Empat Mahasiswa Indonesia yang Ditahan Pemerintah Mesir, Hari Ini Kembali ke Tanah Air

Dubes RI untuk Mesir, Helmy Fauzi (foto dokumen)

Dubes RI di Cairo, Helmy Fauzi memastikan, ke empat mahasiswa Indonesia yang ditahan Pemerintah Mesir, dapat dipulangkan ke Indonesia pada hari ini, Sabtu (8/7). Menurutnya, mereka didampingi oleh staf KBRI, dan dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, pukul 09.00, Minggu (9/7).

“Dalam proses pemulangan ini keempat mahasiswa tersebut didampingi KBRI Cairo,” kata Dubes Helmy Fauzi, Sabtu (8/7/2017).

Helmy menjelaskan, ke empat mahasiswa yang ditahan sejak 6 Juni 2017 tersebut adalah  Rifai Mujahidin al Haq (Mahasiswa tingkat II, Fakultas Usuludin, Universitas Al Azhar, asal Balikpapan), Adi  Kurniawan (Mahasiswa S2 Al Azhar) asal dari Bandung), Achmad Affandy Abdul Muis (Mahasiswa Tingkat Pertama, Fakultas Syariah, Al Azhar asal  dari Lampung) dan Mufqi Al Banna (Mahasiswa Tingkat I, Fakultas Syariah, Jurusan Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar). Keempat mahasiswa tersebut terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Al Azhar, Cairo dan memiliki izin tinggal yang sah.

Helmy mengungkapkan, hingga saat ini KBRI Cairo belum pernah menerima pemberitahuan resmi dari Pemerintah Mesir mengenai latar belakang dan  alasan terjadinya penangkapan, meskipun  telah dilayangkan beberapa nota diplomatik ke Mendagri Mesir dan beberapa instansi terkait lainnya.

Helmy menjelaskan, KBRI juga tak pernah dapat notifikasi resmi kesalahan atau kejahatan apa yg dituduhkan kepada para mahasiswa Indonesia yang ditahan pemerintah Mesir tersebut. Pihak KBRI hanya mendengar pernyataan tidak resmi aparat keamanan, yang menyatakan bahwa keempatnya ditahan dan diperiksa secara intensif karena terindikasi membahayakan keamanan nasional Mesir.

“Ini suatu tudingan yang sangat sumir. Sejak awal terkesan kuat bahwa ke. empat mahasiswa tersebut pada akhirnya akan dideportasi meskipun memiliki izin tinggal resmi dan valid, serta terdaftar sebagai mahasiswa di Al Azhar. Hasil penyelidikan pihak Keamanan Nasional Mesir menetapkan keempat mahasiswa tersebut harus dideportasi,” ujarnya lagi.

Upaya KBRI terkait kasus penangkapan ini, KBRI telah melakukan sejumlah kunjungan ke kantor polisi di kota Samanud dan kota Aga untuk memberikan bantuan hukum kepada WNI dimaksud yang ditahan di kota tersebut. “KBRI telah melayangkan 4 (empat) nota diplomatik ke Kemlu Mesir dan beberapa instansi terkait di Mesir untuk segera membebaskan empat WNI dimaksud, karena status mereka masih menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar,” tandas Helmy. .

Helmy mengingatkan,  bahwa pihak Keamanan Nasional dan Kepolisian Mesir saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan razia atas terjadinya serentetan aksi terorisme. Aksi-aksi tersebut terjadi pada Gereja St. George di kota Tanta (9 April 2017), Gereja St. Markus di Alexandria (9 April 2017) dan penembakan pada konvoi bus yang membawa Jemaat Kristen Koptik di Kota Minya (26 Mei 2017).

Adapun jumlah korbam teror di Geteja St Grorge, sebanyak 28 orang meninggal. Sedang di Gereja St Markus, jumlah korban meninggal sebanyak 17 orang. Dan penembkan di Kota Minya, menyebabkan korban meninggal sebanyak 28 orang dan 26 terluka.

Pemerintah Mesir juga menyatakan “state of emergency” yang disetujui oleh Parlemen tanggal 10 April 2017 hingga 3 bulan ke depan. Saat ini status negara dalam keadaan darurat telah diperpanjang.

​​Selain itu, diperkirakan sudah sejak 7 tahun lalu pengajian diluar kota Cairo tempat para mahasiswa tersebut “nyantri” dan memperdalam ilmu agama, berada dalam monitor pihak Keamanan Nasional.

“Sheikh Besar Al-Azhar juga telah berkali kali mengimbau agar mahasiswa Al-Azhar harus belajar dan mengaji hanya dengan para Sheikh atau ulama dari Al-Azhar,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR