Harapan Pada Figur TNI dalam Pilkada

Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

Majunya sejumlah figur TNI dalam Pilkada serentak 2018, dan figur Polri, baik yang masih aktif maupun yang sudah purnawirawan, menarik perhatian publik. Beberapa figur dimaksud antara lain adalah Mayjen Purn Sudrajat (Cagub Jabar), Pangkostrad Mayjen TNI Edy Rahmayadi (Cagub Sumut), Irjen Pol Murad Ismail (Kepala Korps Brimob, Cagub Maluku), dan seterusnya.

Salah satu yang perlu disiapkan adalah soal mental, yakni siap menghadapi kemenangan, dan lebih utama lagi siap menghadapi kekalahan. Sudah cukup pengalaman, seorang figur militer tidak selalu sukses dalam pilkada, meskipun namanya sempat diunggulkan.

Salah satu yang masih segar dalam ingatan adalah kekalahan Mayor Inf Purn Agus Harimurti Yudhoyono dalam Pilkada Gubernur DKI pertengahan 2017 lalu. Nama-nama jenderal yang akan maju dalam pilkada kali ini, juga tokoh yang sudah dikenal prestasinya, hingga diasumsikan akan menambah tingkat elektabilitasnya.

Era demokrasi telah memberi ruang pada siapapun untuk berekspresi dan menyampaikan aspirasi, termasuk bagi yang ingin menggapai kekuasaan. Ruang itu juga berlaku bagi mantan anggota TNI atau Polri, terlebih mantan anggota TNI dan Polri sudah terbiasa dalam olah kepemimpinan. Tentunya segala jabatan itu harus diraih dengan cara yang demokratis pula.

Antara Pemimpin dan Penguasa

Majunya sejumlah figur militer dalam
pilkada, mengingatkan kita pada kisah sukses SBY sebagai Presiden lebih dari satu dekade lalu. Tampilnya SBY memberi sinyal, ternyata rakyat tidak terlalu alergi pada figur militer, bahkan masih menaruh harap.

Pengalaman SBY bisa dijadikan rujukan bagi mantan anggota militer yang ingin menjadi pejabat publik. Aspirasi yang logis, mengingat hasil survei menyebutkan, dibanding elemen masyarakat lain, seperti parpol, ormas atau birokrasi, citra TNI masih lebih baik.

Di era demokrasi sekarang, yang diharapkan rakyat dari figur militer adalah sikap bijaknya sebagai pemimpin, bukan tipe pemimpin yang bertumpu pada kekuasaan semata. Wacana kepemimpinan adalah hal biasa bagi mereka yang pernah dididik sebagai perwira. Karena lembaga pendidikan calon perwira, seperti Akmil, AAL , AAU dan Akpol, selalu diasumsikan sebagai sekolah untuk calon pemimpin. Oleh karenanya tidak mengherankan bila SBY, Prabowo Subianto, dan purnawirawan lainnya begitu fasih berbicara tentang gagasan kepemimpinan, karena memang sudah terlatih sejak masih taruna dulu.

Seperti yang pernah ditunjukkan oleh mantan Panglima TNI Jenderal TNI Purn Moeldoko (lulusan terbaik Akmil 1981), sebagai eksponen generasi baru TNI pasca-1945, sempat menyumbangkan pemikiran tentang gagasan kepemimpinan, ditulis menjelang promosinya sebagai perwira tinggi tahun 2006 lalu. Salah satu poin penting pemikiran Moeldoko adalah, dia mengintrodusir nilai (prinsip) “militansi” dalam kepemimpinan, khususnya di TNI. Istilah militansi yang biasanya berkonotasi negatif, karena identik dengan gerakan ekstrem, oleh Moeldoko istilah itu ditafsirkan kembali, sebagai bersemangat tinggi.

Sementara contoh terbaik figur militer sebagai penguasa, bisa kita lihat pada sosok Soeharto. Adalah Soeharto yang mampu memanfaatkan dengan sempurna, posisinya sebagai jenderal Angkatan Darat untuk menopang kekuasaannya. Hampir dua dasawarsa setelah dirinya lengser, bayang-bayang Soeharto masih terasa dalam politik Indonesia hari-hari ini.

Warisan penting Soeharto adalah membangun supremasi militer (khususnya Angkatan Darat) dalam lanskap politik di Tanah Air, di sepanjang masa kekuasaannya (1966-1998). Meskipun sudah tidak sebesar dulu lagi, peran politik militer masih menentukan. Ini pula salah satu alasan figur militer untuk bertarung dalam pilkada.

Salah satu cara Soeharto dalam mempertahankan kekuasaannya, adalah dengan memelihara konflik di antara pendukungnya sendiri. Pada suatu masa, memelihara konflik internal ini sempat memperoleh istilah elegan: menjaga keseimbangan. Meskipun secara empirik tidak ada perbedaan mendasar di antara dua istilah tersebut. Semua itu bisa terjadi, karena Soeharto sendiri saat meniti menuju singasananya, juga menggunakan pendekatan konflik, dengan dia sendiri sebagai pelaku aktifnya.

Arus Balik Figur Militer

Kepemimpinan militer masih menjadi salah satu model terbaik dalam mengelola sebuah lembaga. Kepemimpinan militer dianggap lebih siap karena dukungan lembaga pendidikannya, dalam setiap jenjang jabatan, selalu dibarengi proses pendidikan, mulai dari tingkat Akademi Angkatan, Suslapa, Sesko Angkatan, hingga Lemhanas.

Ada masanya TNI dihujat demikian keras, dan secara perlahan kepercayaan publik bisa diperolehnya kembali. Berlebihankah bila kita menyebut TNI sebagai anak emas bangsa ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tentu saja tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa TNI merupakan lembaga super. Namun, mengingat potensinya yang besar, ada momentum dimana TNI bisa melakukan perbaikan, khususnya pada wilayah yang berkaitan dengan pemulihan martabat bangsa. Salah satunya dengan cara tidak ikut larut dalam budaya korupsi dan berebut jabatan, yang tarafnya sudah sangat memalukan.

Salah satu prinsip kepemimpinan militer adalah keteladanan, seorang pemimpin (komandan) tanpa keteladanan, adalah pemimpin tanpa kharisma, yang hanya akan menjadi bahan tertawaan anak buah. Proses terpilihnya (mantan) Presiden SBY, sebagai salah seorang dari “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” versi majalah Time, bisa terjadi karena SBY memenuhi kriteria, sebagai purnawirawan jenderal yang dapat mempengaruhi orang banyak.

Laksamana Muda Purn Freddy Numberi pernah menulis dalam biografinya, terkait
dengan konsep kepemimpinan,: “…. bila
terjadi kemacetan dalam satu bagian dari sistem organisasi, dan pemimpin itu tidak paham di bagian mana yang macet dan bagaimana memperbaikinya, cepat atau lambat, ia akan menuai badai kegagalan di kemudian hari.”

Narasi itu seperti mengingatkan kembali tentang tanggungjawab moral seorang pemimpin, sebagaimana acapkali dikatakan, bahwa jabatan adalah amanah, bukan untuk kebanggaan diri dan keluarganya. Sejarah telah memberi cukup pelajaran, bila seorang pemimpin abai terhadap rakyat yang dipimpin, pada gilirannya nanti, rakyat yang mengabaikan pemimpinnya.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR