Fornas Bhineka Tunggal Ika: Film LIMA, Mengisi Kekosongan Ruang Publik Dengan Nilai-Nilai Pancasila

Poster Film LIMA (Lola Amaria Production/Fornas Bhineka Tunggal Ika)

Ada kekurangan bahkan kekosongan niilai-nilai patriotik, kebangsaan dan Pancasila, dalam fillm-film yang mengisi ruang publik saat ini. Film nasional didominasi oleh film-film hiburan percintaan, horor dan komedi. Kekosongan nilai-nilai ini yang kemudian ingin diisi oleh Film LIMA.

Film karya bersama antara Fornas Bhineka Tunggal Ika dan Lola Amaria Production ini bercerita tentang kemampuan sebuah keluarga untuk menyelesaikan masalah dengan pendekatan sila-sila-sila di Pancasila.

“Ini film drama realitas sosial yang dibuat dalam upaya mengisi ruang kosong tentang kesadaran akan Pancasila,”┬ákata Taufan Hunneman, sekjen Fornas Bhineka Tunggal Ika..

Taufan mengungkapkan bahwa ia berharap film ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat, untuk lebih memperkuat rasa kebangsaan dan kebersamaan antar warga. Mengobarkan semangat Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pesoman hidup, menurutnya, masih sangat relevan.

“Film ini bisa menjadi inspirasi bagi semua kalangan, baik pemuda, pekerja, profesional, birokrat dan generasi milenial,” kata Taufan.

Ia menegaskan, bagi Fornas Bhineka Tunggal Ika, Pancasila merupakan faktor penting yang merekatkan keberagaman bangsa ini. “Maka terus menerus mengkampanyekan Pancasila merupakan tanggungjawab moral warga negara,” pungkasnya

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR