Faisal Basri: Tidak Ada Masalah Investasi Dalam Perekonomian Kita

Narasumber dalam diskusi yang bertajuk 'Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat Untuk Memperkuat Ekspor dan Neraca Pembayaran’ yang diselenggarakan di Kedai Tempo, Jakarta Timur, Rabu (14/8), dari kiri ke kanan: Sakti Wahyu Trenggono, Teddy Wibisana, Tosca Santoso dan Faisal Basri.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri mengingatkan agar pemerintah jangan sampai salah membaca persoalan yang terjadi dalam perekonomian Indonesia. Menurut Faisal, tidak ada masalah investasi dalam perekonomian kita, seperti yang selalu dikatakan pemerintah belakangan ini, tetapi masalahnya adalah tidak efisiennya penggunaan dana investasi tersebut.

Padahal, kesalahan dalam membaca persoalan, akan membuat kondisi perekonomian menjadi semakin bermasalah lagi. Hal tersebut disampaikan oleh Faisal Basri dalam diskusi publik betema ‘Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat Untuk Memperkuat Ekspor dan Neraca Pembayaran’ yang diselenggarakan di Kedai Tempo, Jakarta Timur, Rabu (14/8).

“Pertanyaannya apa benar pernyataan pak Jokowi: ‘Investasi akan dikejar dan hajar’. Pernyataan ini membuat kesan seolah investasi bermasalah. Ini sangat tidak benar. Saya heran kenapa pak Jokowi bilang itu. Investasi di kita baik-baik saja tidak jelek, tidak extraordinary juga,” ungkap Faisal

Dari data yang dimilikinya, Faisal yakin bahwa yang memperlambat pertumbuhan bukan investasi. Ia menegaskan bahwa investasi di Indonesia tertinggi di ASEAN, sebesar 32,3 persen terhadap PDB

“Karena menganggap bermasalah dalam investasi, maka BUMN (yang paling mungkin dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah), digenjot untuk terus berinvestasi. Akibatnya utang BUMN membludak, naik dengan tajam,” jelasnya.

Selain itu, masalah lain yang berakibat pada lambatnya pertumbuhan ekonomi, adalah tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio). Rasio ini menunjukan seberapa jauh tingkat efisiensi dalam perekonomian. ICOR Indonesia 6 sedangkan Vietnam sekitar 4.

“Berdasarkan data Bapemas, ICOR Indonesia tahun ini diprediksi sekitar 6 persen. Sementara berdasar riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat FE UI, rata-rata ICOR Indonesia pada 2014-2018 sebesar 5,88,” kata Faisal.

Menurutnya, jika ingin ekonomi tumbuh 7 persen maka turunkan saja rasio ICOR dari 6 menjadi 4.7. Ia kembali menjelaskan, selain tidak efisien, investasi kita juga tidak produktif.

“Investasi untuk mesin-mesin produksi hanya sekitar 10 persen. Mayoritas digunakan untuk bangunan, padahal bangunan tidak bisa diekspor,” ujarnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR