungjawab atas hasil akhir, yaitu penciptaan nilai tambah korporasi, atau profitabilitas dalam spektrum waktu yang disepakati bersama para pemangku kepentingan korporasi.

Perspektif keuangan yang tercermin dalam beberapa rasio keuangan (ROA, ROI, ROE, dll) maupun persentase tingkat pertumbuhan (growth-rate) bisa jadi patokan. Atau bisa juga memakai ukuran perbandingan (komparasi) atau benchmark dengan indikator best-practices lainnya.

Namun perlu disadari bahwa hasil keuntungan keuangan (financial results) itu tidak datang begitu saja. Ada 3 (tiga) lead-indicators lain yang menopang keberhasilan kinerja keuangan: 1) aspek pasar/konsumen/pelanggan, lalu 2) aspek proses internal perusahaan, apakah prosesnya paling efisien dan efektif dalam menghasilkan barang/jasa, dan akhirnya 3) aspek manusia dalam organisasinya, apakah motivasi untuk terus belajar dan bertumbuh masih menyala dalam sanubari setiap pelaksana proses manajemen perusahaan.

Sehingga secara organisasi korporasi ini menjadi organisasi yang adaptif (bisa menyesuaikan diri dengan perubahan jaman) karena ia juga adoptif (bisa menyerap cepat dalam proses pembelajarannya terhadap hal-hal baru). Artinya terbuka, toleran dan tidak fanatik buta.

Innovativeness lahir dari organisasi pembelajar yang senantiasa mau keluar dari zona kenyamanan manakala lingkungan bisnis menuntut perubahan model bisnis lagi.

Financial results hanyalah lag-indicators (konsekuensi) dari keberhasilan korporasi memenangkan kompetisi di pasar. Dan kompetisi di pasar hanya bisa dimenangkan jika proses internal organisasi bisa bekerja dengan paling efisien dan efektif (dibanding pesaingnya). Supaya korporasi bisa punya keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif, maka anggota organisasi mesti terdiri dari talenta terbaik (the best talents) yang ada di lingkungan bisnis (lokal maupun global).

Dari pernyataan menteri BUMN Erick Thohir maupun menteri keuangan Sri Mulyani, tentang skandal di beberapa BUMN, termasuk BUMN keuangan (bank dan asuransi) kita disadarai bahwa pilar perekonomian bangsa sedang digerogoti. Resikonya ya bisa roboh bangunannya.

BUMN sebagai tiang utama dari ketiga soko guru perekonomian (dua lainnya adalah swasta dan koperasi) mestinya tegak berdiri dan jadi benchmark bagi pelaku bisnis dunia.

Pelaku bisnis swasta yang besar-besar masih banyak dicurigai lebih berciri ersatz-capitalism (seperti sinyalemen Prof.Yoshihara Kunio). Pseudo-capitalism, semacam kapitalisme-semu dimana pelaku usaha dan birokrat pemerintahan memanfaatkan keunggulan komparatif bangsa dengan seakan-akan berbisnis untuk ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Para kapitalis APBN/APBD ini de facto malah lebih cenderung menggerogoti anggaran ketimbang menciptakan nilai tambah dari persaingan di pasar global (domestik maupun internasional). Sementara UMKM kita masih perlu banyak pembinaan dan topangan kebijakan yang kondusif. Dan Koperasi kita belum cukup massif perkembangannya.

Pembenahan BUMN memang mesti dimulai dari restrukturisasi portofolio bisnis BUMN itu sendiri. Ini namanya pembenahan model-bisnis (structuring the business-model). Sedemikian rupa supaya perkembangan masing-masing BUMN tidak menganibal unit usaha sesama BUMN lainnya, tapi justu menciptakan sinergi.

Segera dan serentak dengan pembenahan model-bisnis adalah dengan menempatkan the right man on the right place (orang-orang yang tepat). Kalau Prof.Jim Collins menyarankan ‘first who, then what’, artinya ‘the right man behind the gun’ bersama tim yang akan dibangunnya itulah yang akan merumuskan arah dan strategi serta taktik operasional sehari-hari.

Tugas utama kementerian BUMN sesungguh ada pada 2 (dua) mata tombak utama: 1) tentukan bisnis-modelnya, area bisnis mana yang mau dijelajahi, 2) tempatkan orang-orang terbaik sebagai pimpinan disitu. Selebihnya adalah fungsi review (evaluasi) dan reward (motivasi). Yang pertama adalah memilih bisnis yang bisa memberi potensi return terbaik tanpa melupakan fungsi sosial BUMN sebagai instrumen negara. Keseimbangan ini mesti dipatok dengan sangat bijak (dan bebas kepentingan pribadi).

Setelah penentuan bisnis-model, segera dan serentak adalah membangun sentra kepemimpinan BUMN (leadership center).

Menyikapi krisis kepemimpinan BUMN yang berkepanjangan perlu direspon dengan solusi cepat maupun solusi antisipatif jangka panjang. Oleh karena itu yang perlu dibangun di kementerian BUMN adalah Leadership Centre, yang akan jadi pusat pengelolaan talenta (talent-management) BUMN.

Sentra ini mengelola data kepemimpinan bisnis terbaik di seluruh dunia yang setiap saat bisa diminta untuk masuk dalam armada kepemimpinan di unit usaha BUMN Indonesia. Targetnya adalah global company dengan KPI yang jelas dan terukur. Lalu mengevaluasi (review) dan memotivasi (reward) mereka.

Bersama para global-talents ini kementerian BUMN bisa senantiasa merumuskan kembali model bisnis terbaik (reshaping the best business model) dan merumuskan strategi usaha terbaik (reshaping the best business strategy) demi keunggulan kompetitif di tingkat global.

Kancah permainan para CEO BUMN Indonesia mestinya adalah perkembangan bisnis global (lewat ekspansi atau international merger & acquisitions), ini namanya organic and inorganic business development. Bukan jadi mucikari pramugari atau berkolusi dengan calo-calo minyak supaya bisa naik moge tanpa bayar pajak.

Andre Vincent Wenas, konsultan sekaligus politisi PSI
Andre Vincent Wenas, konsultan sekaligus politisi PSI

Penulis: Andre Vincent Wenas,DRS,MM,MBA. Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR