Framing Presiden Pembohong

Presiden Joko Widodo di Istana Bogor (12/6). Saat ditanya warta tentang keinginan Amien Rais menjadi capres, respon Jokowi terhadap Amien Rais sangat positif.

Isu presiden pembohong terus dihembuskan kubu Prabowo, agar framing “presiden selalu berbohong” terbentuk di masyarakat. Maka tidak heran, makna target diplintir menjadi kebohongan, agar publik tidak bisa lagi bedakan antara target yg ingin dicapai dengan kebohongan. Tujuannya, untuk mengurangi tingkat kepercayaan publik terhadap Jokowi.

Untuk mencegah framing Presiden Pembohong itu menjadi persepsi yang semakin kuat di masyarakat, kubu Jokowi harus melawannya dengan terus menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Tegaskan pula, yang mereka katakan sebagai kebohongan itu sebenarnya adalah target.

Jelaskan, keinginan Jokowi untuk tidak impor, tidak utang dan tumbuh 7%, adalah target bukan kebohongan. Demikian pula keinginan presiden untuk mensetarakan gaji Kepala Desa dan Perangkat Desa setingkat PNS Gol II di bulan Maret 2019, itu target. Jika kemudian baru bisa direalisasikan di tahun depan, karena APBN tahun 2019 sudah disahkan dan tidak bisa mengalami perubahan. Jadi tidak bisa penundaan tersebut dikatakan sebagai kebohongan.

Dan jelaskan pada mereka contoh-contoh kebohongan yang nyata, yang justru dilakukan oleh kubu mereka. Seperti ukuran tempe di pasar makin kecil (setipis ATM), harga-harga kebutuhan hidup di pasar sangat tinggi, itu bohong. Nyatanya, data menunjukan inflasi di masa pemerintahan Jokowi terendah sepanjang masa.

Pernyataan bahwa kemiskinan naik 50%, dan 99% masyarakat Indonesia hidup pas-pasan, jelas itu kebohongan. Karena nyatanya data menunjukan bahwa jumlah orang miskin terus menurun, yang saat ini tinggal 9.8%. Jika mereka menggugat data yang digunakan, jelaskan itu data BPS, data yang sering mereka gunakan pula untuk menyerang pemerintah.

Dan jangan lupa ingatkan publik dengan kasus Ratna Sarumpaet. Bagaimana Ratna, pendukung utama mereka, berbohong dengan menyatakan lebam-lebam yang dideritanya akibat operasi plastik, dikatakannya karena dipukuli aparat. Itu bukan hanya bohong tapi sudah fitnah yang sangat keji terhadap pemerintah.

Jadi yang sebenarnya berbohong dan fitnah adalah mereka, yang memelintir (spin) makna target yang ingin dicapai menjadi kebohongan.

Mengapa mereka lakukan? Karena mereka ingin menjatuhkan karakter Jokowi, yang selama ini dikenal sebagai orang yang sederhana dan jujur (tidak korupsi). Dan untuk menjatuhkannya tokoh dengan karakter seperti itu, maka mereka hanya punya 1 jalan: Fitnah.

Spin tersebut dilakukan dengan intensif, sampai-sampai pendukung Jokowi pun tanpa sadar “termakan” isu itu. Contohnya, saat ada sebuah capain pembangunan yang diraih, pendukung Jokowi mengatakan: “Jokowi terbukti tidak bohong, pemerintah berhasil…” Pernyataan itu seolah menjawab bahwa Jokowi sebelumnya berbohong, dan saat sudah terealisasi, maka sudah tidak bohong lagi.

Harusnya pengungkapannya sebagai berikut: “Pemerintah berhasil mencapai target…”. Ini menguatkan kesan bawa pemerintah bekerja berdasarkan target.

Jokowi kalau menetapkan target memang luar biasa tingginya. Seperti capaian program perhutanan sosial (program distribusi akses lahan perhutanan untuk masyarakat), padahal sudah mencapai lebih dari 2,5 juta hektar atau sudah 500 persen dibanding capaian SBY dalam 10 tahun. Tapi dibanding target yang ia tetapkan kepada Menteri Kehutanian sebesar 12,7 juta hektar, itu baru 26% dari target.

Untuk apa Jokowi menetapkan target sebegitu tingginya? Bukankah itu justru akan membebani dirinya? Dalam sebuah media Jokowi pernah menjelaskan, Ia sengaja menetapkan target yang tinggi agar aparatnya mau kerja keras. Jika targetnya rendah, ujarnya lagi, akan membuat mereka menjadi santai.

Kembali ke framing presiden pembohong, plintiran-plintiran informasi itu memang membosankan, tapi justru kita tidak boleh bosan untuk terus melawannya, dengan terus menyanggahnya dengan data-data. Ini bukan sekadar pilpres, tetapi menjaga agar kebaikan tetap mendapat tempat, dan harapan tetap terjaga di hati masyarakat. Harapan agar Indonesia bisa terus dan terus menjadi lebih baik lagi.

Teddy Wibisana
Teddy Wibisana

Penulis: Teddy Wibisana, seorang profesional yang menjadi pemerhati masalah sosial dan politik

BAGIKAN

4 KOMENTAR

  1. @Mukijoitu bagian dari yang terkena framing atau memang tidak paham atau tudak mau paham. Jelas kok. Target meleset memang sedikit. Kita tumbuh 5.3 persen. Kesempatan kerja tumbuh 2 juta pertahun dalam 5 tahun ada 10 juta lapangan kerja.
    Lihat saja data. Kalau tidak mau lihat data pantes percaya Ratna Sarumpaet

  2. Target kebohongan bro. Janji yang tidak ditepati itu adalah kebohongan. Kalau target ya palibg meleset sedikit. Kalo nyomong Indonesia tidak ngutang nah itu jelas bohong besar.

TINGGALKAN KOMENTAR