HELP on Water and Disasters di New York, Bahas Pembentukan Pusat Penelitian Likuifaksi

Pertemuan High-Level Experts and Leaders Panel on Water and Disaster di New York (25/6)

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang juga Wakil Ketua High-Level Experts and Leaders Panel (HELP) on Water and Disasters, menghadiri pertemuan 4th UN Special Thematic Session on Water and Disasters di Markas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Senin (24/6/2019) siang. Dalam sambutannya Menteri Basuki menyatakan bahwa Indonesia saat ini tengah menaruh perhatian serius untuk mengembangkan Pusat Penelitian Likuifaksi.

Informasi tersebut kami peroleh dari rilis yang dikeluarkan oleh Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR. Menurut Menteri Basuki, adanya kebutuhan untuk mengembangkan Pusat Penelitian likuifaksi, belajar dari terjadinya bencana gempa di Provinsi Sulawesi Tengah pada akhir September 2018 yang diikuti dengan tsunami dan likuifaksi.

Peristiwa fatalistik itu tengah menarik minat para anggota HELP untuk mengkaji lebih jauh. Menteri Basuki menjelaskan lagi, Pusat Penelitian Likuifaksi ini nantinya akan melibatkan banyak praktisi internasional.

“Pusat Penelitian likuifaksi dengan melibatkan banyak praktisi ini akan diberi nama “Nalodo Center”. Kata “Nalodo” berasal dari bahasa lokal di Kota Palu-Sulteng, yang berarti terkubur lumpur atau tanah yang tenggelam,” kata Menteri Basuki.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljanto dalam pertemuan HELP on Water and Disaster membahas perlunya dibentuk Pusat Penelitian Likuifaksi
Menteri PUPR Basuki Hadimuljanto dalam pertemuan HELP on Water and Disaster membahas perlunya dibentuk Pusat Penelitian Likuifaksi

Letak Indonesia di sabuk vulkanis (ring of fire), membuat Indonesia rentan dengan bencana gempa dan tsunami, yang menimbulkan kerugian yang besar, baik dalam bentuk korban jiwa maupun materi. Hal ini lanjut Menteri Basuki, membuat pemerintah Indonesia tidak hanya fokus mencari penyebab bencana namun juga perlu mencari solusinya lewat penelitian, sebagai langkah mitigasi agar Indonesia lebih aman dan tangguh bencana.

Dikatakan Menteri Basuki, tujuan utama dari dibentuknya Nalodo Center adalah untuk meningkatkan pemahaman terkait likuifaksi melalui penelitian yang maju dan inovatif, termasuk pengembangan dan penyebaran sistem teknologi canggih penanganan likufikasi. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dunia khususnya untuk negara-negara yang mungkin memiliki kondisi geologis serupa seperti Palu.

“Lewat pusat penelitian tersebut, diharapkan dapat dihasilkan penelitian likuifikasi yang semakin kaya dan berkualitas tinggi di seluruh dunia,” ujar Menteri Basuki.

Untuk diketahui, HELP on Water and Disaster yang kini dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Korea Selatan Han Seung So merupakan salah satu panel tenaga ahli yang memberikan masukan bagi Sekretariat Jenderal PBB bidang pengelolaan sumber daya air dan penanggulangan bencana. Pertemuan ini dihadiri oleh para pengambil keputusan, pucuk pimpinan pemerintahan, para ahli dan praktisi dari berbagai negara, seperti Jepang, Belanda, Korea Selatan, Australia hingga negara-negara Afrika.

Turut mendamping Menteri Basuki yakni Duta Besar dan Wakil Tetap RI untuk PBB Dian Triansjah Djani, Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Hari Suprayogi, Direktur Utama PT. Adhi Karya Budi Harto Harjo Sudarmo, Presiden NARBO (Network of Asian River Basin Organizations) Imam Santoso dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR