Humaniora Foundation Santuni Para Janda Pemulung

Humaniora Foundation Santuni Para Janda Pemulung

Merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-22 tahun, bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan 1438 H, Humaniora Foundation, memilih kegiatan sosial yang menyejukkan hati para janda yang berprofesi sebagi pemulung.

“Kebenaran kitab suci ini (al Quran) bukan hanya terletak pada teks (al Kitab), melainkan menjelma menjadi budi baik – amal nyata, dan metafora pribadi yang memiliki empati; merasakan denyut penderitaan orang lain,” ujar Pendiri dan Ketua Umum Humaniora Foundation, Eddie Karsito, di acara santunan para janda lanjut usia yang berprofesi sebagai pemulung, di Rumah Batik Arinanda, Kranggan Cibubur, Jakarta, Jum’at (16/06).

Lembaga sosial nirlaba ini didirikan oleh seniman yang juga wartawan, Eddie Karsito, beserta para seniman dan budayawan lain yang menjadi koleganya, sejak awal telah bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan, kajian sosial budaya, seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi secara gratis.

“Yayasan ini melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air. Antara lain sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara, dan produser,” ujar Eddie Karsito, yang juga budayawan, aktor film dan bintang sinetron ini.Eddie Karsito, Ketua Humaniora FoundationEddie Karsito, Ketua Humaniora Foundation

Humaniora Foundation, juga membina para dhua’fa, ratusan pemulung, serta anak yatim dan fakir miskin, yang dikelola di dua Rumah Singgah Bunda Lenny, Bekasi (Cibubur Jakarta), dan di Baleendah Bandung, Jawa Barat. Yayasan ini memberi perhatian lebih, khususnya kepada para janda lanjut usia yang berprofesi sebagai pemulung. Antara lain warga masyarakat penduduk asli (Betawi-Sunda) yang tinggal tak jauh dari sekretariat yayasan, di Kelurahan Jatisampurna Bekasi, berbatasan dengan kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

“Seiring semakin pesatnya urban growth mereka kurang siap berkompetisi. Umumnya para generasi tuanya buta huruf, dan anak-anaknya enggan melanjutkan sekolah. Kurang siap dengan laju pengembangan kota, akhirnya mereka ada yang jadi pemulung. Sebagian jadi buruh cuci-gosok, pengangkut sampah, penjaga keamanan, hingga tukang ojek,” papar Eddie Karsito, mengenai warga binaannya.

Melalui divisi usaha, Humaniora Foundation, kini menjalin kerjasama dengan pengusaha Batik Arinanda Pekalongan, dan produksi Batik Nusantara lainnya, membuka rumah promosi Batik di Jakarta. “Usaha ini tidak semata-mata bisnis. Tapi bagian dari komitmen kami menjaga dan melestarikan budaya, khususnya Batik. Dari usaha ini diharapkan yayasan dapat lebih mandiri dan tidak tergantung pada donatur untuk membantu para dhua’fa yang selama ini telah kami bina,” terang Eddie.

Humaniora Foundation, terang Eddie, benar-benar mandiri dan independen. Belum pernah menerima sumbangan dari Pemerintah. Kecuali sumbangan pribadi dari para dermawan, yang umumnya berprofesi sebagai artis, seniman, dan pebisnis di industri kreatif.

“Para donatur tersentuh oleh keadaan. Memberi dengan kerelaan tanpa diminta. Penyerahan santunan pun sangat praktis dan taktis. Donatur menyerahkan langsung bantuannya kepada para dhuafa,” ujar Eddie.

Pada Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-22 – tahun 2017 ini, Humaniora Foundation menyerahkan sumbangan dana tunai Tunjangan Hari Raya, serta kain dan pakaian Batik untuk berlebaran.

Ketua Bidang Sosial Humaniora Foundation, Lee Sandie Tjin Kwang, membagikan sumbangan tersebut kepada 50 orang pemulung janda lanjut usia. Sumbangan tersebut antara lain bantuan dari Rumah Promosi Batik Arinanda Cibubur, DAP Production, Triardhika Production, Yayasan Swargaloka, serta Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH) pimpinan Ageng Kiwi.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR