Grace Natalie: Politik itu Baik jika Diurus oleh Orang-orang Baik

Wawancara Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) (Foto: Teddy Wibisana / Indeksberita.com)

Publik mulai mengenalnya ketika menjadi anchor di salah satu televisi swasta di Jakarta. Politik kemudian menariknya dari dunia jurnalistik. Sejak 2014 lalu, Grace menjabat sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai baru yang menasbihkan dirinya sebagai partai kaum muda Indonesia.

Dalam suasana santai di sela-sela kegiatan partainya, Rabu (17/02/2016), Grace Natalie menuturkan seputar apa dan siapa PSI kepada Teddy Wibisana dan Nanang Pujalaksana dari indeksberita.com. Berikut petikannya:

Indeksberita: Grace, Apa fokus PSI saat ini?

GN: Sesuai undang-undang, kita sedang kerja keras mengejar terpenuhinya syarat administratif untuk lulus verifikasi sebagai organisasi partai politik di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Target kita, setidaknya pada pertengahan tahun ini. Sehingga paling lambat November 2016 ini akan keluar pengumuman kemenkumham tentang lulus atau tidaknya partai kami.

Sejauh ini, bagaimana perkembangannya?

Kami bersyukur bahwa PSI dapat diterima masyarakat, terutama oleh kalangan anak muda yang menjadi target kami. Saat ini, kepengurusan di tingkat provinsi sudah mencapai 100%, sementara untuk tingkat kabupaten dan kecamatan, dari hasil verfikasi internal kami sudah 80%-90%.

Anda merasa persyaratannya berat?

Berat sekali. Tapi kita kan harus patuh pada undang-undang. Syaratnya memang makin berat. Persentase kepengurusan makin tinggi. Termasuk domisili kantor atau sekretariat partai yang harus di ibukota kabupaten atau kecamatan. Selain itu, kriteria pengurus yang kami terapkan juga menambah berat proses itu. Misalnya berusia di bawah 45 tahun dan belum pernah menjadi pengurus harian di partai politik. Sekarang hampir 70% dari jumlah pengurus di tingkat kecamatan yang telah tercatat usianya berkisar 20-30 tahun. Sisanya di atas itu.

Karena itu pula banyak yang bilang PSI ini demanding, apakah memang seperti itu?

Mungkin begitu ya…hahaha. Wajar saja kalau ada pendapat begitu. Tapi gagasan kita adalah karena ingin membangun lanskap politik dengan SDM yang lebih baik di masa depan. Jauh lebih mudah mengawali segala sesuatunya dengan yang bersih seperti selembar kertas putih, daripada yang sudah berwarna dan terkontaminasi.

Apa kelebihan dan kekurangan dari kriteria itu?

Kelebihannya mereka masih idealis, semangatnya tinggi, dan energinya luar biasa. Itu membuat mobilitas teman-teman kami menjadi mudah. Satu hal, adanya kesadaran mereka untuk ambil bagian saja merupakan hal positif yang patut kita apresiasi. Namun harus diakui faktor itu juga secara tidak langsung menyisakan PR buat kita. Terutama karena pengalaman politik mereka yang masih rendah. Untuk itu program kami selanjutnya adalah membina teman-teman ini. Jadi selain kerja keras, kita juga akan kerja cerdas.

Dengan fakta tentang kewilayahan Negara kita yang begitu luas, perkotaan-pedesaan, juga kelas-kelas sosial, apa yang dilakukan PSI untuk menjangkau publik, khususnya mereka yang non menengah-atas dan non perkotaan?

Sejauh ini, media sosial masih menjadi sarana komunikasi utama kami dengan masyarakat. Cara itu mudah dan murah. Memang belum bisa menyasar semuanya. Apalagi untuk kalangan masyarakat tadi. Dengan segmentasi sasaran pemilih kami dari kaum muda, kami terus mencoba memperkuat komunikasi dengan mereka. Mereka pada umumnya terdidik dan well informed. Apalagi jumlah pemilih muda pada 2019 nanti diperkirakan lebih dari 50%. Dan pada tahun itu diperkirakan 75% pemilih sudah menggunakan internet sebagai salah satu sumber informasi mereka. Apalagi anak muda. Kebanyakan mereka tidak bisa lepas dari interaksi dengan medsos. Bahkan sejak bangun tidur pun yang pertama kali mereka lakukan adalah buka HP atau laptop. Untuk jangka panjang, sosialisasi dengan cara yang kami tempuh selama ini selain murah juga terukur.Tentu kami juga mempertimbangkan penggunaan media konvensional seperti tv dan media cetak untuk menjangkau kalangan di luar itu, terutama bagi pemilih yang tinggal di wilayah pedesaan.

Bagaimana mengukurnya? Bukankah sulit mengidentifikasi tentang “siapa” di dunia maya?

Memang salah satu kelemahan medsos adalah soal itu. Orang bisa punya puluhan akun, atau bahkan lebih dari itu. Ada kelompok lovers, haters juga ada. Tapi kita sudah punya tools untuk memilahnya. Dari frekwensi dan nadanya dapat dipola mana yang real dan mana yang fake atau palsu.

Selain media sosial, apakah ada pendekatan lain?

Ya, antara lain pendekatan personal. Jujur, keterlibatan figur-figur tertentu sangat membantu teman-teman kami di daerah-daerah. Bahkan itulah senjata utama pengurus di sana. Misalnya dalam rekrutmen pengurus, atau membantu meyakinkan orang tua teman-teman untuk menggunakan rumah mereka jadi sekretariat partai.Teman-teman itu kan masih muda, rata-rata belum punya rumah. Jadi mereka harus kerja keras meyakinkan para orang tuanya. Dan kita mengharapkan merekalah yang nanti menjadi inti untuk menggerakkan roda partai.

Tentu ada dana besar untuk keperluan itu?

Tidak ada. Tidak ada dana yang dialokasikan khusus untuk itu. Ini sebetulnya menjadi salah satu cara PSI mengedukasi masyarakat bahwa partisipasi masyarakat bisa membuat partai politik sehat. Tidak seperti saat ini. Masyarakat hanya disapa lima tahun sekali saat mau pemilu atau pileg dan kemudian disodori pilihan caleg-caleg yang belum tentu sesuai dengan pilihan masyarakat. Setelah itu, masyarakat diabaikan. Padahal, di tengah masyarakat banyak orang baik, tapi tidak punya ruang untuk berperan karena dananya pas-pasan. Merekalah yang seharusnya didorong. Bukan cuma mereka yang punya uang.

Dalam spektrum idiologi kepartaian, PSI tentu punya platform tertentu yang ditawarkan kepada masyarakat?

Coba hitung berapa persesn sih pemilih yang menentukan pilihannya karena idiologi. Artinya, hal itu penting tapi nggak signifikan mempengaruhi pilihan para pemilih. Apalagi untuk anak-anak muda. Mereka mungkin bingung kalau ditanya apa itu idiologi. DI PSI, kita menyebutnya DNA. DNA PSI adalah keragaman dan kebajikan. Kita menganggap itu adalah asal segala kebaikan. Sederhana saja. Jadi biar orang tidak seperti baca buku Karl Marx yang tebal-tebal.

Satu kata tentang kondisi Indonesia sekarang?

Ruwet!

Siapa yang paling bertanggung jawab?

Saya tidak mau menunjuk pihak-pihak tertentu. Mungkin saja kita semua terlibat. Karena itu kita semua punya tanggung jawab memperbaikinya. Daripada tunjuk sana-sini lebih baik kita mulai mengambil peran masing-masing sesuai dengan kemampuan kita. Kalau kita banyak mengeluh, tidak akan ada perubahan.

Di titik itulah PSI relevan untuk hadir?

Ya. Sebelumnya itu tak terbayangkan. Pilihan kami tetap di luar atau masuk ke partai-partai yang ada. Tapi kami kemudian putuskn mendirikan partai.  Karena dengan begitu peran kita bisa lebih leluasa. Sekecil apapun, itu adalah awal dari perubahan.

Walau anda dan teman-teman muda di PSI minim pengalaman politik?

Kita mengalir saja. Tentu agenda penting selanjutnya adalah kaderisasi atau pendidikan politik buat merek. Kita sedang memikirkan tools dan formatnya yang tepat. Karena anak muda sekarang kan beda dengan generasi jaman dulu. Mereka rata-rata nggak suka baca dan lebih suka yang virtual-virtual. Selain itu mereka juga cenderung lebih independen, ingin memutuskan sendiri apa yang mereka ingin lakukan. Jadi mau tak mau kita harus menyesuaikan dengan nature-nya mereka.

Apakah nature seperti itu jadi keuntungan atau kekurangan bagi PSI?

Itu tantangan. Jangan dilupakan juga anak muda itu cenderung kritis.

Selain soal kemudaan, apa hal lain yang jadi pembeda PSI dibanding partai lainnya?

Di PSI itu tidak ada tokoh. Bukan karena itu tidak penting. Kami hanya tidak ingin menjual kektokohan seseorang atau attached dengan tokoh-tokoh tertentu. Apalagi sekarang, tokoh nasional kita kan itu-itu saja. Jadi, menu untuk itu akan kita buat terbuka melalui masyarakat. Karena tak ada tokoh juga membut kita jauh lebih leluasa untuk dekat dengan pihak manapun atau dengan siapapun. Plus minusnya memang ada sih.

Hal lain?

Kita membagi-bagi kekuasaan. Tapi bukan dalam arti negatif ya. Ini tentang berbagi peran saja antara pengurus di pusat dan daerah. Kebijakan strategis tentu ada di pusat. Pelaksanaannya di daerah. Itu merupakan salah satu kewajiban pengurus daerah, selain kewajiban untuk mandiri dalam pendanaan dan operasional kepengurusan masing-masing. Timbal baliknya mereka punya hak, misalnya menentukan pencalegan nanti, termasuk menentukan daerah pemilihannya.

Anda sendiri siap jadi tokoh?

Belum ada agenda ini-itu dalam rencana politik pribadi saya, termasuk rencana untuk jadi caleg parlemen pada 2019 nanti. Saat ini saya hanya fokus mengantarkan saja partai ini sejauh mungkin.

Tapi anda bahagia dengan peran anda saat ini?

Sejauh ini, it’s fun.

Jadi lebih menyenangkan ketimbang sebagai jadi wartawan?

Saya lebih memilih yang sekarang. Tapi yang pasti latar belakang saya sebagai wartawan sangat membantu, terutama saat harus berhubungan dengan banyak kalangan. Jejaring itulah yang jadi asset saya selama ini.

Satu hal yang positif tentang Indonesia?

Orang Indonesia pada dasarnya baik-baik.

Itu yang membuat anda optimis PSI bisa berkembang?

Ya. Politik dan partai politik akan baik jika dikelola oleh orang-orang baik.***

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR