‘Gloria Warning’ Menantang Cinta Kita kepada Indonesia

Menjadi orang Indonesia itu mudah. Undang-undang telah cukup mengaturnya. Namun, bagaimana mencintai Indonesia tak termaktub di dalamnya. Perasaan itu begitu subtil dan penandanya bukan sekadar lembaran akta lahir, KTP, paspor, dan lain sejenisna, melainkan sebuah tarikan kesesuaian antara kesadaran, pikiran, ucapan, dan perbuatannya.

Peringatan Kemerdekaan Indonesia, sejatinya harus jadi momentum peringatan bagi kita tentang hakikat menjadi Indonesia dan sejauh mana telah mencintainya.

Dan bukan sebuah kebetulan, yang mengingatkan itu kali ini justru datang dari seseorang yang status ke-Indonesia-nya dipersoalkan, yakni Gloria Natapraja Hamel.

Kita tahu, Gloria terpaksa harus memupus impiannya sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada peringatan Kemerdekaan di Istana Merdeka, Jakarta. Karena paspornya, undang-undang memvonisnya sebagai warga negara asing atau WNA, bukan Warga Negara Indonesia. Tapi mari kita simak ucapannya yang penuh makna:

“Paskibraka adalah bagaimana kita mencintai negeri ini dari hati. Jika kita mencintai negeri ini dari hati, maka kita akan berusaha memberikan yang terbaik. Saya menghargai undang-undang. Undang-undang dibuat dari kita, oleh kita, untuk kita, itu kita hargai.”

Gloria telah mengingatkan kita bahwa salah satu cara mencintai Indonesia bisa dilakukan dengan sederhana, yaitu dengan menghargai hal penting yang mengatur kehidupan kita berbangsa dan bernegara: undang-undang. Ia dengan kesadaran penuh merendahkan dirinya di hadapan undang-undang, kendati karenanya impiannya sirna.

Sebaliknya, kecenderungan sebagian dari kita malah justru gandrung meninggikan dirinya di hadapan undang-undang. Kegandrungan itu bahkan dipertontonkan tanpa malu dan penuh kebanggaan. Seolah-olah produk hukum bernegara yang seringkali berharga milyaran itu sedemikian rendahnya dan tak berarti apa-apa.

Ironisnya, kita melihat segala bentuk pengangkangan undang-undang itu dilakukan secara telanjang oleh semua kalangan, mulai jalanan hingga di kantor-kantor pemerintahan.

Karena itu, kendati menyakitkan bagi Gloria dan sebagian dari kita, kebijakan pemerintah cq Menpora layak kita apresiasi. Bagaimanapun, undang-undang harus tetap tegak dan ditegakkan. Tak lain agar Ia menjadi arus besar dalam mengatur seluruh tata kelola Republik ini.

Hal itu juga sekaligus jadi pengingat tentang kesetaraan kedudukan, bahwa undang-undang tak menyisakan ruang keistimewaan apapun bagi seluruh warga negara.

Dengan kerangka itulah maka kita bisa sedikit berharap tentang hakikat, kehendak, dan keinginan yang secara alamiah tumbuh karena sejarah yang sama ketika menjadi Indonesia. Dan pada hari ini, untuk yang ke-71 kalinya kita mengingat kembali raison d’etre tersebut di tengah persoalan kekinian yang makin tak mudah dan menantang.

Indonesia memang belum sempurna dan mungkin tak akan pernah sempurna. Kualitas itu hanya ada dalam khayali tentang negeri dongeng. Indonesia, sebagaimana negra-bangsa lainnya, adalah entitas yang lahir dari dan berkembang untuk mengatasi segala kontradiksi yang dimilikinya.

Namun, selama puluhan tahun, Negeri ini justru seperti orang yang sedang memperkosa dirinya sendiri.

Padahal, apa yang kurang dalam keseluruhan fakta tentang ke-Indonesia-an. Kita punya Konstitusi, Undang-undang, serta ribuan jenis aturan parsial dan lokal lainnya. Bentang alam dari Sabang sampai Merauke dan Mianggas sampai Pulau Rote, juga menampung begitu banyak khasanah yang dapat memampukan kita untuk berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan sebagai sebuah bangsa.

Fakta itulah yang membuat Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, dan seluruh founding fathers yang kita cintai, dengan ikhlas telah mencurahkan pikiran, waktu, tenaga, dan bahkan mengorbankan nyawa ketika menggurat takdir untuk Indonesia.

Atas jasa mereka, kini kita punya banyak hal berharga. Kekurangannya, kita mungkin masih perlu waktu untuk menumbuhkan patriotisme, serta belajar untuk merasa malu ketika berbuat sesuatu yang merugikan atau mempermalukan Negeri ini.

Hal itu penting, karena upaya dan perilaku kita sekarang akan membentuk Indonesia seperti apa bagi generasi berikutnya.

Dan dari dunia yang digelutinya, Gloria sudah mengingatkan kita tentang bagaimana mencintai negeri ini dari hati, dengan sederhana, dan sepenuh hati.

Mari kita rayakan Kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan tetap berbuat yang terbaik untuk menyelesaikan tiap persoalan dan tantangan yang sedang dan akan menghadang kita sebagai satu bangsa.

Terima kasih Indonesia. Terima kasih Gloria. Merdeka! Merdeka! Merdeka!

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR