Gunung Salak dan Kekayaan Wisata

Foto: Pak Ado / Eko Octa

PESONA Gunung Salak menjadi ikon wisata Bogor. Dibalik kemolekan indahnya gunung tersebut, tersimpan kisah mistis. Gunung yang memiliki tiga puncak ini berulangkali menunjukan bukti alam bisa ramah, dan terkadang marah.

Bagi para pendaki, kegarangan Gunung Salak sudah akrab dikenal. Daftar panjang pendaki yang hilang, dan pesawat jatuh merupakan beberapa isyarat untuk tidak pernah meremehkan alam. Masyarakat setempat percaya, Gunung Salak tersebut merupakan Tempat persembunyian Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, raja terakhir Kerajaaan Padjadjaran.

Mereka meyakini, Prabu Siliwangi beserta Kerajaan Padjadjaran dan prajuritnya menghilang secara misterius di Gunung Salak setelah terdesak pengaruh Islam yang disebarkan anaknya sendiri, Kian Santang.

“Gunung Salak memang indah bagi wisatawan. Keindahan alamnya dan panorama hijau serta banyak obyek wisata membuat pengunjung rindu untuk datang kembali. Tapi, sudah banyak yang tahu, Salak dikenal angker dan sering minta korban,” tukas Ahmad Ado, petani penggarap Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, saat diwawancarai indeksberita.com, Sabtu (13/2/2016).

Gunung Salak yang menjadi batas antara Sukabumi dan Bogor ini memang kaya dengan lokasi wisata dengan banyaknya air terjun alami yang seolah mengelilingi gunung ini. Sebut saja diantaranya seperti Curug Cigamea, Curug Seribu, Curug Ngumpet, Curug Pangeran, Curug Nangka, Curug Luhur, dan lainnya.

“Di punggung Gunung Salak terdapat kawah luas yang dikenal Kawah Ratu. Bau belerang dan pepohonan kering menjadi daya tarik banyak pendaki,” tutur warga setempat, yang mengenalkan diri dengan panggilan Mamat.

Pantauan media online ini, saat akhir pekan di musim hujan ini, terbilang hanya puluhan orang yang berniat mendaki menghabiskan waktu berlibur di gunung tersebut. Umumnya, pengunjung bisa mencapai ratusan yang mengunjungi kawah yang berada di ketinggian 1.437 mdpl ini hanya sekadar untuk menikmati keindahan pemandangan dan aktifitas geologi di Kawah Ratu.

Saat hujan turun, Gunung Salak terkesan hilang ditelan awan dan membuat jalur menuju Kawah Ratu sulit dilalui.

“Medan sulit ini membuat Gunung Salak sering menjadi lokasi latihan kelompok-kelompok pecinta alam hingga militer,” tuntas Mamat. (eko)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR