Figur Protagonis Angkatan 45

Benny Moerdani dan M Yusuf panutan di angkatan 45 (foto istimewa)

Menjelang Hari Kemerdekaan tahun ini, bersamaan waktunya dengan meningkatnya kesadaran implementasi Pancasila pada level negara. Salah satu problem pengamalan Pancasila sejak dahulu adalah soal ketiadaan figur panutan.

Bagi generasi milenial, atau biasa disebut Generasi Y (mereka yang lahir mulai 1980-an), model rujukan menjadi penting. Generasi Y ini dikenal kritis, dan akrab dengan media sosial, sehingga opini apa pun yang tidak sesuai dengan aspirasi mereka akan dilempar ke media sosial. Terkait implementasi Pancasila, tanpa model atau panutan konkret, dikhawatirkan hanya akan ramai di media sosial, dan menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Beberapa figur berikut bisa dijadikan pertimbangan, meski baru sebatas figur militer.

M Yusuf dan Benny Moerdani

Sejak berdiri tahun 1945, TNI (khususnya Angkatan Darat) telah menghasilkan sekian ribu jenderal, mulai bintang satu (brigjen) hingga bintang empat (jenderal penuh), bahkan ada jenderal bintang lima. Namun dari sekian ribu jenderal itu, tidak banyak nama-nama jenderal yang tetap dikenang publik. Pada umumnya para jenderal-jenderal tersebut, dikenal masyarakat saat masih berdinas aktif saja, misalnya sebagai Pangdam atau pejabat di Mabes TNI dan Mabes TNI-AD. Jika telah memasuki masa pensiun, secara perlahan nama mereka mulai dilupakan orang.

Fenomena seperti itu terkesan alamiah, bahwa orang dikenal karena jabatan atau kekuasaannya. Dan kemudian mulai dilupakan, ketika ia lengser dari kekuasaan atau jabatannya. Dalam  pengamatan saya, setidaknya ada dua nama yang namanya selalu tersimpan di memori publik, yaitu Jenderal TNI Purn M Yusuf dan Jenderal TNI Purn Benny Moerdani.  Mereka pernah menjadi Panglima TNI secara berurutan, dan kebetulan saat meninggalnya pun hampir bersamaan, yaitu tahun 2004. Kini, jauh hari setelah keduanya meninggal, namanya masih sering disebut-sebut, sebagai figur yang layak dijadikan rujukan dalam bertindak.

Boleh dikata, keduanya adalah perwira legendaris, yang namanya akan senantiasa abadi, meski dengan cara berbeda. Yusuf akan selalu dikenang sebagai pimpinan yang sangat memperhatikan moril dan kesejahteraan prajurit. Salah satu cara Yusuf meningkatkan martabat prajurit TNI, adalah dengan modernisasi persenjataan TNI, seperti mendatangkan pesawat supersonik F-5E Tiger.

Sementara Benny akan dikenang dengan gaya kepemimpinannya yang efisien. Kita masih ingat, di masa Benny sebagai Panglima TNI (1983 – 1988), peringatan Hari TNI diselenggarakan dengan sederhana: tidak ada flypass pesawat, tidak ada  slagorde  pasukan dari luar Jakarta. Dan untuk para tamu, hanya dihidangkan sekotak snack dan teh dalam kemasan.

Terlebih dari itu, baik Yusuf maupun Benny, adalah garda terakhir dari Generasi Angkatan 45, sebuah generasi yang terlibat langsung dalam kancah Perang Kemerdekaan (1945 – 1949). Sebagian pengamat – dengan nada menyanjung – menyebutkan generasi mereka sebagai “generasi yang tidak pernah dilahirkan kembali”

Perwira Sederhana 

Tiga figur TNI lain yang layak dijadikan model dalam berperilaku adalah Kolonel Zulkifli Lubis, Mayjen Mung Parhadimulyo dan Mayjen Soerjosoerarso. Mereka adalah perwira yang tetap setia hidup bersahaja, di tengah gaya hidup hedonis para jenderal di masa Orde Baru. Gaya hidup hedonis yang dulu diperagakan para jenderal kroni Soeharto, masih meninggalkan jejaknya hingga sekarang.

Bila Jakarta hari ini, dipenuhi oleh elite politik dan para pengusaha yang lebih sibuk memamerkan kekayaannya, di akun media sosial mereka, tanpa rasa empati sedikit pun pada nasib rakyat, fenomena itu adalah bagian dari gaya hidup yang sudah dimulai sejumlah jenderal di masa Orde Baru dulu. Begitu hedonisnya seseorang,  sampai ada yang tega memanipulasi dana masyarakat untuk keperluan ibadah (dalam hal ini umrah), sebagaimana ditunjukkan pemilik usaha jasa umrah first travel.

Nama Kolonel Zulkifli Lubis sebagai Bapak Intelijen, mungkin sudah banyak dikenal orang, beda halnya dengan Mayjen Soerjosoerarso. Beliau adalah Komandan  Pussenkav (Pusat Kesenjataan Kavaleri) yang pertama, juga Gubernur AMN Magelang yang pertama. Istri beliau juga figur yang sangat terkenal, yaitu Gusti Nurul, puteri dari Istana Mangkunegaran, Solo, yang luar biasa cantik. Dengan latar belakang seperti itu, pasangan ini tetap hidup sederhana.

Kemudian Mayjen Mung Parhadimulyo, mantan Komandan RPKAD (kini Kopassus), soal gaya hidup sederhana dan disiplin (keras), tidak ada tandingannya. Berapa pun anggaran sisa perjalanan dinas, akan beliau kembalikan  pada kesatuan. Bahkan kabarnya sempat mengembalikan beras pembagian dari markas, karena beratnya dianggap berlebih. Adakah sekarang figur seperti ini?

Konseptor Sapta Marga 

Di masa tahun 1950-an dulu, ada juga perwira yang sangat sederhana, yaitu Kolonel Bambang Supeno. Hanya karena alasan yang sangat politis, ia  disingkirkan oleh KSAD (saat itu) AH Nasution. Walau begitu nama Kol Bambang Supeno akan terus dikenang, karena ia adalah konseptor “Sapta Marga”, meski hal itu hampir dilupakan orang. Sayang sekali figur Bambang Supeno terlalu cepat menghilang.

Sesuatu yang ironis terjadi, perwira-perwira yang berani hidup sederhana dan idealis, biasanya justru terpinggirkan posisinya, seperti nama-nama tersebut di atas. Itu sebabnya gagasan Presiden Jokowi tentang revolusi mental menjadi relevan, bagaimana membentuk manusia Indonesia untuk berani hidup sederhana.

Kiranya nama-nama mereka akan terangkat  kembali kelak. Oleh karena itu bagi anak-istri, sahabat dan kerabat para perwira tersebut, tidak perlu berkecil hati, karena nama ayah dan suami mereka, akan senantiasa tercatat dengan tinta emas.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat sosial dan militer. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR