Dua Tahun Jokowi dalam Lelucon

screenshot Youtube

Dalam acara Mata Najwa minggu lalu, yang membahas masalah humor politik, Butet Kertarajasa dengan jujur mengatakan belum bisa mengritik Presiden Jokowi dengan alasan, “Saya mencintai pak Jokowi.” Dengan jawaban jujur raja monolog itu, kita belum akan mendengar Butet menirukan suara dan karakter Jokowi, entah sampai kapan. Sebelumnya Butet piawai menirukan suara dan sosok  Soeharto, Habibie, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tentu saja kita tetap bisa mengritik pemerintahan Jokowi-JK dengan lelucon. Humor akan mudah muncul untuk mengritik pemerintahan yang otoriter, namum humor juga bisa untuk mengritik pemerintahan demokratis tetapi tidak berjalan sesuai janji kampanyenya. Atau kita mengritik pemerintahan Jokowi justru karena kita ingin agar pemerintahan ini terus bekerja sesuai janjinya. Karena itu humor tentang pemerintahan Jokowi cukup beragam, ada yang mengitik ada pula yang memuji, dengan membandingkan presiden sebelumnya.

Istana selama dihuni Presiden Jokowi selalu sumringah. Netizen pernah dihebohkan dengan tayangan di Youtube aksi Jokowi dan Kaesang, anak bungsu, adu kuat panco. Melalui adegan itu Istana mengabarkan bahwa mereka adalah orang biasa yang suka bercanda. Selain canda biasa, Istana juga bisa bercanda secara politis. Saat di Senayan sedang hiruk pikuk kasus Papa Minta Saham dengan sidang Setya Novanto di Mahkamah Kehormatan DPR, Istana malah kedatangan tamu tokoh lelucon negeri ini seperti Butet, Indro Warkop, Tarzan, Parto dan lain-lain. Sungguh ini cara Istana menertawai Senayan.

Mari kita simak lelucon dari  Agus Noor lewat tulisan “Ketika Penguasa Jadi Lelucon” (Kompas 21/9/16). Lelucon pertama tentang pertemuan Jokowi dan Soeharto di suatu tempat antah berantah. Rupanya, Jokowi dan Soeharto punya kesamaan, yaitu suka blusukan. Suatu hari mereka bertemu. “Kenapa kamu tak membawa pengawal?” tanya Pak Harto. “Saya tak perlu pengawal. Saya cukup bawa banyak fotografer”, jawab Jokowi.

Lelucon di atas sangat mengena mengingat Jokowi sering “dituduh” melakukan pencitraan saat berkunjung ke suatu daerah. Terakhir banyak foto beredar Jokowi berjalan di pantai Pulau Miangas lalu mencuci muka dengan air laut. Seringnya tuduhan melakukan pencitraan ini, kemudian Jokowi selalu dibandingkan dengan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. “Dua presiden terakhir berbakat seni. SBY berbakat menyanyi, Jokowi berbakat foto model.” Di media sosial juga kita temukan meme Jokowi sedang bermain gitar pemberian dari personel Metalica. Pada meme itu ada tulisan “Dua Tahun di Istana tak satu pun lagu diciptakan. Beda dengan presiden sebelumnya yang mencipta lima album.”

Kerja, kerja dan kerja adalah slogan Jokowi. Karena itu presiden tak suka kerja lambat termasuk lambatnya kerja di pelabuhan. Setelah mendapat laporan dari stafnya, presiden akan segera ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengurai agar pelabuhan tak lelet dalam bongkar muat (dwelling time). Ia lalu sidak ke pelabuhan. Ditunggu sejam lebih tak muncul. “Lho di mana pak presiden?” tanya pejabat pelabuhan. “Masih tertahan di bea dan cukai,” jawab paspampres.

Cerita Jokowi tentang pemilu juga menghasilkan tawa. Lihat cerita di bawah ini tentang kemenangan Jokowi di dua provinsi di Papua. Seorang wartawan bertanya ke Kapolda Papua Tito Karnavian (kini Kapolri): “Kenapa pilpres di Papua Jokowi menang?” Tito Karnavian spontan menjawab, “Karena orang Papua mengira istri Jokowi orang Papua: Iriana.”

Kritik juga bisa diwujudkan melalu lelucon tentang relawan yang saat pilpres membantu kemenangan Jokowi-JK. Sebagian para relawan kini dekat dengan Istana. Coba simak lelucon ini. Presiden memerintahkan agar penghematan dilakukan di semua lini. Jangan membawa keluarga saat kunjungan kerja. Suatu saat Jokowi heran kenapa rombongannya begitu banyak. “Siapa yang membawa keluarga?” tanya Jokowi. “Mereka bukan keluarga atau kerabat pak, tapi relawan bapak,” jawab pengawal.

Membandingkan dengan presiden sebelumnya bisa kita temukan dalam lelucon “Museum in The Night”. Soekarno, Anggun dan Jokowi bertemu di Museum Madame Tussauds Hongkong. Mereka diskusi kenapa bisa berada dan bertemu sesama orang Indonesia di situ. “Kalau saya mungkin karena proklamator dan presiden pertama RI yang ikut membantu bangsa-bangsa lain merdeka,” kata Soekarno. “Kalau saya sih mungkin karena artis penyanyi Indonesia pertama yang mendunia,” ujar Anggun. Jokowi yang masih baru di situ agak bingung, “Saya sebenarnya nda enak berada di sini. Baru jadi presiden 2 tahun, padahal ada presiden yang lebih lama. Saya nda enak lho pak Soekarno dan mba Anggun….” Soekarno dan Anggun hampir bersamaan mengatakan, “Kita ini patung yang dibuat karena popularitas berdasar jajak pendapat masyarakat dunia tentang orang Indonesia tak perlu bingung Pak Jokowi….”.

Kritik melalui lelucon juga disampaikan Hariman Siregar, tokoh Malari. Dua minggu lalu ia datang ke Yogyakarta. Hariman mengaku saat ini dirinya anggota komunitas MPR (Mal Plasa Restoran) untuk melaksanakan MEONG (Makan Enak Omong Kosong). Kalimat itu tentu diucapkan dengan tertawa. Ngomong omong kosong saja jangan yang berisi. Hariman juga cerita seputar humor Istana. Cerita ini datang dari seorang menteri teman Hariman. Sebuah lelucon tentang betapa Menteri Rini sangat dipercaya Jokowi. “Kalau Rini yang umur 60an dan sudah tak menstruasi, mengatakan dirinya bisa hamil maka Istana akan percaya. Termasuk akan dipercaya juga jika bayi akan lahir dipercepat enam bulan….” kata Hariman sambil terbahak.

Tulisan ini saya akhiri dengan hilangnya naskah laporan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir. Konon dokumen itu hilang tak tak tahu rimbanya, padalah terakhir sudah diserahkan oleh TPF ke Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono dan disimpan di Sekretariat Negara. Entah siapa yang mencuri dokumen itu. Kita tentu tak bisa serta merta menuduh aparat SBY. Karena, bisa saja aparat Jokowi yang melakukan. Bukankah mantan Kepala BIN Hendroprijono kini dekat Istana? Untuk itu, mengutip SBY yang pernah mengatakan kasus pembunuhan Munir adalah test of our history. Maka mari kita test dengan pertanyaan: Siapakah yang bisa disamakan dengan Soeharto (penghilang naskah asli Supersemar). Apakah Jokowi atau SBY?

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR