Fasilitasi Impor Bibit Sapi Indukan, Populasi Sapi Nasional Meningkat 1.116 Ekor

Populasi sapi import (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan)

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan populasi sapi, di antaranya dengan melakukan impor bibit sapi indukan. Dari rilis Biro Humas dan Informasi Publik Kementan terungkap bahwa fasilitiasi penambahan indukan impor dengan manajemen intensif ini dinilai berhasil meningkatkan populasi sapi dan akan terus dioptimalkan.

Berdasarkan hasil monitoring bulan November 2018, terdapat peningkatan populasi sebesar 1.116 ekor atau meningkat 17,65 % menjadi 7.439 ekor,” ungkap Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Sugiono, dalam keterangan pers, Jumat (16/11).

Pada tahun 2015 – 2016, Kementan memang telah melakukan impor bibit indukan dengan realisasi awal pengadaan sebanyak 6.323 ekor. “Indukan tersebut didistribusikan ke 229 kelompok di 48 kabupaten/kota yang tersebar di empat provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Timur,” jelas Sugiono.

Kementan, menurut Sugiono, menekankan pentingnya manajemen pemeliharaan, meliputi penyediaan pakan dan air, budidaya, kesehatan hewan dalam pengembangan sapi. “Pada prinsipnya pengelolaan secara intensif maupun ekstensif tidak menjadi persoalan dalam pengembangan sapi. Kualitas produktifitas dan reproduksi ternak sangat dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan,” tuturnya.

Pemeliharaan secara intensif dilakukan dengan memelihara ternak terus menerus di dalam kandang sampai saat dipanen. Seluruh kebutuhan sapi disuplai oleh peternak, termasuk pakan dan minum. Sementara pemeliharaan ekstensif dilakukan dengan menggembalakan sapi di padang luas. Pemeliharaan seperti ini biasanya terdapat di daerah-daerah yang mempunyai padang rumput yang luas, seperti di Nusa tenggara, Sulawesi selatan, dan Aceh.

Salah satu bukti pengembangan sapi secara intensif yang berhasil adalah praktik yang dilakukan oleh Koperasi Produksi Ternak Maju Sejahtera (KPT-MS) di Kab Lampung Selatan. Tercatat dari 100 ekor sapi Brahman Cross (BX) yang diterima pada tahun 2016, telah ada kelahiran sebanyak 87 ekor pada tahun 2018. “Hal ini menujukkan bahwa pemeliharaan intensif dapat dikembangbiakkan dan akan terus berkembang biak apabila dikelola dengan baik oleh penerima manfaat,” ungkap Sugiono.

Sugiono menambahkan pada tahun ni, Kementan akan mengimpor 6.000 ekor bibt sapi untuk menjadi indukan. Dalam pendistribusiannya, indukan sapi akan disebar ke tiga unit pelaksana teknis (UPT) yang membantu penyebaran sapi ke daerah. UPT tersebut BBPTU-HPT Baturraden Jawa Tengah, BPTU-HPT Sembawa, Sumatera Selatan, dan Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan.

Pengadaan indukan impor untuk BBPTU-HPT Baturraden sebanyak 1.270 ekor. Hingga saat ini sudah terealisasi 1.225 ekor dan sudah didistribusikan ke penerima manfaat di lima provnsi. Sementara pengadaan indukan impor BPTU-HPT Sembawa sebanyak 1.430 ekor. Direncanakan bulan November dan awal Desember 2018 akan didistribusikan ke penerima manfaat di 10 provinsi melalui pelabuhan Belawan dan Panjang.

“Selain Baturraden dan Sembawa, pengadaan indukan impor juga akan didistribusikan melalui BBVET Maros, sebanyak 3.300 ekor. Saat ini sudah pelaksanaan kontrak. Direncanakan pada minggu pertama bulan Desember sudah bisa didistribusikan ke penerima manfaat di sembilan provinsi,” tutup Sugiono.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR