Garda Muda Kabudaya Rangkul Tokoh Adat dan Tokoh Agama untuk Menangkal Radikalisme di Perbatasan

Garda Muda Kabudaya bersama Tokoh Adat dan Tokoh Lintas Agama, bersilaturahim untuk menangkal Radikalisme. Sabtu (17/6/2017)

Masyarakat di wilayah Nunukan sangat hetrogen, terdiri dari beberapa etnis dan agama. Dan wilayahnya yang juga berbatasan langsung dengan Kerajaan Malaysia, menjadikannya sebuah tantangan tersendiri bagi masyarakat di wilayah tersebut, untuk tetap menjaga keharmonisan dan utuhnya Kebhinekaan di daerah itu. Faktor-faktor tersebut yang membuat Garda Muda Kabudaya, organisasi pemuda yang beranggotakan para aktivis di Perbatasan, meningkat kesadarannya untuk menangkal radikalisme di perbatasan, yang mungkin akan muncul.

Meningkatnya kepedulian Garda Muda Kabudaya belakangan ini, terutama terkait kejadian terkini di Marawi, Filipina yang sampai saat ini masih bergejolak. Operasi Militer Philipina dalam menumpas Maute (kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS), akan berdampak masuknya para militan ke wilayah perbatasan di Nunukan.

Hal tersebut yang menyebabkan organisasi sayap dari Presidium DOB Kabudaya, menggalang kekuatan untuk menangkal radikalisme di perbatasan, dan paham-paham lain yang berpotensi pada aksi terorisme.

Bertempat di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Sabtu (17/6/2017), puluhan aktivis Garda Muda Kabudaya, mengadakan silaturahim dengan para pemuka agama dan para ketua adat diiwilayah Nunukan. Para pemuka agama dan adat tersebut berasal dari Kecamatan Sembakung, Kec. Sembakung Atulai, Kec.Sebuku, Kec.Tolin Onsoi, Kec.Lumbis dan Kecamatan Lumbis Ogong tersebut.

Ketua Umum Garda Muda Kabudaya, Heri Suprapto, kepada IndeksBerita.com mengungkapkan bahwa acara tersebut adalah awal bagian dari sosialisasi dalam menagkal radikalisme di perbatasan, serta paham-paham yang kontra terhadap Pancasila dan NKRI.

“Di Wilayah ini penduduknya adalah multi etnis dan multi agama. Toleransi disini sangat kuat dan keharmonisan antar warga sudah sedemikian erat. Jangan sampai paham-paham intoleran akan merusak tatanan masyarakat yang sudah ada,” tutur Heri.Andi Zakaria, anggota DPR KaltaraAndi Zakaria, anggota DPR Kaltara

Dengan dirangkulnya para pemuka agama dan tokoh adat, Heri berharap bahwa sosialisasi 4 pilar kebangsaan diwilayah yang notabene terpinggirkan dalam derap pembangunan tersebut akan semakin menjadi nafas sehari-hari penduduknya.

“Kami juga ingin menunjukan bahwa walaupun penduduk diwilayah ini terdiri dari berbagai latar belakang,namun kami tetap saling asah,asih dan asuh. Kami juga ingin membuktikan bahwa walaupun dari segi pembangunan,kami terbelakang,tapi kami siap menjadi yang terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI,” tegasnya.

Secara terpisah, Anggota DPRD Kalimantan Utara,Andi Zakaria sangat mengapresiasi niat para pemuda dan adanya silaturahim tersebut. Andi menuturkan bahwa wilayah perbatasan adalah daerah yang rawan menjadi pintu masuk pihak-pihak yang kontra terhadap NKRI.

“Saya mendukung penuh dengan apa yang dicita-citakan para Pemuda (Garda Muda Kabudaya-red) tersebut. Karena ini juga bagian dari counter terorisme dan sebagai antisipasi sekaligus menangkal rasikalisme di perbatasan, akibat masuknya militan ISIS di wilayah perbatasan khususnya di wilayah itu,” ujar Andi ,Sabtu (17/6/2017) di Nunukan.

Oleh karena wilayah yang saat ini tengah berjuang memekarkan diri menjadi Kabupaten Bumi Dayak Perbatasan itu adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan daratan Sabah-Malaysia, Andi juga berharap agar Pemerintah memberi suport pada niat baik masyarakat dalam mempertahankan 4 Pilar kebangsaan diwilayah itu.

“Seharusnya negara ini bangga, karena ditengah kompleksitas dan problema perbatasan yang mendera, masyarakatnya justru gigih mempertahankan kedaulatan dan martabat negaranya. Untuk itu,saya minta pada Pemerintah baik pusat dan Daerah,mari kita suport dan dukung mereka,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR