Haidar Alwi: Radikalisme Berbahaya Bagi Indonesia yang Majemuk

Haidar Alwi, pendiri Aliansi Relawan Jokowi menegaskan bahwa faham radikalisme berbahaya bagi Indonesia yang sangat majemuk. Keberagaman suku bangsa, budaya, dan kepercayaan, yang menjadi modal sosial bangsa ini, menurut Haydar akan dipecah belah oleh orang-orang yang menganut faham radikalisme.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara diskusi yang bertema Acaman Radikalisme bagi Keutuhan NKRI, pada hari Rabu (17/7) di Gedung Juang Menteng-Jakarta Pusat. Dalam kesempatan tersebut Haidar juga mengingatkan bahwa faham radikalisme terus berkembang dengan cepat di semua segmen kehidupan masyarakat.

“Tidak ada yang tidak terpapar radikalisme. Paham ini telah merasuki kehidupan sosial masyarakat. Bahkan termasuk di lembaga negara,” ujar Haidar.

Menurut Haidar, kelompok radikal tersebut telah memanipulasi agama. “Nilai utama agama itu kasih sayang. Mereka telah mengubahnya menjadi alat untuk menyalurkan kebencian,” tukas Haidar.

Haidar kemudian mengingatkan, bahwa kaum radikal itu hendak menguasai bangsa ini melalui budaya luar yang disamarkan sebagai kewajiban agama. Salah satunya menurut Haidar adalah dalam penggunaan bahasa dan berpakaian.

“Bahasa Arab dimanipulasi sebagai bahasa agama, dan seolah wajib digunakan. Jubah, itu budaya Arab bukan kewajiban agama,” tegas Haidar.

Pernyataan Haidar diamini oleh Ray Rangkuti, penggiat sosial yang juga pengamat politik, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi ini. Ray melihat bahwa radikalisme itu bukan sikap masyarakat kita.

“Radikalisme pada dasarnya digunakan untuk kepentingan politik. Tujuannya untuk kekuasaan,” ujarnya.

Ray sepakat bahwa radikalisme harus diwaspadai. Tapi ia yakin bangsa Indonesia memiliki kearifannya sendiri. “Kita sudah melewati pilkada Jakarta dan Pilpres yang penuh politik identitas. Semuanya berakhir dengan aman,” kata Ray

Faturahman seorang budayawan Sunda, dalam kesempatan berikutnya menjelaskan, bahwa bahaya radikalisme itu tidak akan mendapat tempat jika kita memperkuat kebanggaan terhadap bahasa dan budaya di setiap suku bangsa yang ada. Menurutnya, tanpa suku-suku yang ada di Indonesia, maka bangsa Indonesia tidak ada.

“Mari kita bangga dengan bahasa daerah kita masing-masing. Bangga dengan pakaian daerah kita masing-masing,” ujarnya.

Diakhir diskusi semua peserta diskusi sepakat bahwa faham radikalisme harus diwaspadai dan dicegah penyebarluasannya. Mereka mendukung dan mendorong pemerintah untuk menindak tegas setiap tindakan radikalisme dengan konsisten.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR