FPI, Ulil Abshar Abdalla, dan Ratna Sarumpaet

Berawal dari sebuah status Facebook yang saya tulis: “Ada yang menulis Ahok itu hebat, bisa mempertemukan Luna Maya dan Sophia Latjuba (suatu yang tak dilakukan Ariel Noah). Selain itu dia bisa menjadikan Ulil Abshar Abdalla (JIL) satu barisan dengan Habib Rizieq (FPI), (kata Asmuni Srimulat ini suatu hil yang mustahal). Sementara itu, tampaknya antara SBY dan Habib Rizieq kian menunjukkan kesamaan: sama-sama ingin ditemui Jokowi.” Lalu muncul pertanyaan dari beberapa kawan, mengapa Ulil dan Ratna bisa berubah begitu? Apakah perubahan besar itu karena Ahok atau FPI?

Mari kita lihat kiprah Ulil terkait dengan Front Pembela Islam. Pada Juni 2010, Ulil mendesak pembubaran FPI. Menurut aktivis Nahdlatul Ulama itu, FPI harus dibubarkan karena sudah melakukan kekerasan secara sistematis. Pembubaran FPI, kata Ulil, perlu dilakukan agar entitas itu bubar secara hukum. “Memenjarakan semua tidak bisa, tapi membubarkan entitas. Memenjarakan apakah yang bersangkutan melanggar hukum atau tidak,” kata Ulil. “Memang berdasarkan undang-undang, semua bisa berserikat, tapi berserikat melakukan kekerasan membahayakan.”

Ulil menjelaskan, di Turki ada partai Islam radikal yang dibubarkan. Kemudian ketika mantan-mantan aktivis partai Islam itu berkumpul dan mendirikan organisasi baru lagi, mereka menjadi moderat. “Menurut saya, FPI yang sekarang perlu dibubarkan dulu. Kalau berdiri lagi dimodifikasi dan dimoderasikan. Kalau berdiri lagi tidak apa-apa, tapi lebih civilized-lah,” ujarnya seperti dikutip Viva.co.id (28 Juni 2010).

Desakan pembubaran FPI muncul setelah pada 24 Juni 2010, sejumlah anggota FPI bersama massa ormas Islam lainnya membubarkan sebuah acara sosialisasi kesehatan yang diselenggarakan tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. FPI pusat tidak membantah ada anggotanya yang terlibat dalam aksi itu.

Dua tahun kemudian, Ulil, yang sekarang politisi Partai Demokrat itu, ikut dalam unjuk rasa membubarkan FPI di Bundaran Hotel Indonesia (RM Online, 14/2/2012). Dirinya setuju dengan tema yang diangkat: Indonesia tanpa FPI. Ulil membantah dirinya tangah memainkan isu kekerasan FPI untuk menggeser isu keterpurukan Partai Demokrat.

“Masalah FPI ini memang konsen saya sejak dulu. Ya mengenai ancaman terhadap pluralisme di Indonesia, kebebasan beragama, dan lain-lain. Sedangkan FPI ini adalah suatu organisasi yang menurut saya keberadaannya paling berbahaya dari sudut memelihara kebhinekaan negara kita,” kata dia.

Lain lagi kiprah Ratna Sarumpaet. Seniman dan aktivis perempuan ini melalui Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSRC) pada Februari 2013 membuat petisi lewat www.change.org ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri Timur Pradopo. Petisi yang sudah didukung 19,900 orang itu menyatakan: Bubarkan FPI, Atau Berhenti Jadi Presiden RI!

RSCC secara berkala menerima laporan masyarakat tentang kesewenang-wenangan/brutalitas FPI, baik pada mereka yang berbeda ideologi dengan FPI serta mereka yang tidak patuh pada keinginan dan ancaman-ancaman FPI. FPI tidak hanya menyasar mereka yang berbeda agama atau berbeda sikap beragama dengannya seperti apa yang menimpa gereja GKI Yasmin Bogor dan gereja HKBP Filadelfia Tambun Bekasi, penyerbuan FPI ke tiga Klenteng di Makassar, komunitas Budha di Lampung dan Bali serta rangkaian teror pada komunitas Ahmadiyah dan banyak lagi.

Komunitas seni, kesenian dan seniman, mulai dari tingkat tradisional, seni modern, kesenian pop juga sangat sering jadi bulan-bulanan FPI. FPI pun sangat berambisi mengatur jalan pikiran orang dan merasa berhak menentukan dan memaksakan standar moral yang berlaku, dan mereka yang menolaknya akan dinyatakan kafir, perusak moral, dan perusak alam semesta.

Menurut Ratna Sarumpaet, sejak 2005 (setahun setelah Presiden SBY dilantik), masyarakat menyaksikan dan media mencatat betapa, brutalitas FPI semakin memburuk dan menakutkan, akibat nihil/tidak adanya sikap dan wibawa pemerintah.

Ratna Sarumpaet menggunakan hak konstitusi sebagai rakyat: “Menyerukan pada seluruh rakyat Indonesia dan pada seluruh warga dunia betapa pentingnya Bapak (SBY) segera berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia”. Berhenti menjadi Presiden yang tidak punya hati. Berhenti menjadi Presiden yang tidak berwibawa. Berhenti menjadi Presiden yang tidak punya rasa tanggung jawab. Berhenti menjadi Presiden yang terus menerus berdalih. Segera membubarkan Front Pembela Islam.

“Musuh musuhku adalah kawanku”

Kini 2016, menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017, Ulil dan Ratna telah berubah. Adalah ucapan gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu yang diduga menista agama. Ahok adalah pemicu yang membuat FPI, Ulil dan Ratna bersatu. Bersatu padu melawan yang dianggap keliru. Ini seperti pepatah Arab, “musuh musuhku adalah kawanku”. Selain itu, orang tak menjadi heran ketika ingat mantra dalam dunia politik, “Tak ada kawan abadi dan tak ada musuh kekal. Yang ada adalah kepentingan.”

Jika kita membaca cuitan Ulil di twitter, sebenarnya apa yang dilakukan Ulil adalah semata kedudukannya sebagai anggota partai. Kebetulan partainya diuntungkan oleh sepak terjang FPI menggembosi Ahok sampai menjadi tersangka. Ulil mempraktekkan sebagai anggota partai yang baik. Tak bisa tidak selain mengikuti garis partai. Hal ini berbeda dengan aktivis JIL lainnya yang jauh lebih merdeka seperti Ahmad Sahal, Guntur Romli, Nong Darol, dan Luthfi Asyaukanie.

Ulil kini tak lagi darahnya halal diminum seperti pernah diserukan oleh orang-orang yang membencinya. Ulil juga tak lagi dikirimi bom buku oleh orang tak bertanggung-jawab. Kini partai Ulil dan FPI mempunyai tujuan sama mengalahkan Ahok dalam Pilkada 2017. Saya jadi teringat soal ancaman halal darahnya diminum. Jika itu ditujukan ke saya, maka saya akan sampaikan ke mereka yang haus darah itu, “Eh kamu orang, saya itu suka sekali minum wine dan bir, jadi darah saya haram lho….”

Bagaimana dengan Ratna? Tentu banyak perubahan pada dirinya. Ia selalu tampil berhijab dan berdiri di belakang Habib Riziek dan Munarman saat konperensi pers FPI dan ormas Islam lainnya terkait Ahok. Banyak kawan mengatakan Ratna telah mendapat “hidayah”, entah melalui Ahok atau Habib Rizieq. Ratna kini tak lagi memasalahkan daftar kekerasan yang dilakukan FPI sejak 2005 hingga sekarang, padahal 19.900 orang telah mendukung petisinya. Bagaimana jika, sekali lagi jika, presiden yang sekarang mampu membubarkan FPI, apakah Ratna akan menentang atau mendukung pembubaran FPI?

Sekali lagi, semua itu biang keroknya tak lain adalah Ahok. Ahok bisa membuat mesra Ahmad Dhani (Dewa 19) dengan FPI, padahal Ahmad Dhani pernah dilaporkan FPI ke Polda Metro Jaya karena sampul CD/kaset album “Laskar Cinta” dinilai menghina Islam. Ahok juga bisa memicu ratusan ribu orang berkumpul di Monas dan Bundaran Hotel Indonesia pada 4 Novemer 2016. Ahok pula bisa mengubah haluan para aktivis pro demokrasi menjadi agak ke Kanan.

Ahok memang selalu menohok!

BAGIKAN

2 KOMENTAR

  1. Apakah salah bila orang menjalankan perintah agamanya? Pancasila memberi ruang yang luas untuk itu. Karenanya yang patut dipertarnyakan adalah justru orang-orang yang mempertanyakan tindakan FPI dalam menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Satu peristiwa yang saya ingat di Desa Tonjong Kecamatan Bojonggede (sekarang Kecamatan Tajurhalang) Kabupaten Bogor tahun 2004. Prostitusi marak rumah-rumah penduduk dikelilingi warung-warung bordil dan mengancam pendidikan akhlak generasi mudanya yang terpapar pelacuran terang-terangan (tidak terselubung). Dan penegak hukum cuma jadi penonton, tak melakukan apapun.
    Lalu datanglah FPI hanya dengan pasukan yang diangkut dengan dua mobil bak terbuka, rumah-rumah bordil ditutup, para germo dan bekingnya diseret ke Polsek Tonjong kemudian dilakukan penyelesaian hukum sekaligus pernyataan untuk menutup lokalisasi itu untuk selama-lamanya, selesai dan amat elegan endingnya, tak perlu dana milyaran dari Taipan. Sampai saat ini kawasan itu sudah menjadi kawasan yang tenteram dan bersih kembali.
    Buat saya ketidaksukaan terhadap FPI adalah cetusan Islamofobia yang sok bicara dengan kedok hak asasi manusia.

  2. Aku nggak bisa tahu hati orang, apakah perubahaan sikap Ulil itu atas kesadaran atau ada kepentingan politik,

    demikian juga dgn Ratna.yang jelas bukan dari kehebatan Ahok. Yang pasti orang yg menerima kebenaran Al-Qur’an, termasuk di dalamnya meyakini kebenaran srt Al-Msidah 51 adalah orang2 yg beruntung, karena bila menolak kebenaran itu Allah kelompok mereka ke dalam kelompoknya orang2 dholim. Mudah2an Ulil, Ratna dan yg lainnya mendapatkan hidayah-Nya dan berjuang bersama2 utk menegakan dinul islam di muka bumi ini. Wamakaruu wamakarullah wallahu khoirul makirin.

Tinggalkan Balasan ke Mohamad Tanwir Batal membalas